Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah melakukan transaksi di pusat anjungan tunai mandiri (ATM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah melakukan transaksi di pusat anjungan tunai mandiri (ATM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Masa Panen Bank

Jumat, 24 Desember 2021 | 15:31 WIB
Investor Daily

Kebangkitan kinerja perbankan menunjukkan tren yang membesarkan hati. Tumbuh perlahan tapi pasti dengan kondisi keseluruhan yang cukup solid. Kucuran kredit kepada debitur terus meningkat untuk sektor-sektor yang mulai kembali bergairah.

Kredit bermasalah pun relative terkendali dengan baik. Data terbaru Bank Indonesia menunjukkan, hingga November 2021, outstanding kredit perbankan tercatat Rp 5.694,9 triliun atau meningkat 4,4% secara year on year (yoy).

Persentase pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat baru 3,0% (yoy). Akselerasi pertumbuhan kredit terutama terjadi pada debitur perorangan yang pada bulan lalu tumbuh 8,4% (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 5,6% (yoy).

Peningkatan penyaluran kredit pada November 2021 terjadi pada seluruh jenis kredit. Kredit modal kerja (KMK) tumbuh menguat, dari 4,4% (yoy) pada Oktober 2021 menjadi 5,0% (yoy) pada November.

Pertumbuhan terutama terjadi di sektor industri pengolahan, serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR).

Sedangkan kredit investasi (KI) yang pada Oktober masih kontraksi 0,2%, pada November 2021 berbalik arah tumbuh positif sebesar 3,5% (yoy). Pertumbuhan ini sejalan dengan akselerasi penyaluran KI pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, serta sektor industri pengolahan.

Adapun kredit konsumsi melaju 4,1% (yoy), didorong oleh akselerasi penyaluran kredit multiguna. Bukan hanya bersema ngat memompa kredit, bank pun patuh dalam mentransmisikan kebijakan suku bunga Bank Indonesia, dengan memangkas suku bunga kredit maupun simpanan. Pada November 2021, rata-rata tertimbang suku bunga kredit tercatat sebesar 9,25%, turun lima basis poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Rata-rata tertimbang suku bunga simpanan berjangka seluruh jenis tenor juga menurun. Melihat perkembangan yang ada, Otoritas Jasa Keuangan OJK memperkirakan kredit perbankan tumbuh di kisaran 4-4,5% pada tahun ini. Pertumbuhan kredit memang tidak sepesat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang sebesar 9,44% (yoy). Keterbatasan mobilitas dari masyarakat membuat banyak dana yang mengendap di perbankan.

Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) masih bisa dijaga baik. NPL gross berada di level 3,22% per Oktober 2021. Tingkat permodalan perbankan cu kup solid dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,34%. Permodalan yang kuat mengindikasikan bahwa perbankan punya ruang luas untuk mengucurkan kredit.

Sementara itu, kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit yang diberikan OJK memang sangat membantu kondisi perbankan maupun debitur. Yang menggembirakan, posisi kredit yang direstrukturisasi akibat dampak Covid-19 terus menurun dari waktu ke waktu. Hingga Oktober 2021, outstanding restrukturisasi sebesar Rp 714 triliun atau sekitar 12,62% dari total kredit.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perbankan sudah melakukan langkah mitigasi risiko dengan membentuk pencadangan yang cukup. Artinya, apabila stimulus restrukturisasi dicabut pada Maret 2023, perbankan siap dan tetap bisa membukukan profitabilitas. Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) perbankan terhadap rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) saat ini sudah mencapai 187,94%.

Tren restrukturisasi kredit menunjukkan arah yang positif karena pemulihan aktivitas masyarakat, sejalan dengan ke suksesan pengendalian penyebaran Covid. Kondisi tersebut mendorong bangkitnya sektor bisnis sehingga para debitur mulai melunasi pinjamannya. Ekspansi kredit bank diprediksi berlanjut tahun depan dengan pertumbuhan 8% di berbagai sektor usaha.

Ini terutama didukung pertumbuhan manufaktur sekitar 5,5% dan investasi manufaktur sebesar 24% menjadi Rp 400 triliun.

Pertumbuhan kredit sektor manufaktur diharapkan turut memulihkan penyerapan tenaga kerja. Kredit yang terus bertumbuh menjadi penopang pencapaian laba perbankan. OJK memprediksi laba bersih industri perbankan tahun ini menembus Rp 119 triliun.

Proyeksi laba tersebut meningkat 13,65% dibandingkan dengan perolehan laba tahun 2020 yang sebesar Rp 104,71 triliun. Tahun depan, sejalan dengan ekspansi kredit yang lebih agresif, perolehan laba perbankan otomatis lebih baik.

Bank kembali memasuki masa panen. Kinerja cemerlang juga terjadi pada bank-bank yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejumlah analis memprediksi laba bersih emiten bank berpotensi melonjak 26% pada 2022, didorong ekspansi kredit 8-10%, kenaikan margin bunga bersih (net interest margin/NIM), dan penurunan biaya dana.

Kenaikan performa memang dimotori oleh bank anggota Himpunan Bank-bank Negara (Himbara). PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBNI) diprediksi mencetak pertumbuhan laba tertinggi, sebesar 53,4% tahun depan, diikuti PT Bank Rakyat Indo nesia Tbk (BRI/BBRI) sebesar 34,5%, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 27,5%.

Di jajaran emiten bank swasta, PT Bank Da na mon Tbk (BDMN) diproyeksikan mencetak pertumbuhan 21,8% dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 12,8%. Di tengah kebangkitan kinerja, tren konsolidasi perbankan tahun depan masih berlanjut.

Terbukti, investor yang mengincar bank kecil untuk jadi bank digital masih marak. Akselerasi transformasi digital terus terjadi di sektor perbankan. Bank yang memiliki ekosistem yang luas akan memenangi persaingan. Meskipun banyak investor, baik asing maupun lokal, yang melirik bank mini,

OJK sebagai regulator sebaiknya tetap selektif. OJK harus merunut latar belakang hingga kemampuan keuangan sebelum menjadi pemilik bank. OJK harus ketat dalam menjalankan fit and proper test bagi calon pemilik. Mereka tidak boleh punya rekam jejak negatif dan wajib memiliki kemampuan keuangan yang memadai.

Langkah konsolidasi memang merupakan keniscayaan, sejalan dengan keten tuan OJK bahwa perbankan mesti me miliki modal inti minimum Rp 3 triliun pada 2022. Saat ini, terdapat 77 bank yang modal intinya di bawah Rp 3 triliun.

Ini merupakan tantangan yang tidak ringan. Tantangan lain ke depan adalah ancaman tapering off yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat berikut rencana kenaikan suku bunga. Mau tidak mau, Bank Indonesia pun akan menaikkan su ku bunga acuan. Kondisi ini membuat potensi kenaikan biaya dana yang mesti dipikul perbankan.

Dalam konteks itu, perbankan mesti pandai-pandai memitigasi risiko sembari tetap memacu kinerja. Kita optimistis bahwa berkaca pada pengalaman selama ini, perbankan nasional memiliki daya tahan tinggi, didukung oleh kebijakan yang kondusif empat pilar lembaga di Komite Stabilitas Sistem Keuangan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN