Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agen asuransi menjelaskan produknya, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Agen asuransi menjelaskan produknya, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Memoles Citra Asuransi

Jumat, 28 Januari 2022 | 22:35 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Industri asuransi tengah dirundung masalah, terutama yang terkait dengan unit link, atau produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI). Masalah mencuat karena sebagian nasabah asuransi unit link belum memahami sepenuhnya risiko unit link, ketika hasil investasinya menurun karena portofolio di dalamnya merosot.

Di lain sisi, ada sebagian agen pemasar unit link yang kurang memberikan penjelasan detail, terlalu memberikan janji manis. Sebagian terjadi mis-selling.

Sebagian nasabah yang merasa dirugikan kemudian menutup polis. Banyak yang menempuh demo serta menuntut premi dikembalikan utuh. Beberapa kasus yang menimpa sejumlah perusahaan papan atas belum ada titik temu dengan nasabah, meski Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah melakukan mediasi. Kisruh dan geger yang melanda unit link sampai membuat DPR mendesak perlunya moratorium.

Padahal, produk unit link masih menjadi tulang punggung karena mendominasi, dengan peran sebesar 62,5% terhadap total premi asuransi. Premi unit link hingga kuartal III-2021 tumbuh 9% secara tahunan (year on year/yoy), dari Rp 85,87 triliun menjadi Rp 93,31 triliun.

Mengingat besarnya kontribusi unit link terhadap perekonomian dan masih tingginya minat masyarakat, perlu pembenahan menyeluruh terhadap produk unit link. Pembenahan dilakukan mulai dari regulasi, kualitas tenaga pemasar, standar etika, operasional perusahaan, transparansi investasi dan biaya, serta edukasi dan literasi kepada masyarakat. Tujuannya adalah menumbuhkan kepercayaan publik terhadap unit link.

Bagaimanapun, kinerja positif unit link secara umum menunjukkan membaiknya kepercayaan dan kesadaran masyarakat terhadap asuransi. Unit link tetap merupakan pilihan terbaik untuk kombinasi proteksi dan investasi. Persepsi ini harus terus dibangun. Persepsi negatif yang muncul di sebagian masyarakat dan pemangku kepentingan lain, harus dibalikkan sehingga unit link menjadi instrumen keuangan untuk asuransi sekaligus investasi yang terpercaya.

Prahara yang melanda unit link hanyalah salah satu persoalan yang menyelimuti industri asuransi Indonesia. Ada beberapa persoalan lain yang membuat industri asuransi belum berkembang sesuai potensi yang ada. Di antaranya adalah rendahnya penetrasi dan densitas asuransi, persoalan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Indonesia tergolong berada di peringkat bawah di tingkat Asean untuk dua indicator tersebut.

Penetrasi asuransi atau jumlah pemegang polis dibagi total penduduk di Tanah Air masih di bawah 4%. Adapun densitas asuransi atau belanja premi per kapita baru sekitar Rp 1,8 juta. Kontribusi aset industri asuransi terhadap produk domestik bruto (PDB) juga masih se kitar 5,8%. Padahal untuk menjadi negara maju, kontribusi asuransi harus mencapai 20%.

Selain itu, aset asuransi baru berkontribusi 12% terhadap keseluruhan aset sektor keuangan. Perbankan masih mendominasi aset keuangan dengan proporsi 78%, lembaga pembiayaan 3%, dana pensiun 3%, dan lain-lain 4%. Kelemahan lainnya, indeks literasi asuransi baru mencapai 19,4% serta inklusi asuransi sekitar 13,2%.

Sejumlah persoalan dan kendala yang menghambat kinerja industri asuransi tersebut mesti dibenahi secara bersamasama, baik oleh pelaku, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya. Berkaca dari kasus-kasus unit link, terbukti bahwa sistem pemasaran produk asuransi perlu dibenahi dan butuh standardisasi yang jelas. Transparansi produk mesti dijalankan.

Di Indonesia pemasaran asuransi masih didominasi agen. Jangan sampai para agen menggunakan segala cara untuk merayu calon nasabah, tidak memberikan transparansi produk, apalagi memberikan informasi yang menyesatkan dengan janji-janji muluk. Belum lagi jika ada agen yang mempersulit klaim asuransi.

Untuk itu, sertifikasi dan pelatihan yang memadai bagi agen asuransi menjadi hal mutlak. Di lain sisi, edukasi dan literasi terhadap calon nasabah harus terus digencarkan.   Benar bahwa kemajuan industri asuransi antara lain dipengaruhi oleh daya tarik pro duk yang ditawarkan.

Dalam konteks itu, dibutuhkan inovasi dan keberagaman produk agar memiliki daya tarik di mata masyarakat. Namun, produk asuransi harus mudah dipahami. Selama masa pandemic Covid-19, penjualan produk asuransi banyak dilakukan secara online. Digitalisasi ini memang cukup berhasil dalam menjaring nasabah baru. Kemudahan dan kepraktisan menyangkut persyaratan menjadi alat yang ampuh untuk memasarkan produk secara daring.

Sayangnya, digitalisasi di sektor asuransi juga tidak diimbangi dengan pemahaman produk yang memadai para nasabah. Lagi-lagi, literasi dan edukasi menjadi kunci. Itulah berbagai pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan khususnya oleh pelaku industri asuransi dan regulator.

Kita optimistis bahwa jika berbagai persoalan itu dibenahi, potensi asuransi di Indonesia sangat besar. Alhasil, penetrasi dan densitas asuransi otomatis akan terdongkrak seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang ke depannya bakal membaik, juga daya beli masyarakat yang meningkat, serta literasi yang membaik.

Dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5%, tentu hal itu menjadi daya dorong bagi industri asuransi. Potensi industri asuransi juga bakal tergali optimal jika kepercayaan publik terhadap industri asuransi semakin meningkat. Karena itulah, memoles citra dan kredibilitas menjadi aspek krusial agar performa industri asuransi kembali berkilau.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN