Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pedagang minyak goreng curah di Pasar Tradisional Kebon Roek, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) (Foto: Beritasatu.com)

Pedagang minyak goreng curah di Pasar Tradisional Kebon Roek, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) (Foto: Beritasatu.com)

Minyak Sawit Andalan Dunia

Rabu, 11 Mei 2022 | 09:44 WIB
Investor Daily

Posisi Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit kian strategis. Pasalnya, permintaan dunia terhadap minyak yang hanya bisa diproduksi di daerah tropis ini terus meningkat.

Apalagi, palm oil tidak hanya dibutuhkan untuk bahan baku minyak goreng dan beragam produk makanan yang lain. Penggunaannya makin meluas untuk berbagai industri, seperti farmasi, kosmetik, hingga bahan bakar terbarukan jenis biodiesel. Industri-industri ini telah menggeliat seiring permintaan yang menguat, lantaran aktivitas warga dan kegiatan ekonomi mulai pulih setelah dilakukan vaksinasi massal dan pandemi Covid-19 terkendali.

Minyak sawit ini memang sangat kompetitif, sehingga popularitasnya tak terbendung meski terus diadang kampanye negatif yang dilancarkan negara-negara Barat. Produktivitasnya jauh lebih tinggi dari minyak nabati yang lain, seperti minyak bunga matahari, kedelai, jagung, zaitun, dan kanola yang diproduksi di wilayah subtropis.

Itulah sebabnya, minyak sawit harganya lebih murah US$ 150-200 per ton ketimbang minyak nabati yang lain. Sedangkan kualitasnya juga baik, terutama dalam menghasilkan produk dengan tekstur yang diinginkan untuk produk makanan. Industri pangan di seluruh dunia paling banyak menggunakan cooking oil dari sawit, termasuk di Eropa dan Amerika Serikat yang kerap menolak produk sawit.

Apalagi Tiongkok yang merupakan konsumen minyak nabati terbesar, banyak mengimpor minyak sawit Indonesia. Demikian pula India. Kedua negara ini memiliki penduduk terbanyak pertama dan kedua di dunia.

Mengingat laju konversi dari lahan pertanian ke peruntukan lain terus terjadi, sementara penduduk dunia sudah bertambah mendekati 8 miliar, pasokan minyak nabati dari sumber lain makin tak mampu mengejar peningkatan permintaan. Di sinilah minyak sawit akan makin strategis ke depan.

Harga yang sudah naik sejak tahun lalu seiring mobilitas masyarakat yang meningkat dan kini makin melambung karena tersendatnya pasokan minyak nabati akibat perang Rusia-Ukraina, ke depan diproyeksikan tetap tinggi. Apalagi, Indonesia masih melakukan larangan ekspor bahan baku minyak goreng maupun minyak goreng, hingga harga minyak goreng curah di dalam negeri turun kembali ke Rp 14.000 per liter, dari saat ini yang masih sekitar Rp 20.000 per liter di banyak daerah.

Bila merujuk data United States Department of Agriculture (USDA), pangsa pasar minyak sawit pada 2021 telah menembus 35,1% dari total minyak nabati dunia, padahal tahun 1990 baru 13,9%. Sedangkan minyak kedelai yang 3 dekade lalu unggul di atas minyak sawit dengan pangsa pasar 19,6%, meski market share juga bertambah, namun telah bergeser ke posisi ke kedua sebesar 28,6% tahun lalu.

Eksportir minyak kedelai dunia ini yang terbesar adalah Argentina sekitar 5,9 juta ton, berdasarkan data IndexMundi. Berikutnya adalah Brasil 1,55 juta ton, 27 negara Uni Eropa 950 ribu ton, dan Amerika Serikat 646 ribu ton.

Di dalam negeri, minyak sawit juga strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak bumi dan bahan bakar minyak (BBM). Ditingkatkannya campuran biodiesel minyak sawit menjadi 30% dalam program B30 (dicampur dengan 70% solar), bisa memangkas impor minyak/BBM, sehingga mengurangi defisit neraca perdagangan migas RI.

Untungnya, defisit migas tersebut bisa ditutup oleh tingginya ekspor minyak sawit. Alhasil, neraca perdagangan Indonesia masih bisa surplus, sehingga ikut membantu stabilisasi rupiah di tengah tekanan dari pasar keuangan global lantaran The Fed agresif menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Itulah sebabnya, ekspor minyak sawit sangat penting untuk segera dibuka kembali. Presiden Joko Widodo mengatakan, ekspor akan diiizinkan lagi setelah harga minyak goreng curah di dalam negeri sudah turun ke patokan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 14.000 per liter.

Tentunya, salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah mengefektifkan distribusinya, termasuk lewat kerja sama dengan pihak-pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban dengan baik. Perbaikan distribusi ini perlu juga menggunakan jalur digital, yakni bisa dipesan lewat online dengan menggunakan voucher pembelian minyak bersubsidi yang dibagi ke setiap warga.

Pasalnya, kebutuhan minyak goreng di dalam negeri hanya 5,07 juta ton. Sementara produksi minyak sawit Indonesia mencapai 46,89 juta ton tahun 2021.

Sebagian produksi itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sedangkan yang terbesar untuk ekspor yang mencapai 34,23 juta ton tahun 2021. Sisanya digunakan untuk konsumsi domestik, termasuk untuk minyak goreng 5,07 juta ton dan biodiesel 7,34 juta ton.

Selain itu, pemerintah juga telah menaikkan tarif progresif pungutan ekspor (PE) dan bea keluar (BK) minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya per 17 Maret 2022, untuk menggantikan kebijakan domestic market obligation (DMO) dan domestic price obligation (DPO). Batas maksimal PE dan BK CPO dinaikkan ke US$ 675 per ton dari sebelumnya US$ 375 per ton, untuk harga batas atas CPO US$ 1.500 per ton dari semula US$ 1.000 per ton. Bila harga CPO lebih dari US$ 1.500 per ton, PE dan BK tetap.

Artinya, dari harga ekspor CPO yang naik menjadi US$ 1.500 per ton misalnya, pemerintah sudah memperoleh 45%-nya. Dana inilah yang bisa digunakan untuk subsidi seluruh minyak goreng di dalam negeri maupun biodiesel yang totalnya sekitar 12,41 juta ton.

Artinya, perolehan dari PE dan BK tersebut dapat menutup subsidi minyak goreng untuk dalam negeri, tinggal kemudian mengefektifkan kerja Perum Bulog yang kini juga ikut mendapat tugas mendistribusi minyak goreng bersubsidi. BUMN ini bisa bekerja sama dengan jaringan e-commerce sehingga minyak goreng bersubsidi bisa dibeli juga secara online menggunakan voucher yang dibagi kepada semua rakyat.

Bulog terutama bisa menggandeng e-commerce yang juga bekerja sama dengan jaringan ritel offline di berbagai daerah, seperti Blibli milik Grup Djarum yang sudah lama bermitra dengan minimarket outlet Indomaret dan distributor Indomarco, yang terafiliasi dengan Salim Group. Dengan demikian, jaringan Bulog plus konglomerasi swasta papan atas ini praktis dapat melakukan distribusi hingga outlet dekat perumahan dan pasar tradisional dari Sabang sampai Merauke. Ekspor minyak sawit pun bisa segera dibuka lagi. 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN