Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung BI

Gedung BI

Jangan Dulu Naikkan Suku Bunga

Selasa, 15 Maret 2022 | 09:23 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Di luar perang Rusia-Ukraina yang masih berkecamuk, perhatian dunia pekan ini tertuju ke Bank Sentral AS. Pada Selasa (15/3) dan Rabu (16/3) waktu setempat, The Federal Reserve (The Fed) akan menggelar Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting. Dalam rapat kebijakan itulah The Fed akan memutuskan apakah suku bunga acuan (Fed funds rate/FFR) naik atau tetap di level 0-0,25%.

Kebijakan The Fed bukan saja ditunggu para ekonom, pebisnis, dan pelaku pasar di seluruh dunia, tapi juga oleh bank sentral negara-negara lain, termasuk Indonesia. Bank Indonesia (BI) akan menggelar rapat dewan gubernur (RDG) pada Rabu (16/3) dan Kamis (17/3). Salah satu agenda RDG BI adalah menaikkan atau menahan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) yang saat ini dipatok di level 3,5%.

Kebijakan The Fed, sedikit atau banyak, bisa memengaruhi keputusan bank sentral negara-negara maju lainnya yang pekan ini bakal bersidang. Bank of Japan (BoJ) akan menggelar rapat kebijakan pada Jumat (18/3), sedangkan Reserve Bank of Australia bakal merilis risalah sidang pada Selasa (15/3). Adapun Bank of England (BoE) akan mengeluarkan keputusan pada Kamis (17/3).

The Fed diprediksi menaikkan FFR sebanyak 4-5 kali pada 2022, dimulai Maret ini. Langkah itu ditempuh untuk meredam inflasi yang melambung tinggi sejalan dengan mulai pulihnya perekonomian negara tersebut. Inflasi AS pada awal 2021 hanya 2,6%, namun pada Februari 2022 mencapai 7,9% yang merupakan angka tertinggi selama 40 tahun terakhir.

Ekonomi AS sejak pertengahan tahun lalu tumbuh konsisten. Sempat minus 31,2% pada Juli 2020, ekonomi Negeri Paman Sam pada Januari 2022 tumbuh 7%. Pertumbuhan ekonomi AS diikuti menurunnya angka pengangguran. Pada awal 2020, angka pengangguran di AS mencapai double digit. Tapi pada Februari 2022, angka pengangguran tinggal 3,8%.

Selain berencana menaikkan suku bunga untuk mengerem inflasi, The Fed telah mengurangi pembelian obligasi (tapering) dan memangkas neracanya yang membengkak akibat program pelonggaran likuiditas (quantitative easing/QE) guna memulihkan perekononian. Rencana The Fed telah memicu arus modal keluar (capital outflow) dari negara-negara emerging markets, diikuti kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan pelemahan mata uang global.

Pertanyaan besarnya, apakah BI akan menaikkan BI7DRR mengikuti sikap hawkish The Fed? Atau, mungkinkah BI menahan suku bunga acuan untuk yang ke-14 kalinya secara berturut-turut? BI, sejak 18 Februari 2021, mematok suku bunga acuan di level 3,5% yang merupakan level terendah sepanjang sejarah.

Peluang BI menaikkan suku bunga jelas terbuka. Dengan kenaikan imbal hasil (yeld) US Treasury Bond tenor 10 tahun yang kini di level 2,10%, investor asing akan menimbang-nimbang imbal hasil yang ditawarkan Surat Utang Negara (SUN) seri benchmark tenor 10 tahun di posisi 6,68%. Selisih (spread)-nya memang masih tebal. Tetapi, dengan status safe haven, portofolio AS bisa dianggap lebih menarik.

Gelagat investor asing bakal berpaling dari Indonesia sudah tampak. Berdasarkan data transaksi 7-9 Maret 2022, investor asing mencatatkan jual neto Rp 21,46 triliun di pasar keuangan domestik, terdiri atas jual neto di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 10,87 triliun dan di pasar saham senilai Rp 10,60 triliun. Untuk mencegah arus modal keluar (capital outflow), BI bisa menaikkan BI7DRR.

Kendati punya peluang menaikkan suku bunga, BI sepertinya akan menahan BI7DRR di level 3,5% dalam RDG pekan ini, sekalipun The Fed menaikkan FFR. Banyak alasan mengapa BI tidak akan menaikkan suku bunga dalam RDG pekan ini, salah satunya karena inflasi di dalam negeri masih rendah. BI sudah menegaskan bahwa suku bunga acuan hanya akan dinaikkan jika inflasi melonjak.

Inflasi memang sedang menghantui perekonomian global. Akibat invasi Rusia ke Ukraina, harga minyak dan komoditas melejit. Namun, Indonesia masih aman dari ancaman inflasi global. Pada Februari lalu bahkan terjadi deflasi 0,02% walau harga sejumlah bahan kebutuhan pokok melejit. Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi pada Februari 2022 mencapai 2,06% dengan inflasi inti 2,03%.

Ke depan, inflasi di dalam negeri sepertinya masih rendah, dalam jangkauan target 3% plus minus 1%. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) BI, perkembangan harga pada pekan ke-2 Maret 2022 tetap terkendali. Inflasi bulanan diperkirakan mencapai 0,48%, sehingga inflasi Maret 2022 secara tahun kalender sekitar 1,04% dengan inflasi tahunan sebesar 2,48%.

BI bisa saja mengesampingkan faktor inflasi jika modal asing semakin deras keluar dan nilai tukar rupiah terpuruk. Bukankah depresiasi rupiah akan mendorong inflasi barang impor (imported inflation) yang bakal membuat harga di dalam negeri melambung tinggi? Namun, faktanya, rupiah masih stabil di level Rp 14.300 per dolar AS.

Alasan paling rasional untuk menahan suku bunga acuan tentu saja pemulihan ekonomi. Sejauh ini proses pemulihan ekonomi nasional masih labil. Inflasi yang masih rendah menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih lemah. Dalam kondisi daya beli yang masih terpuruk, menaikkan suku bunga akan kontraproduktif terhadap perekonomian yang tahun ini ditargetkan tumbuh 5,2%.

Belum kuatnya pemulihan ekonomi juga ditunjukkan oleh kinerja penjualan eceran (ritel). Penjualan ritel pada Februari 2022 membaik, namun pertumbuhannya sedikit tertahan. Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2022 diperkirakan sebesar 202,8, tumbuh 14,5% (yoy) atau tidak setinggi bulan sebelumnya sebesar 15,2%. Bahkan, secara bulanan, penjualan eceran diprakirakan terkontraksi 3,2%.

Indikator lain yang akan memaksa BI menahan suku bunga adalah keyakinan konsumen terhadap prospek perekonomian. Indeks Keyakinan Konsumen  (IKK) Februari 2022 berada di level 113,1, lebih rendah dibandingkan 119,6 pada Januari 2022. Keyakinan konsumen pada Februari 2022 tidak setinggi bulan sebelumnya karena ekspektasi terhadap kondisi ekonomi mendatang lebih terbatas, baik ekspektasi terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, maupun kegiatan usaha.

Menilik fakta-fakta tersebut, rasa-rasanya BI tidak akan gegabah menaikkan BI7DRR dalam jangka pendek hanya karena The Fed menaikkan FFR. Apalagi BI telah melakukan normalisasi kebijakan, salah satunya dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM). Pemulihan ekonomi yang dicapai dengan susah payah bisa berantakan jika BI menaikkan suku bunga saat fundamental perekonomian masih lemah. Normalisasi kebijakan yang dilakukan BI bisa membuat ekonomi abnormal.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN