Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Unicorn dan Decacorn Jangan Cuma Galang Dana

Rabu, 29 Desember 2021 | 11:00 WIB
Investor Daily

Bursa saham Indonesia bakal memasuki era baru. Kapitalisasi pasar (market cap) emiten teknologi yang saat ini dianggap 'anak bawang', dalam setahun ke depan bakal menyodok emiten sektor lain. Kontribusi market cap emiten teknologi terhadap market cap bursa pada 2022 diprediksi melonjak menjadi 15-20% dibanding saat ini yang cuma 4,3%.

Market cap emiten teknologi yang kini bertengger di peringkat ke-8, digadang-gadang bakal melesat ke urutan ke-2, menyalip emiten sektor lainnya, seperti barang konsumen primer, industri dasar, infrastruktur, energi, manufaktur, industri, dan barang konsumen nonprimer. Bahkan, saham teknologi diprediksi bakal mengudeta saham sektor finansial yang kini menjadi penguasa market cap bursa domestik.

Dengan asumsi indeks harga saham gabungan (IHSG) tumbuh 7,6% tahun depan ke level 7.000 dibandingkan estimasi akhir 2021 di posisi 6.500, market cap emiten sektor teknologi diprediksi melesat 268-391% menjadi Rp 1.320-1.760 triliun dibandingkan Rp 358 triliun pada penutupan 28 Desember 2021.

Tak salah lagi, market cap emiten sektor teknologi akan terdongkrak penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham unicorn (perusahaan rintisan teknologi bervaluasi US$ 1-9 miliar) dan decacorn (perusahaan rintisan teknologi bervaluasi US$ 10-90 miliar). Jika tidak ada aral melintang, sejumlah unicorn dan decacorn, dari mulai GoTo, Blibli, Traveloka, hingga SiCepat, akan melantai di bursa saham domestik tahun depan.

Saham yang akan dilepas decacorn dan unicorn ke publik melalui IPO dipastikan bernilai fantastis. IPO GoTo, misalnya, diperkirakan bakal memecahkan rekor nilai IPO tertinggi sepanjang sejarah bursa saham dalam negeri yang saat ini dipegang PT Bukalapak.com Tbk (BUKA). Saat menggelar IPO pada Agustus lalu, unicorn itu meraup dana Rp 21,9 triliun.

Prediksi bahwa saham emiten sektor teknologi akan memuncaki peringkat market cap Bursa Efek Indonesia (BEI) tergolong wajar, terutama jika menilik perkembangan digitalisasi yang sungguh dahsyat dewasa ini. Bukankah digitalisasi sudah merambah hampir semua aspek kehidupan di negeri ini? Digitalisasi adalah keniscayaan.

Tanda-tanda dominasi saham emiten sektor teknologi sudah tampak. Sepanjang tahun ini, saham teknologi memimpin capital gain di BEI. Per 28 Desember 2021, gain IDX Sector Technology yang terdiri atas 23 saham emiten, mencapai 670,02%, jauh di atas IHSG yang hanya 10,36%. Sejumlah sektor lainnya bahkan masih mencatatkan minus.

Dominasi market cap emiten sektor teknologi ke depan sulit dibendung. Tuntutan dan gaya hidup --terutama kalangan milenial dan generasi Z-- akan membuat pasar dan skala bisnis perusahaan-perusahaan teknologi, khususnya yang terkait dengan digitalisasi, terus membesar. Untuk membiayai ekspansi bisnisnya, perusahaan-perusahaan teknologi harus menggalang dana, di antaranya lewat IPO saham.

Bisa dipahami pula jika ekspektasi investor, terutama investor ritel, terhadap saham-saham emiten teknologi amat tinggi, bahkan terlampau tinggi. Sejujurnya, harga saham sebagian emiten teknologi saat ini tidak mencerminkan fundamentalnya. Artinya, tingginya harga saham emiten teknologi di bursa lebih disebabkan ekspektasi jangka panjang para investor, bukan karena kinerja bisnis emiten saat ini.

Harga saham emiten teknologi yang tak sebanding dengan fundamentalnya bisa menjadi bumerang, bukan hanya bagi emiten bersangkutan, tapi juga bagi bursa saham Indonesia. Euforia masyarakat terhadap saham teknologi bisa berbalik menjadi antipati. Jika pemahaman yang salah terus terakumulasi, kepercayaan investor bisa runtuh. Hal yang sama akan terjadi jika unicorn atau decacorn mematok harga saham IPO terlalu tinggi.

Dalam konteks inilah, para pemangku kepentingan dituntut untuk memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat mengenai saham emiten teknologi, terutama perusahaan rintisan (startup). Investor harus mendapat edukasi yang cukup bahwa perusahaan berstatus unicorn dan decacorn memiliki karakteristik dan model bisnis berbeda dengan perusahaan biasa, khususnya menyangkut prospek bisnis, kinerja keuangan, valuasi saham, skala ekonomi, dan hal-hal fundamental lainnya.

Kita juga meminta BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan aturan IPO saham unicorn dan decacorn selengkap dan seaplikatif mungkin. Regulasi OJK dan BEI harus ramah decacorn dan unicorn, dengan tetap mengedepankan spirit perdagangan saham secara teratur, wajar, efisien,  adil, dan transparan, agar tidak menimbulkan bias bagi para investor.

Paling penting, kehadiran unicorn dan decacorn di lantai bursa harus mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Setelah menjadi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa (listed company), unicorn dan decacorn harus mendatangkan efek pengganda (multiplier effect) bagi perekonomian. Mereka harus menjadi stimulan, menggerakkan sisi produksi dan konsumsi, memperluas ekosistem digital, mengurangi impor, serta merangkul lebih banyak industri di dalam negeri.

Lebih jauh lagi, unicorn dan decacorn harus mampu berkolaborasi dengan lebih banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Tanah Air lewat ekosistem digitalnya guna mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Jangan sampai kehadiran unicorn dan decacorn yang gegap gempita di lantai bursa hanya untuk mengeruk dana publik semata. Tak lebih!

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN