Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo, saat peresmian Pembukaan Perdagangan BEI 2022, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (3/1).

Presiden Joko Widodo, saat peresmian Pembukaan Perdagangan BEI 2022, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (3/1).

Tahun Investasi Ekuitas

Jumat, 14 Januari 2022 | 07:26 WIB
Investor Daily

Inflasi yang naik di mana-mana tahun ini pertanda baik, mencerminkan kembali bergairahnya perekonomian global maupun domestik. Dana asing pun masuk lagi ke pasar modal kita, tak melulu mengendap di obligasi pemerintah, namun juga dipastikan mengalir lebih deras ke instrumen saham.

Tahun 2022 memang tahunnya investasi ekuitas, saham-saham jauh lebih atraktif dari 2021. Investasi saham menarik, karena ekonomi global maupun Indonesia melaju lebih kencang, di mana kuartal IV tahun lalu pertumbuhan RI diperkirakan sudah mencapai 5,1%. Pada 2022 dipastikan indikator makroekonomi Indonesia ini makin kuat, bahkan bisa menembus 5,5%.

Indikasi lonjakan pertumbuhan ekonomi tergambar jelas dari inflasi yang menguat, yang tidak hanya didorong naiknya ongkos produksi (cost-push inflation), namun juga kuatnya daya beli (demand-pull inflation). Kelas menengah yang semula masih menahan diri melihat amukan pandemi, kini mulai berbelanja, seiring menurunnya kasus positif Covid-19 dan percepatan vaksinasi massal.

Di Amerika Serikat, bank sentral The Federal Reserve (The Fed) sudah mempercepat pengurangan pembelian aset (tapering), plus siap-siap menaikkan suku bunga untuk mengendalikan kenaikan inflasi. Inflasi di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu sudah menembus 7%, sementara suku bunga acuannya masih 0-0,25%.

Di Indonesia, pemerintah juga mulai mengurangi gelontoran stimulus, seiring roda ekonomi yang mulai berputar kencang. Tahun 2020, pemerintah mengucurkan stimulus Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN) Rp 575,8 triliun, kemudian naik menjadi Rp 658,6 triliun tahun lalu. Namun, pada tahun 2022 mulai dipangkas, tinggal Rp 414,1 triliun.

Geliat ekonomi pun sudah terasa pada penjualan barang-barang tahan lama (durable goods), yang melonjak tajam. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melaporkan, penjualan mobil baru sepanjang tahun 2021 menembus 887.202 unit, melambung 66,7% dari tahun 2020 yang sebanyak 532.027 unit. Angka ini sudah hampir mendekati level sebelum pandemi.

Demikian pula di sektor properti kembali semarak. Tak hanya rumah tapak kembali booming, penjualan apartemen juga merangkak naik, apalagi jika insentif pajak ditanggung pemerintah dan kebijakan uang muka (down payment/DP) 0% oleh Bank Indonesia diperpanjang. Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan juga memperpanjang relaksasi restrukturisasi kredit perbankan.

Prospek cerah ekonomi Indonesia ini yang membuat investasi ekuitas tahun 2022 bagus. Sebab, tak mungkin harga-harga saham bergerak tinggi kalau fundamental tidak bagus.

Laba para emiten akan melonjak, seiring penjualan yang menguat kembali. Permintaan yang naik ini juga didorong pulihnya daya beli masyarakat yang kembali beraktivitas di berbagai sektor, serta melambungnya harga-harga komoditas perkebunan maupun pertambangan yang membangkitkan ekonomi daerah. Harga minyak sawit yang sebelum pandemi jatuh justru kini sangat bagus, demikian pula batu bara. Keduanya merupakan kontributor terbesar ekspor nonmigas Indonesia.

Ekspor yang melonjak ini juga menopang pulihnya pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kita. Perolehan cadangan devisa pun naik signifikan, bahkan sempat mencetak rekor tertinggi baru US$ 146,9 miliar di kuartal terakhir tahun lalu.

Dengan kita punya ketersediaan dolar yang cukup di pasar, kurs rupiah menjadi tak terlalu bergejolak. Ini adalah untuk pertama kalinya kebijakan tapering yang dilakukan The Fed tidak menimbulkan reaksi langsung terhadap kurs rupiah kita, tidak seperti taper tantrum 2013.

Yang lebih menggembirakan, ekspor kita sudah didominasi produk manufaktur, yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Kebijakan hilirisasi sumber daya alam dengan larangan ekspor biji nikel misalnya, memaksa perusahaan ramai-ramai mendirikan smelter untuk pemurnian dan pengolahan. Ini juga membuat harga nikel terkerek, yang agak berbeda dengan kenaikan harga batu bara yang juga ada faktor dihentikannya impor Tiongkok dari Australia, selain krisis energi di berbagai negara.

Selain dari ekspor, tambahan pasokan dolar AS juga berasal dari masuknya investasi. Omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja mulai berdampak positif menarik lebih banyak investasi dari mancanegara.

Meningkatnya investasi itu juga merupakan cerminan apresiasi investor terhadap pemerintah kita yang sudah bekerja baik, terutama dalam penanganan pandemi virus baru Covid-19 sejak Maret 2020. Di tengah upaya memerangi pandemi, pelaksanaan pembangunan infrastruktur juga bagus sekali, di berbagai daerah, termasuk pada megaproyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan Light Rail Transit (LRT) yang akan segera rampung.

Dibanding negara tetangga seperti Malaysia misalnya, politik kita juga lebih stabil. Padahal, pemerintah direpotkan dengan tantangan yang bertubi-tubi dari berbagai kelompok, yang sengaja merongrong dengan berbagai motif.

Di pasar saham, kini juga terjadi shifting preferensi kembali ke old economy. Sebelumnya, terutama sejak pandemi, saham-saham ikon new economy yang menjadi primadona, termasuk startup teknologi unicorn atau decacorn.

Selain saham-saham new economy itu sudah naik terlalu tinggi, kini investor terutama dari institusi lebih mengandalkan perusahaan lama yang sudah terbukti labanya bagus. Perusahaan dengan fundamental yang baik ini juga harga sahamnya masih murah, seperti BRI, BCA, Bank Mandiri, Astra International, dan Unilever. Alasan yang hampir sama juga menjadi landasan mengapa investor asing kembali masuk ke Indonesia, karena harga saham di luar sudah naik tinggi.

Saham-saham pertambangan juga masih cukup bagus di tengah tren transformasi ke green energy, termasuk perusahaan energi fosil batu bara. Meski demikian, tetap perlu diingat bahwa investor besar terutama dari Eropa akan lebih memperhatikan saham-saham yang mengimplementasikan environmental, social, and governance (ESG). Meski lonjakan harga saham batu bara luar biasa, fund managers mereka tak membeli.

Pajak karbon juga mulai diberlakukan 1 April mendatang, dengan penerapan tahap pertama di sektor pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Di sisi lain, carbon trading sudah dimulai, di mana Indonesia bersama Brasil yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia punya potensi bagus di bisnis baru ini.

Di pasar saham kita, fenomena pertumbuhan investor yang luar biasa, terutama dari kaum milenial, juga menjadi sentimen positif tahun ini. Investor ritel yang lebih berjangka pendek dibutuhkan untuk likuiditas pasar saham kita, sementara investor institusi untuk stabilitas. Kedua-duanya jelas dibutuhkan untuk memperkuat pasar saham.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN