Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kegiatan pengapalan produk ekspor Indonesia. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Kegiatan pengapalan produk ekspor Indonesia. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Wajah Ekspor Kita

Selasa, 16 November 2021 | 10:57 WIB
Invetsor Daily

Kinerja ekspor nasional kian meyakinkan. Nilai ekspor Oktober 2021 mencapai US$ 22,03 miliar, naik 6,89% dari bulan sebelumnya dan melonjak 53,35% dibanding Oktober 2020 (year on year/yoy). Secara kumulatif, nilai ekspor Januari–Oktober 2021 mencapai US$ 186,32 miliar, melesat 41,80% (yoy). Sekitar US$ 176,47 miliar di antaranya berasal dari ekspor nonmigas yang naik 41,26%.

Yang cukup menggembirakan, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan pada Januari–Oktober 2021 meningkat 35,53% (yoy). Kenaikan ekspor manufaktur selaras dengan impor bahan baku/penolong dan barang modal. Nilai impor bahan baku/penolong pada Januari–Oktober 2021 mencapai US$ 33,33 miliar, naik 39,64%, sedangkan nilai impor barang modal meningkat 19,50% menjadi US$ 3,65 miliar dibanding periode sama 2020.

Naiknya ekspor manufaktur, di satu sisi, dan meningkatnya impor bahan baku/penolong dan barang modal, di sisi lain, adalah bukti bahwa sektor produksi bernilai tambah sudah kembali bergulir setelah tersendat akibat pandemi Covid-19. Ini merupakan modal yang amat penting bagi proses pemulihan ekonomi ke depan, mengingat industri berkontribusi 77,16% terhadap total ekspor.

Tak kalah menggembirakan, permintaan di dalam negeri juga meningkat. Hal itu ditunjukkan oleh impor barang konsumsi yang mencapai US$ 4,05 miliar pada Januari–Oktober 2021, naik 34,81% dibanding periode sama tahun silam. Kenaikan impor barang konsumsi membuktikan ekonomi domestik sedang menggeliat.

Sejalan dengan meningkatnya kinerja ekspor nasional, neraca perdagangan Indonesia juga terus membaik. Dengan nilai ekspor US$ 22,03 miliar dan impor US$ 16,29 miliar, neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2021 mengalami surplus US$ 5,73 miliar. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Oktober 2021 membukukan surplus US$ 30,80 miliar.

Menilik kinerja ekspor manufaktur nasional pada Oktober 2021, tak ada keraguan sedikit pun bahwa perekonomian Indonesia sudah kembali melaju. Apalagi saat perekonomian nasional tumbuh 3,51% pada kuartal III-2021 (yoy), industri manufaktur menjadi sumber pertumbuhan tertinggi berdasarkan lapangan usaha, sebesar 0,75%.

Meski demikian, data-data ekspor bulan lalu tak sepenuhnya mulus. Banyak PR yang belum diselesaikan pemerintah. Salah satunya adalah neraca perdagangan migas yang terus digerogoti defisit. Pada Oktober lalu, defisit perdagangan migas mencapai US$ 872 juta, sehingga neraca perdagangan migas secara kumulatif Januari-Oktober 2021 mencatatkan defisit US$ 9,27 miliar.

Defisit perdagangan migas akibat tingginya impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) harus diwaspadai karena nilainya bisa terus membengkak seiring meningkatnya konsumsi di dalam negeri saat ekonomi pulih. Apalagi harga minyak mentah terus merangkak naik dan diperkirakan bisa menembus US$ 100 per barel dibanding saat ini US$ 79,74 (WTI) dan US$ 81,08 (brent).

Defisit perdagangan migas tak boleh dianggap enteng. Jika defisit terus meningkat, cadangan devisa akan tergerus, sehingga nilai tukar rupiah bisa terpuruk. Risiko depresiasi rupiah akibat defisit perdagangan migas merupakan ancaman serius karena Bank Setral AS, The Fed, bakal segera mengurangi pembelian obligasi (tapering) yang dapat memicu arus modal keluar (capital outflow). Tekanan dari dua sisi --defisit migas dan capital outflow– sungguh berbahaya.

Untuk memangkas  impor migas, pemerintah harus terus menekan konsumsi BBM di dalam negeri, di antaranya dengan meningkatkan dan memperluas program B30 (campuran 30% fatty acid methyl ester/FAME dari olahan minyak sawit dan 70% solar), mendorong penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT), dan mempercapat proyek kendaraan listrik.

Untuk mengurangi impor minyak dan BBM, pemerintah juga harus mempercepat pembangunan dan pengoperasian kilang-kilang minyak Pertamina agar bisa mengolah minyak mentah lebih masif di dalam negeri. Kecuali itu, pemerintah harus lebih serius mendorong penggunaan kendaraan umum, dibanding kedaraan pribadi, terutama di kota-kota besar.

PR lain pemerintah yaitu melakukan reformasi struktural di sisi ekspor. Pada Oktober lalu, ekspor hasil tambang dan lainnya melambung 87,70%. Ekspor hasil tambang yang meningkat luar biasa membuat kita miris karena yang diekspor adalah sumber daya alam (SDA) mentah (belum diolah), seperti batu bara, pasir besi, bijih timah, bijih bauksit, bijih tembaga, bijih emas, bijih perak, dan bijih mangan.

Ekspor hasil tambang mentah atau setengah jadi (konsentrat) harus segera dihentikan. Bahan tambang harus terlebih dahulu diolah menjadi produk jadi di dalam negeri untuk memberikan nilai tambah tinggi terhadap perekonomian, baik dari sisi penerimaan negara, cadangan devisa, lapangan pekerjaan, maupun industri ikutan. Kebijakan pemerintah membatasi ekspor bijih nikel harus diperluas ke komoditas lain.

Tingginya ekspor hasil tambang dan industri manufaktur adalah paradoks bagi sektor pertanian. Pada Oktober 2021, ekspor hasil pertanian hanya naik 5,17%. Kenaikan ekspor sektor lain yang tak sepadan dengan sektor pertanian jelas mencemaskan karena sektor pertanian adalah daging perekonomian Indonesia. Dari total angkatan tenaga kerja, 29,8% di antaranya diserap sektor pertanian.

Tertinggalnya sektor pertanian dari sektor lain juga terkonfirmasi oleh kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) yang hanya mencapai 13%. Masuk akal jika mayoritas kelompok rumah tangga miskin (46,3%) menurut sumber penghasilan utama berasal dari kelompok pertanian. Itu sebabnya pula, tingkat kemiskinan di Tanah Air masih terpusat di perdesaan.

Kita akan terus menagih janji pemerintah yang akan melakukan reformasi struktural melalui hilirisasi di sektor pertambangan dan pertanian untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Pandemi bukan alasan untuk menunda janji. Apalagi jika sebelum pandemi, janji itu tak kunjung terealisasi. 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN