Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tanda jalan di dekat Bursa Efek New York di Wall Street di New York, Amerika Serikat. (FOTO: ANGELA WEISS / AFP)

Tanda jalan di dekat Bursa Efek New York di Wall Street di New York, Amerika Serikat. (FOTO: ANGELA WEISS / AFP)

Badai Pasti Berlalu

Selasa, 5 Juli 2022 | 12:00 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Lantai bursa sedang diguncang badai. Pada perdagangan Senin (4/7) kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) rontok 155,15 poin (2,28%) ke level 6.639,17. Dalam sepekan, IHSG tergerus 5,7%, dalam sebulan ambles 7,6%, dalam tiga bulan terpangkas 6,2%, dan hanya menguat 0,9% selama tahun berjalan (year to date/ytd).

Bukan cuma bursa saham domestik yang diguncang badai. Hampir seluruh bursa saham di seantero dunia mengalami hal yang sama. Bahkan, di kawasan Asia dan Asia Pasifik, IHSG justru mencatatkan kinerja paling baik. Adapun di level global, kinerja bursa saham Indonesia menempati peringkat ke-6 terbaik (ytd).

Advertisement

Meski cuma menguat 0,9% selama tahun berjalan (ytd), IHSG nyatanya jauh lebih beruntung dibanding bursa-bursa saham lain yang masih terjebak di teritori negatif. Bursa Korea malah masih minus 22,75%. Bursa saham Amerika Serikat (AS), yang menjadi kiblat bursa saham di seluruh dunia, juga masih parkir di zona merah, minus 14,42% (ytd).

Begitu banyak sentimen negatif yang merundung bursa saham --baik global, regional, maupun domestik-- dalam beberapa bulan terakhir. Sentimen negatif paling kuat tentu saja berasal dari ancaman stagflasi (pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari inflasi). Gejolak harga pangan dan energi telah memicu stagflasi dan menyeret ekonomi negara-negara maju ke tubir resesi.

Harga pangan dan energi melambung tinggi sejak akhir 2021 akibat gangguan rantai pasok setelah terjadi penguncian (lockdown) di berbagai negara selama pandemi Covid-19. Kondisi itu diperparah masalah logistik, cuaca ekstrem, dan melonjaknya permintaan yang tidak diimbangi pasokan setelah pandemi mereda. Gejolak harga pangan dan energi kian menjadi-jadi setelah Rusia menyerbu Ukraina pada Februari 2022.

AS dicekik inflasi yang mencapai 8,6% pada Mei lalu secara tahunan (year on year/yoy). Itu merupakan angka inflasi tertinggi AS dalam empat dekade terakhir. Tersandera inflasi yang tinggi, pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam minus 1,5% pada kuartal I-2022 (yoy). Stagflasi dikhawatirkan menyeret ekonomi AS ke dalam jurang resesi, seperti pada awal pandemi.

Negara-negara Uni Eropa juga sedang dicengkeram stagflasi. Inflasi Uni Eropa pada Mei lalu mencapai 8,1% (yoy), tertinggi dalam seperempat abad, dengan pertumbuhan ekonomi hanya 0,7%. Hampir separuh dari total 27 negara Uni Eropa mengalami inflasi double digit. Bahkan Jerman, negara dengan ekonomi terbesar di Eropa, terjerat inflasi 8,7%, tertinggi dalam 48 tahun terakhir.

Negara-negara maju berupaya meredam inflasi dengan menaikkan suku bunga. Bank Sentral AS, The Fed, yang menjadi rujukan kebijakan suku bunga negara-negara lain, tahun ini telah tiga kali menaikkan Fed funds rate (FFR) menjadi 1,50-1,75%. Sampai pengujung 2022, The Fed diperkirakan bakal terus mengerek FFR secara agresif hingga 3,5% dan menaikkannya kembali menjadi 4% pada 2023. Bank Sentral Eropa (ECB) juga berencana menaikkan suku bunga mulai bulan depan.

Tetapi penaikan suku bunga saja tak akan cukup kuat untuk meredam gejolak harga dan menahan kejatuhan ekonomi. Nomura Holdings Inc dalam risetnya memperkirakan ekonomi negara-negara maju bakal terjerembab ke jurang resesi selama 12 bulan ke depan. Zona Euro, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Kanada diprediksi jatuh ke dalam resesi bersama AS.

Tingkat kedalaman resesi bervariasi. Resesi AS diperkirakan dangkal tapi panjang dalam lima kuartal, mulai kuartal IV-2022. Resesi Eropa bisa lebih dalam jika Rusia menghentikan sepenuhnya pasokan gas ke Eropa. Nomura memperkirakan ekonomi AS dan Zona Euro terkontraksi 1% pada 2023. Australia, Kanada, dan Korea Selatan berisiko mengalami resesi lebih dalam. Ekonomi Korea bahkan bisa lebih dulu terkontraksi 2,2% pada kuartal III-2022. Sebaliknya, Jepang memiliki risiko resesi paling ringan. Begitu pula Tiongkok.

Ancaman resesi akibat stagflasi itulah yang terus menyandera lantai bursa. Apalagi setelah ekonomi AS, negara yang tahun lalu memiliki produk domestik bruto (PDB) US$ 22,9 triliun atau 25% dari PDB global, tak kunjung bangkit. Para investor tak yakin terjadi perbaikan pada data ketenagkerjaan AS periode Juni yang akan dirilis pekan ini. Keraguan ini berbanding paralel dengan kinerja keuangan emiten-emiten di Wall Street yang diprediksi turun, selaras dengan data-data ekonomi AS yang melemah.

Apakah itu berarti lantai bursa akan terus-menerus diguncang badai? Pasti tidak. Badai, cepat atau lambat, pasti berlalu. Bahkan, sangat mungkin badai segera sirna dari bursa saham domestik, kendati bursa-bursa saham lainnya terguncang, limbung, dan terhuyung. Berkaca pada kinerjanya sejauh ini --menjadi jawara di Asia dan Asia Pasifik, serta nomor 6 terbaik di dunia-- bursa saham Indonesia berpeluang pulih lebih cepat.

Bursa saham Indonesia punya banyak alasan untuk selamat dari amuk badai. Alasan pertama, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Saat negara-negara lain direnggut inflasi hingga belasan, bahkan pulusan persen, Indonesia mengalami inflasi pada level yang masih terjaga. Pada Juni 2022, inflasi mencapai 4,35% (yoy). Inflasi tahun ini kemungkinan di atas target 3% plus-minus 1%, namun tak akan tembus 5%.

Alasan kedua, ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan tumbuh di atas 5%. Perkiraan itu mengacu pada laju pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2022 yang mencapai 5,01%. Di tengah prospek ekonomi dunia yang suram, tak banyak negara yang ekonominya bisa tumbuh 5%. Ekonomi Tiongkok saja hanya tumbuh 4,8%, AS 4,29%, Jerman 4,0%, Singapura 3,4%, dan Korea Selatan 3,07%.

Alasan ketiga, emiten-emiten di BEI masih mampu membukukan laba bersih. Emiten-emiten LQ45 bahkan menorehkan pertumbuhan laba bersih 70,8% pada kuartal I-2022 (yoy). Laba bersih emiten akan terus bertumbuh seiring membaiknya perekonomian. Karena alasan inilah, investor asing masih bertahan di bursa saham dalam negeri. Nilai pembelian bersih (net buy) saham oleh investor asing masih sekitar Rp 59,96 triliun (ytd).

Alasan keempat, realisasi investasi langsung terus meningkat. Realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) pada kuartal I-2022 mencapai Rp 282,4 triliun, naik 28,5% dibandingkan periode yang sama 2021. Realisasi PMDN meningkat 25,1% menjadi Rp 135,2 triliun, sedangkan realisasi PMA tumbuh 31,8% menjadi Rp 147,2 triliun.

Maka tak ada keraguan sedikit pun bahwa bursa saham Indonesia siap menghadapi kemungkinan terburuk akibat kondisi global yang tak menentu. Tentu bursa saham domestik akan lebih siap lagi jika pemerintah bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) berhasil mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN