Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia memproyeksikan ekspor mobil melonjak tahun ini, ditopang meningkatnya harga minyak di negara tujuan.
(Sumber: Antara)

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia memproyeksikan ekspor mobil melonjak tahun ini, ditopang meningkatnya harga minyak di negara tujuan. (Sumber: Antara)

Ekonomi Ekspansif

Selasa, 24 Mei 2022 | 09:37 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Genap sudah 14 hari sejak arus balik Lebaran, tidak ada lonjakan kasus Covid-19 di Tanah Air. Bila kondisi ini terus membaik, Indonesia dipastikan segera masuk fase endemi, dan ekonomi makin melaju.

Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2022 kembali di atas 5%, dan tahun 2023 mencapai hingga 5,9%. Pertumbuhan ini jauh membaik dari 2021 yang hanya 3,69%.

Advertisement

Proyeksi tersebut sudah mempertimbangkan berbagai risiko. Ini termasuk perekonomian global yang masih diguncang sentimen kebijakan moneter The Fed yang agresif menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat, demi meredam inflasi yang sempat menyentuh 8,5% di negara dengan perekonomian terbesar itu. Inflasi dunia yang kian melambung gegara agresi Rusia ke Ukraina juga dinilai menghambat pemulihan ekonomi global.

Pengetatan moneter oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menjadi momok bagi bursa saham global, yang menyeret indeks ke teritori bearish. Ini terutama antisipasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) berikutnya yang bisa melompat 75 basis poin (bps), setelah pada Maret lalu dinaikkan 25 bps dan pada 4 Mei ditambah 50 bps.

FFR yang kini menjadi 0,75-1%, kemungkinan memang dinaikkan lagi 75 bps pada pertemuan FOMC berikutnya. Pasalnya, FOMC hanya bersidang 8 kali setahun, maka bila penaikannya hanya 50 bps, FFR belum akan sampai ke angka inflasi inti AS dalam setahun yang menembus 5,2% pada April lalu. Secara teori, usaha membelenggu inflasi mengharuskan tingkat bunga acuan naik minimal mencapai core inflation AS.

Kekhawatiran mengenai penaikan suku bunga The Fed, plus tekanan inflasi lantaran perang Rusia-Ukraina mendisrupsi pasokan pangan dan energi, juga menyeret indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia melemah kemarin. Investor pun menunggu skenario kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah RI dalam mengantisipasi potensi guncangan yang akan datang, sekaligus masih bisa mendukung momentum pemulihan ekonomi atau bahkan ekspansi.

Dari sisi pemerintah RI, tentu saja upaya meredam dampak gejolak global dan tetap menjaga mementum penguatan ekonomi nasional, terutama wajib didukung perbaikan kebijakan dan kepastian hukum. Jangan lagi terulang larangan ekspor mendadak, hanya gara-gara persiapan pelaksanaan program yang tidak matang, atau bahkan disandera kepentingan oknum yang bermain-main untuk keuntungan pribadi maupun kelompok.

Di sisi lain, tentu saja, Bank Indonesia diharapkan juga seirama mendukung penguatan pemulihan ekonomi Indonesia, mengingat sebenarnya kita tidak perlu khawatir berlebihan mengenai gejolak keuangan global maupun komoditas energi dan pangan. Pasalnya, kita bisa cepat meningkatkan produksi guna mencukupi kebutuhan nasional, karena iklim tropis basah memungkinkan panen pangan dari palawija seperti jagung dan kacang-kacangan hanya dalam waktu 3 bulan. Kita juga masih punya banyak cadangan lahan pertanian, dan laut kita yang hangat sepanjang tahun kaya berbagai jenis ikan.

Selain itu, kita merupakan pengekspor terbesar berbagai komoditas yang harganya masih tren tinggi, baik seperti komoditas pangan minyak sawit maupun komoditas energi batu bara. Indonesia tercatat pula sebagai produsen terbesar mineral seperti nikel, yang harganya membubung.

Ekonomi Indonesia selama ini juga lebih banyak didukung konsumsi domestik, berkat penduduk kita yang mencapai 273 juta lebih dan didominasi usia produktif. Artinya, dari sisi supply-demand, kita masih bagus. Hal ini bisa dilihat dari melonjaknya jumlah pemudik tahun ini yang menembus 85 juta, jauh melampaui sebelum pandemi.

Sejumlah kalangan pengusaha bahkan optimistis, lonjakan puncak konsumsi yang sangat kuat pada momen Lebaran 2022, bisa mengerek ekonomi kuartal II ini tumbuh 7%. Commodity supercycle yang menggerakkan ekonomi daerah dan kebangkitan kegiatan ekonomi di berbagai sektor tersebut merupakan modal yang akan memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

Akselerasi pertumbuhan sudah terlihat dari lonjakan ekspor yang luar biasa, mengukir rekor tertinggi baru sepanjang sejarah, dengan surplus melambung menembus US$ 7,56 miliar pada April lalu atau surplus beruntun selama 24 bulan. Permintaan kredit pun meningkat dan perbankan yakin kredit lebih ekspansif ke depan.

Penguatan ekonomi nasional juga tercermin dari berbaliknya posisi fiskal RI. Surplus anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) mencapai Rp 103,1 triliun hingga April 2022, dari periode sama 2021 yang defisit Rp 138,2 triliun.

Pasalnya, realisasi penerimaan lebih tinggi dari belanja pemerintah, dengan kantong negara terisi Rp 853,9 triliun, melambung 45,9% dibandingkan hingga April 2021 yang hanya Rp 584,9 triliun. Penerimaan berasal dari pajak sebesar Rp 567,7 triliun, bea dan cukai Rp 108,4 triliun, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 177,4 triliun. Sementara, belanja negara hanya sebesar Rp 750,5 triliun, cuma naik 3,8%.

Mengingat tata kelola ekonomi kita selama ini belum optimal, berarti laju pertumbuhan ekonomi masih bisa dipacu lebih tinggi, bila reformasi struktural terus digencarkan terutama penguatan industrialisasi dan hilirisasi sumber daya alam (SDA). Ini tentunya juga harus didukung percepatan digitalisasi dan pembangunan infrastruktur penting, yang membutuhkan dukungan pendanaan murah. Dalam hal inilah, kita berharap Bank Indonesia tetap bijaksana untuk lebih mendukung momentum keberlanjutan pertumbuhan ekonomi kita.

Setidaknya, BI tidak perlu selalu mengikuti langkah The Fed yang agresif menaikkan suku bunga acuan. Selain ekonomi AS juga tidak sedigdaya 10 tahun yang lalu pengaruhnya, masing-masing negara belakangan lebih berorientasi pada upaya menjaga kepentingan dalam negeri.

Apalagi, kini makin terbuka pula peluang kita untuk melepaskan diri dari middle income trap atau jebakan negara pendapatan menengah, seiring berlanjutnya commodity supercycle plus gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, perbaikan iklim investasi, serta stabilitas politik dan keamanan. Pertumbuhan ekonomi RI yang tinggi dipastikan mengundang lebih banyak investor masuk baik di sektor riil maupun portofolio, seiring prospek keuntungan yang makin kinclong.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN