Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah melakukan transaksi di pusat anjungan tunai mandiri (ATM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah melakukan transaksi di pusat anjungan tunai mandiri (ATM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Kredit Mengucur Deras

Selasa, 31 Mei 2022 | 08:03 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Kinerja perbankan nasional sudah mulai pulih, dengan laju pertumbuhan kredit bank-bank besar menembus double digit. Non-performing loan juga turun signifikan seiring perekonomian bangkit kembali di semua sektor.

Begitu pandemi mulai diatasi, utilisasi pabrik pun melesat, beragam aktivitas offline berlomba-lomba digelar, dan orang gencar berinvestasi lagi. Selain itu, lonjakan harga dan permintaan komoditas yang sangat tinggi di pasar global menyalakan kembali mesin-mesin ekonomi daerah yang semula lesu. Dari komoditas pangan, lonjakan ekspor minyak sawit masih akan berlangsung lama, demikian pula di sektor energi batu bara dan mineral seperti nikel. Di komoditas unggulan ini, Indonesia adalah rajanya.

Tak heran, penyaluran kredit menderas, bahkan di sejumlah bank telah menembus double digit. Misalnya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, bank BUMN ini mencatatkan pertumbuhan kredit menembus 12,2% secara tahunan (year on year) per April 2022, di atas kinerja industri yang juga sudah mencapai 9,10%.

Pada Maret 2022, kredit tercatat menembus Rp 5.862 triliun, tumbuh 6,6%. Pertumbuhan ini sudah melampaui kinerja sebelum pandemi tahun 2019 yang hanya 6,08%.

Pertumbuhan kredit di Tanah Air bagusnya juga didukung penghimpunan dana pihak ketiga yang kuat, meningkat 11,1% ke level Rp 7.384 triliun per Februari 2022, dengan aset perbankan naik 10,3% menjadi Rp 10.062 triliun. Aset ini adalah yang terbesar di sektor jasa keuangan kita.

Berbeda dengan negara-negara maju di mana porsi pasar modal jauh lebih besar, di Indonesia pendanaan memang masih didominasi perbankan. Aset perbankan menyumbang 70% dari keseluruhan aset sektor jasa keuangan tahun lalu.

Peranan perbankan dalam perekonomian kita juga tergambar pada kontribusi bank yang sangat besar terhadap pasar modal. Dari 47 emiten bank, market cap mencapai Rp 2.958 triliun, 31,7% dari total kapitalisasi pasar 769 emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Seiring pemulihan ekonomi yang sudah bergerak di atas level 5% sejak kuartal IV-2021, maka kinerja bank pun melesat. Dalam dua bulan pertama tahun ini, perbankan meraup laba bersih Rp 30,9 triliun, melambung 33,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski kredit perbankan melaju kencang, rasio net non-performing loan (NPL) perbankan bisa diturunkan ke level 0,8% per Februari 2022, lebih baik dari Desember 2019 yang sebesar 1,1%. Padahal, dalam dua tahun pandemi 2020 dan 2021, ada pembengkakan NPL. Untungnya ada kebijakan restrukturisasi dan program relaksasi yang digulirkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga NPL dapat dijaga pada level yang aman. 

Loan at risk (LAR) yang menjadi indikator risiko kredit yang disalurkan turun, setelah melambung pada masa awal pandemi yang mencapai 23,4% tahun 2020. Pada Maret tahun ini, LAR sudah di level 18,8%. Risiko ini terdiri atas kredit kolektibilitas satu yang telah direstrukturisasi, kredit kolektibilitas dua atau dalam perhatian khusus, dan NPL atau kredit bermasalah. Semakin pulih aktivitas ekonomi Indonesia akan mengurangi LAR.

Ekonomi yang mencapai 5,01% di kuartal pertama 2022, diperkirakan menguat ke level 6% pada kuartal kedua ini, didukung lonjakan konsumsi di dalam negeri selama momen Bulan Puasa dan Lebaran. Hal ini terutama didorong membeludaknya pemudik yang menembus 85 juta orang, 2,5 kali lipat dari angka sebelum pandemi tahun 2019 yang sebanyak 34 juta orang. Ditambah dengan commodity supercycle yang masih akan lama berlangsung, kemungkinan besar ekonomi bisa tumbuh lebih tinggi.

Kredit pun masih dimungkinkan lebih ekspansif, ditopang rasio kecukupan modal yang mencapai 25,8% per Februari 2022. Kondisi capital adequacy ratio (CAR) perbankan ini bahkan jauh lebih bagus dibanding sebelum pandemi, sebesar 23,4% pada 2019.

Yang menarik, meski sejak 2018 perbankan mulai menurunkan suku bunga pinjaman, namun net interest margin (NIM) yang dinikmati perbankan kita masih cukup tebal. NIM mencapai 4,5% per Februari 2022, cuma turun tipis dari 5,1% tahun 2018. 

Di sisi lain, BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan yang selama ini ditahan 3,5% atau terendah sepanjang sejarah RI. Hal ini lantaran tekanan inflasi yang diperkirakan di batas atas sasaran 2-4% tahun ini.

Tekanan inflasi tinggi ini menjadi persoalan pelik dunia, akibat berkepanjangannya perang Rusia-Ukraina yang mendisrupsi pasokan dan distribusi pangan, energi, serta bahan baku. Itulah sebabnya, bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) sudah menaikkan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 75 bps, sehingga suku bunga acuan negara adidaya itu menjadi 0,75-1,00% dari sebelumnya 0-0,25%. FFR masih akan dinaikkan hingga 1,75-2,00% di akhir 2022 dan 3,75-4,00% di akhir 2023, guna meredam inflasi AS yang sempat menembus 8,5% Maret dan masih bertahan di 8% bulan lalu.

Lalu, seberapa besar penaikan suku bunga acuan BI? Ini tentunya sangat tergantung pada kemampuan Indonesia mengendalikan laju inflasi.

Bila inflasi tahunan pada April 2020 hanya 1,18%, pada April tahun ini sudah naik signifikan ke 3,47%. Oleh karena itu, diperlukan keseriusan pemerintah untuk mengendalikan inflasi, dengan menjaga administered prices. Harga BBM subsidi atau penugasan khusus, LPG 3 kg, maupun tarif dasar listrik jangan dulu dinaikkan, mengingat tambahan penerimaan negara dari windfall profit lonjakan komoditas cukup untuk menambah alokasi subsidi yang dibutuhkan masyarakat agar tidak terguncang lagi daya belinya.

Sementara itu, bila inflasi kita membengkak hingga 4%, kemungkinan BI akan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada kuartal ketiga dan akhir 2022, sehingga BI 7-Day Reverse Repo Rate berada di level 4% atau maksimal 4,5%. Suku bunga deposito yang saat ini rata-rata 3,3% akan terdorong naik ke 4,5-5%, dan bunga kredit modal kerja yang kini 8,5%-9,5% bakal naik ke 9,5-10,5%.

Dalam kondisi ekonomi tumbuh bagus, sebenarnya suku bunga pinjaman hingga 12-14% pun bukanlah masalah serius yang mengganjal dunia usaha. Kita sudah pernah mengalami dan ekonomi masih tumbuh tinggi. Artinya, momentum akselerasi ekonomi nasional tidak akan terganggu.

Perbankan bahkan terbuka untuk melanjutkan ekspansi kredit. Tidak hanya tumbuh sekitar 11% seperti tahun 2018, namun bisa menembus lebih dari 20% sebagaimana saat commodities boom tahun 2011. Apalagi, infrastruktur sudah dibangun besar-besaran di berbagai daerah dan kebijakan hilirisasi sumber daya alam (SDA) dipercepat, yang kini mulai membuahkan peningkatan investasi terutama di luar Jawa. Selain itu, mesin pilpres sudah mulai dipanaskan, yang bakal menambah daya pacu menuju pertumbuhan ekonomi tinggi 7%.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN