Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi komoditas CPO. (Foto: Kemenperin/Beritasatu.com)

Ilustrasi komoditas CPO. (Foto: Kemenperin/Beritasatu.com)

Hilirisasi Sawit

Jumat, 19 November 2021 | 11:30 WIB
Investor Daily

Publik dan sebagian besar orang masih memiliki persepsi bahwa Indonesia paling getol mengekspor barang mentah. Yakni komoditas yang kurang memiliki nilai tambah.

Tudingan ini biasanya dialamatkan kepada komoditas pertambangan, perkebunan, pertanian, dan perikanan. Pengusaha dinilai hanya mencari gampangnya tanpa mau bersusah-payah mengolah lebih lanjut yang memerlukan investasi besar.

Kondisi itulah yang membuat Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan menegaskan perlunya hilirisasi. Hilirisasi akan menjadi fokus pemerintah ke depan. Bahkan Presiden menyebut ba kal ada larangan ekspor bahan mentah, meski tidak disebutkan kapan bakal diberlakukan.

Produk sawit termasuk yang menjadi korban salah persepsi. Orang mengira bahwa produk yang diekspor sebagian besar adalah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Anggapan itu boleh jadi benar, kalau yang dijadikan patokan adalah sebelum tahun 2010, ketika ekspor produk sawit didominasi CPO. Namun dalam satu dekade terakhir terjadi perubahan signifikan.

Dalam lima tahun terakhir, porsi ekspor produk CPO hanya di bawah 20%, selebihnya adalahproduk sawit olahan. Bahkan tahun ini, hingga akhir September, ekspor CPO hanya mengontribusi 9%, sedangkan 91% adalah produk olahan.

Untuk produk olahan, Indonesia sudah mampu memproduksi 21 juta ton produk oleo kimia. Ekspor produk oleokimia juga terus meningkat. Pada 2018, devisa dari ekspor oleokimia tercatat sebesar US$ 2,3 miliar, tahun lalu naik jadi US$ 3,8 miliar, dan tahun ini diyakini tembus US$ 4 miliar.

Fakta itu memperlihatkan bahwa hilirisasi telah terjadi di industri sawit. Salah satu faktor yang mendorong hilirisasi adalah kebijakan pemerintah. Lewat kebijakan pungutan ekspor (PE) dan bea ke luar (BK), pelaku usaha sawit justru terpacu untuk membuat produk olahan. Sebab, tarif pungutan ekspor maupun bea keluar yang diberlakukan cenderung lebih menguntungkan bagi produk hilir.

Semakin hilir sebuah produk, tarif yang diberlakukan semakin rendah. Bahkan, perbedaan (gap) tarif antara CPO dan produk olahan sangat besar, sehingga mendorong program hilirisasi berjalan alias on the track.

Meski demikian, masih ada ‘kelemahan’ dari produk hilir sawit yang kita ekspor. Antara lain, belum terdiversifikasi ke produk turunan yang lebih canggih. Sebagian produk olahan juga belum memenuhi standar internasional, sehingga harus diproses lagi oleh Negara pengimpor. Namun harus diakui bahwa kadang memang itu justru merupakan permintaan negara pengimpor, sebagai strategi untuk menekan harga.

Justru kondisi seperti itu menjadi tantangan, sekaligus peluang. Peluang untuk menarik investasi di produk-produk hilir atau turunan sawit yang lebih canggih dan memenuhi standar Negara-negara maju.

Di sinilah terdapat potensi besar untuk mengundang investor dari negara-negara pengimpor utama produk sawit kita, terutama mereka yang memiliki teknologi lebih canggih.

Dalam konteks itu, pemerintah perlu memberikan insentif terhadap investasi yang fokus pada produk-produk turunan untuk lebih menyukseskan program hilirisasi yang digaungkan belakangan ini. Pemerintah juga perlu menetapkan standar dan regulasi agar mampu menghasilkan produk yang memenuhi standar mutu dan keamanan pangan yang diakui global.

Hilirisasi memang sebuah keniscayaan. Hal ini bukan saja dapat memberikan nilai tambah sehingga sebuah produk bernilai tambah tinggi, namun juga menciptakan lapangan pekerjaan baru. Dengan hilirisasi, kita dapat menciptakan produk yang berdaya saing tinggi, dibanding produk bahan mentah yang acap kali terlalu didikte pasar. Hilirisasi akan menciptakan struktur industri yang kuat dari hulu ke hilir, sehingga dapat mengakselerasi trans formasi ekonomi. Sawit adalah keunggulan yang kita miliki, sehingga harus benar-benar kita jaga dan terus di kembangkan. Ekspor sawit tahun lalu mampu mendulang devisa lebih dari US$ 23 miliar, dan berpotensi tembus US$ 30 miliar tahun ini.

Indonesia adalah produsen sawit terbesar dunia, menguasai 50% pangsa pasar global. Minyak sawit menguasai 36% pasar minyak nabati global, dan perannya bakal terus meningkat. Banyak produk pangan yang bahan bakunya tak tergantikan selain sawit. Industri sawit nasional juga menyumbang 3,5% produk domestik bruto (PDB), dan mampu menyerap sekitar 16 juta tenaga kerja langsung maupun tidak langsung.

Kontribusi terhadap kas negara pun sa ngat signifikan lewat setoran bea keluar dan pungutan ekspor. Pungutan ekspor yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPD-PKS) bakal menembus Rp 63 triliun pada akhir tahun ini.

Dana ini sebagian dikembalikan untuk mengembangkan industri sawit, termasuk meremajakan perkebunan sawit rakyat dan subsidi untuk program biodiesel. Minyak sawit juga berkontribusi besar menurunkan impor minyak, yang menjadi penyebab besarnya defisit neraca perdagangan migas Indonesia. Lewat program mandatori biodiesel dari minyak sawit B30, Indonesia bisa memangkas impor setara 9 juta kiloliter solar pada 2020, sehingga menghemat US$ 2,9 miliar atau sekitar Rp 40,6 triliun.

Meski sudah banyak kemajuan dan kontribusi yang disumbangkan industri sawit dari hulu ke hilir, masih banyak pekerjaan rumah yang mesti dibenahi. Terutama bagaimana mewujudkan produk turunan sawit yang lebih canggih sesuai tuntutan pasar internasional, yang berkualitas premium atau nomor satu. Dibutuhkan inovasi-inovasi produk baru, dan itu membutuhkan investasi dan teknologi. Dengan demikian, produk sawit kita akan semakin kompetitif dan mengalahkan minyak nabati nonsawit. Seiring dengan itu, seluruh pelaku, terutama di hulu, harus memastikan bahwa industri sawit dikelola secara berkelanjutan alias ramah lingkungan. Sebab, isu itu sangat sensitive di pasar global dan dijadikan senjata untuk menjatuhkan produk sawit kita.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN