Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seroang petugas mengoperasikan Pembangkit Tenaga Listrik Panas Bumi (PLTP)

Seroang petugas mengoperasikan Pembangkit Tenaga Listrik Panas Bumi (PLTP)

Inovatif Memperkuat Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 18 November 2021 | 08:05 WIB
Investor Daily

Perekonomian dipastikan tumbuh kuat kuartal terakhir tahun ini, setelah mereda gelombang kedua lonjakan kasus Covid-19 akibat varian Delta. Banyak indikator menopang proyeksi tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi nasional sebenarnya sudah mulai bangkit dari zona resesi kuartal II lalu, dengan pertumbuhan menembus 7,07%. Namun, merebaknya varian Delta yang sangat menular membuat pemerintah harus menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Juli lalu, sehingga pertumbuhan pada kuartal berikutnya turun ke 3,51%. Sedangkan pada kuartal I-2021 ekonomi masih kontraksi 0,71%.

Kebijakan PPKM berhasil menurunkan kasus positif baru Covid-19 tiga bulan terakhir, sehingga mobilitas kembali pulih dan ekonomi mulai melaju. Sejumlah indikator menunjukkan penguatan, seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), penjualan ritel, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur, serta peningkatan ekspor maupun impor.

Survei Bank Indonesia (BI) mencatat, IKK pada Oktober lalu mencapai 113,4, naik signifikan dari level 95,5 di bulan sebelumnya. Indeks di atas 100 sudah masuk zona optimistis.

Penjualan ritel pada Oktober 2021 juga diperkirakan telah meningkat. Indeks Penjualan Riil (IPR) menguat ke 193,0, naik dari 189,5 di September lalu.

Demikian pula dengan PMI Manufaktur Indonesia. IHS Markit mencatat, indeks PMI ini pada Oktober lalu melejit ke 57,2, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Sebelumnya, pada Juli lalu, indeks sempat tergelincir dalam ke 40,1, meninggalkan zona ekspansi di atas 50.

Perbaikan ekonomi juga terefleksi dari kondisi pasar keuangan di dalam negeri. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) mengalami perbaikan dan ada penurunan spread dari US Treasury. Pada awal Juli 2021, spread sempat mencapai 512 basis poin (bps), sekarang tinggal 449 bps.

Pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2021 diperkirakan kembali melaju tembus 6,13%, sehingga pada tahun ini masih bisa 4%. Pemulihan ekonomi diproyeksinya berlanjut dan mencapai lagi level 5% tahun depan.

Tentunya, proyeksi itu dengan syarat protokol kesehatan tetap dijalankan dengan ketat, dan vaksinasi massal dipercepat. Jangan sampai terjadi gelombang ketiga pandemi Covid-19 di Tanah Air, seperti di banyak negara lain dan bahkan ada yang sudah gelombang keempat.

Maka itu, kita jangan sampai lengah menjaga protokol kesehatan. Kita harus ingat, selama dua tahun pandemi ini, rakyat sangat menderita. Pemerintah pun harus mengorbankan dana pembangunan untuk dialihkan ke Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN), dan ini juga harus ditambah utang lebih besar, karena penerimaan pajak merosot.

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang saat krismon 1998 bisa menjadi penyelamat ekonomi nasional, kini juga sangat menderita akibat pembatasan mobilitas dan kegiatan ekonomi. Artinya, pemulihan ekonomi yang solid mensyaratkan intervensi kuat dari pemerintah maupun otoritas yang lain untuk memercepat pemulihan kembali UMKM, yang merupakan mayoritas pelaku usaha dan penyerap tenaga kerja di Tanah Air.

Mengingat UMKM ini tidak banyak memiliki simpanan, mereka tentunya butuh bantuan untuk kembali membuka usaha pascarelaksasi pembatasan kegiatan ekonomi. Dalam kondisi kegiatan usaha banyak yang terhenti atau jauh dari normal, tentu saja stimulus dari pemerintah masih dibutuhkan, business follow stimulus.

Tahun lalu, pemerintah tercatat telah mengucurkan dana Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Rp 579,8 triliun, dan tahun ini dianggarkan Rp 744,5 triliun. Namun, tahun depan, stimulus langsung dipangkas separuh lebih, tinggal menyisakan Rp 321 triliun.

Tentunya langkah itu tidak bijaksana, mengingat kita tidak tahu apakah tahun depan pandemi Covid-19 sudah berakhir. Oleh karena itu, stimulus terutama untuk UMKM dan industri strategis yang memiliki multiplier effect tinggi tetap harus dilanjutkan, seperti di sektor properti dan otomotif. Apalagi, berdasarkan Undang-Undang (UU) No 2 Tahun 2020, defisit APBN masih bisa lebih dari 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga tahun depan.

Di tengah kondisi pandemi yang masih terjadi, tentunya juga bukan saatnya menaikkan pajak, yang dipastikan kontraproduktif terhadap pemulihan UMKM dan dunia usaha secara luas. Ujung-ujungnya, jika pemulihan kegiatan usaha terhambat, kenaikan penerimaan pajak yang diinginkan juga tidak terjadi.

Oleh karena itu, langkah yang perlu dilakukan adalah pemerintah harus lebih kreatif dan inovatif mengalang pembiayaan yang peluangnya kini sangat besar, misalnya lewat green bonds yang menjadi tren dunia. Surat utang global di jalur hijau ini diproyeksikan menembus rekor US$ 500 miliar tahun 2021.

Kekuatan tren dunia tersebut bukanlah omong kosong. Pada semester pertama tahun ini, investasi hijau yang terkait dengan penanganan perubahan iklim itu sudah menembus US$ 227,8 miliar secara global. Pasar green bonds ini sangat menjanjikan, mengingat total emisi tahun 2020 baru sebesar US$ 297 miliar.

Trennya juga akan terus menguat. Bahkan, pada 2023 emisi green bonds diproyeksikan sudah mencapai milestone US$ 1 triliun.

Untuk itu, omnibus law UU Cipta Kerja yang didedikasikan untuk terobosan kemudahan perizinan dan usaha di Tanah Air harus benar-benar diimplementasikan dengan baik. Oknum di pusat maupun daerah yang menghambat harus ditindak tegas, karena mengkhianati rakyat yang membutuhkan masuknya investasi besar-besaran untuk menyediakan jutaan lapangan kerja dan memangkas kemiskinan yang naik akibat pandemi. Komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% tahun 2030 dan hingga 41% dengan bantuan internasional, juga harus benar-benar dijalankan dengan roadmap yang jelas dan komprehensif.

Daerah-daerah juga harus dilibatkan dalam pembangunan proyek-proyek strategis untuk menjaga suhu bumi tidak naik lebih dari 1,5 derajat celcius ini. Misalnya, dalam pembangunan pembangkit listrik panas bumi yang belum banyak dimanfaatkan, padahal cadangan kita terbesar di dunia.

Pembangunan proyek-proyek energi terbarukan itu juga harus diintegrasikan dengan kebijakan memperkuat struktur ekonomi dengan hilirisasi sumber daya alam, seperti pembangunan industri baterai dan kendaraan listrik dari hulu hingga hilir. Namun, tentu saja, upaya ini juga harus dicarikan solusi kreatif agar tidak mengkhianati industri yang sudah ada.

 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN