Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Karyawan melintas di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Optimisme 2022

Selasa, 23 November 2021 | 19:48 WIB
Investor Daily

Hari-hari ini, beberapa pekan menjelang pergantian tahun, bangsa ini bergerak penuh semangat dengan ekspektasi tinggi. Berbagai indikator perekonomian menunjukkan tren positif yang semakin memperkuat sinyal-sinyal kebangkitan dan pemulihan perekonomian.

Di pasar finansial, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menorehkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, di level 6.723,4. Tahun ini juga pasar modal membukukan kinerja positif dari sisi jumlah perusahaan yang go public maupun nilai dana yang diraih. Tertinggi dalam sejarah, juga tertinggi di lingkungan Asean. Mobilisasi dana di pasar modal pun mencapai lebih dari Rp 300 triliun.

Rezim suku bunga rendah dan likuiditas yang berlimpah mendorong ekspansi kredit mulai pulih, ditopang oleh relaksasi restrukturisasi kredit yang difasilitasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Kredit yang di semester pertama masih kontraksi, kini berangsur positif dan diprediksi bisa tumbuh 5-6% tahun ini.

Permintaan kredit korporasi terus menguat hingga akhir tahun. Fundamental makro juga bertabur sentimen positif. Transaksi berjalan yang selama ini selalu defisit besar dan menjadi momok perekonomian, kini sudah positif US$ 4,5 miliar. Neraca pembayaran Indonesia (NPI) bahkan surplus cukup tinggi pada kuartal III-2021, sebesar US$ 10,7 miliar.

Surplus NPI dan transaksi berjalan tersebut terutama ditopang oleh surplus perdagangan barang yang terus melesat. Selama Janu ari-Oktober, neraca perdagangan surplus sebesar US$ 30,8 miliar. Susutnya defisit neraca jasa juga turut andil dalam memperbesar surplus NPI dan transaksi berjalan.

Sangat jarang terjadi, tiga indikator tersebut berada dalam posisi sama-sama surplus. Biasanya, transaksi berjalan cenderung defisit.

Kinerja yang positif tersebut membuat cadangan devisa kita hingga akhir September mencapai US$ 146,9 miliar.

Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional. Tingginya cadangan devisa akan memperkuat fundamental ekonomi dari guncangan eksternal.

Laju inflasi tetap terjaga rendah. Kurs rupiah relatif stabil. Defisit anggaran juga lebih rendah dari target awal. Hingga akhir Oktober 2021, defisit APBN hanya Rp 548,9 triliun atau setara 3,29% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Hingga tutup tahun, defisit diprediksi hanya mencapai Rp 873,6 triliun, lebih rendah dari skenario awal Rp 1.006,4 triliun.

Memasuki kuartal IV, kelas menengah mulai belanja. Penjualan berbagai produk manufaktur dan barang tahan lama meningkat.

Penjualan mobil termasuk segmen premium, sepeda motor, barang elektronik, dan ritel menanjak dan akan menguat hingga akhir tahun. Demikian pula sektor properti, penjualan rumah tapak dan apartemen meningkat signifikan. Permintaan yang meningkat dan ekonomi yang menggeliat tersebut tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah meredakan persebaran Covid, sehingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dilonggarkan.

Di sejumlah kota di Jawa bahkan PPKM diturunkan ke level 1. Kasus Covid-19 pada akhir pekan lalu tercatat berada di bawah 500. Bahkan

positivity rate di bawah 0,3%. Kasus aktif yang pertengahan Juli lalu masih di atas 56 ribu, sekarang hanya delapan ribu. Hingga 20 November lalu, penduduk Indonesia yang sudah dua kali mendapatkan vaksin mencapai 88,8 juta atau 42,6% dari target.

Adapun yang baru sekali divaksin tercatat 134 juta atau 64,4% dari target. Hal itu membuat indeks kepercayaan konsumen meningkat. Demikian pula indeks ekspektasi konsumen. Kepercayaan itulah yang membuat kegiatan ekonomi dan bisnis menggeliat, dan masyarakat berani berbelanja, terutama barang tahan lama. Tingkat hunian kamar hotel di sejumlah destinasi wisata utama meningkat drastis.

Berbekal segudang indikator positif itulah, kita menatap tahun depan dengan penuh optimisme. Pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi minimal bisa mencapai 5,2%. Sejumlah bank papan atas sudah ancang-ancang ekspansi kredit dengan pertumbuhan dua digit. APBN masih akan ekspansif dan banjir stimulus, untuk menopang daya beli masyarakat dan membantu dunia usaha. Ekspor masih akan kuat sebagai penopang pertumbuhan. Harga komoditas diprediksi masih bertahan tinggi hingga kuartal I-2022.

Setelah periode itu, pelaku usaha sudah mengantisipasi dengan hilirisasi yang terus didorong pemerintah. Investasi akan memberikan kontribusi kian besar terhadap PDB sebagai dampak positif UU Cipta Kerja. Meski demikian, tahun depan bukan berarti tidak sepi tantangan. Ketidakpastian global masih membayangi, meski relatif berkurang.

Rencana bank sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk menaikkan suku bunga, diprediksi dilakukan pada pertengahan 2022, tentu akan diikuti oleh kenaikan suku bunga di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Hal ini jelas bakal mendorong kenaikan suku bunga pinjaman.

Tantangan lain adalah terhentinya booming harga komoditas. Berbagai ramalan menyebut bahwa harga komoditas akan terkoreksi cukup signifikan. Hal ini tentu akan mengganggu kinerja korporasi di sektor komoditas dan berpotensi menaikkan kredit bermasalah.

Kita percaya bahwa pemerintah, otoritas terkait, dan dunia usaha sudah mengantisipasi sejumlah tantangan global yang akan mewarnai perjalanan ekonomi sepanjang tahun depan. Mereka tentu sudah menyiapkan strategi dan memitigasi risiko. Indonesia dan seluruh negara telah belajar dan berhasil mengatasi berbagai krisis.

Atas dasar itu, kita optimistis bahwa perekonomian tahun depan amat menjanjikan dan lebih memberikan harapan. Kinerja seluruh sektor akan lebih berkilau, dengan syarat Covid-19 makin terkendali.

Kita telah menyaksikan bahwa perekonomian Indonesia terbukti resilien alias tahan banting menghadapi berbagai gejolak internal maupun eksternal.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN