Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendera Tiongkok dan AS berkibar di luar gedung perusahaan di Shanghai, Tiongkok pada 16 November 2021. (FOTO: REUTERS/Aly Song/File Photo)

Bendera Tiongkok dan AS berkibar di luar gedung perusahaan di Shanghai, Tiongkok pada 16 November 2021. (FOTO: REUTERS/Aly Song/File Photo)

Antisipasi Ancaman Resesi Global

Rabu, 3 Agustus 2022 | 08:38 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Fundamental ekonomi Indonesia memang masih baik dan bahkan memasuki fase ekspansi, namun demikian perlambatan pertumbuhan global perlu tetap diwaspadai. Ancaman resesi global yang nyata di tengah lonjakan inflasi tinggi harus segera diantisipasi otoritas fiskal, moneter, maupun jasa keuangan kita.

Perekonomian RI yang masih cukup stabil, di tengah ancaman resesi global dan volatilitas sektor keuangan yang tinggi, ini berkat kian pulihnya mobilitas masyarakat seiring pandemi mereda, plus harga-harga komoditas unggulan ekspor kita melambung luar biasa. Alhasil, berbeda dari biasanya yang defisit, kinerja APBN tahun ini malah sangat kinclong, membukukan surplus signifikan.

Advertisement

Kementerian Keuangan mencatat, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) surplus Rp 73 triliun pada semester I-2022, setara 0,39% dari total produk domestik bruto (PDB). Penerimaan negara melonjak 48,5% year on year, menembus Rp 1.317,2 triliun hingga akhir Juni lalu, jauh lebih tinggi dari realisasi belanja pemerintah Rp 1.243,6 triliun.

Jika dibedah, montoknya kantong negara terutama berkat penerimaan pajak yang melonjak 55,7% ke Rp 868,3 triliun. Penerimaan dari kepabeanan dan cukai juga tumbuh 37,2% ke Rp 167,6 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) naik 35,8% menjadi Rp 281 triliun.

Meski demikian, ekonomi Indonesia juga tidak terlepas dari dampak gejolak ekonomi global, yang bersumber dari melambungnya harga energi dan pangan karena gangguan pasokan global lantaran pandemi Covid-19, ditambah perang berkepanjangan di Eropa antara Rusia dan Ukraina. Inflasi di Amerika Serikat, yang merupakan ekonomi terbesar dunia, sudah menembus 9,1% Juni lalu atau tertinggi dalam empat dekade.

Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), pun terpaksa menaikkan agresif suku bunganya guna memerangi inflasi, di tengah pertumbuhan ekonomi yang sudah kontraksi dua kuartal terakhir berturut-turut tahun ini. Penaikan Fed Funds Rate itu mendorong dolar pulang kandang dan menimbulkan gelombang dahsyat, foreign capital outflow, dari emerging markets termasuk Indonesia. Alhasil, nilai tukar rupiah dan mata uang negara lain terhadap dolar AS terdepresiasi.

Meski Gubernur The Fed Jerome Powell dan Presiden AS Joe Biden yakin ekonomi Amerika Serikat tak memasuki resesi, namun produk domestik brutonya yang terkontraksi dua kuartal berturut-turut tentu berdampak menekan pemulihan ekonomi global. The Fed menegaskan belum ada tanda-tanda ekonomi Amerika mengalami resesi, lantaran banyak aspek yang menunjukkan kinerja terlalu baik untuk dikategorikan resesi, seperti penambahan lapangan kerja AS pada Juni tetap kuat dengan 372.000 pekerjaan diciptakan dan tingkat pengangguran bertahan di kisaran 3,6%. Angka pengangguran ini lebih baik dari Indonesia.

Selain banyak kalangan masih mengkhawatirkan ekonomi AS terancam resesi, kinerja perekonomian Tiongkok dan kawasan Uni Eropa yang menurun juga perlu kita waspadai. Apalagi, semalam muncul episentrum ketegangan geopolitik baru di Asia, setelah Ketua DPR AS Nancy Pelosi kemarin mendarat di Taipei, di tengah protes dan ancaman keras RRT yang menolak kunjungan provokatif pejabat tinggi negara adidaya tersebut ke Taiwan. Dalam kaitan ekonomi sisi eksternal ini, kita juga perlu memperhitungkan India, karena keempatnya merupakan tujuan ekspor utama Indonesia.

Setelah AS, Tiongkok merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia, UE ketiga, dan India di posisi sembilan. AS, RRT, Uni Eropa, dan India mewakili 62,1% PDB dunia.

Artinya, bila kini mereka sedang dilanda perlambatan pertumbuhan ekonomi atau kontraksi plus hiperinflasi (stagflasi), bahkan terancam resesi, maka kita juga harus segera melakukan langkah antisipasinya. Indonesia tidak boleh meremehkan ancaman resesi global.

Selain memperkuat sinergi pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan untuk stabilitas moneter, fiskal, dan jasa keuangan; pasokan pangan dan energi harus dipastikan cukup tersedia dan terjangkau. Pemerintah diimbau tidak mengambil kebijakan yang melawan pasar dan menaikkan harga barang dan jasa.

Oleh karena itu, realisasi pengucuran subsidi BBM, LPG 3 kg, dan listrik harus lancar sesuai anggaran subsidi yang telah dinaikkan. Selain itu, sistem penyalurannya harus terus diperbaiki agar tepat sasaran dan mencegah penyelewengan, baik oleh orang kaya yang tidak layak disubsidi maupun diselundupkan untuk dijual lagi mengingat disparitas dengan harga pasar sangat tinggi. Penyaluran subsidi harus transparan dan bisa diawasi pula oleh masyarakat luas lewat sistem aplikasi online terpadu, seperti MyPertamina. Dengan demikian, kuota baru -- yang telah ditambah banyak -- tidak jebol lagi dan menimbulkan kelangkaan, yang dipastikan memicu keresahan masyarakat.

Apalagi di sektor migas ini ketergantungan impor kita masih sangat besar, sehingga akan menggerogoti surplus neraca perdagangan dan menambah tekanan depresiasi rupiah. Hal ini bisa berujung makin mendorong kenaikan inflasi karena imported inflation di Tanah Air.

Selain itu, antisipasi harus segera dilakukan dengan mendorong penetrasi ekspor di luar keempat pasar ekspor tradisional kita itu. Ini misalnya dengan meningkatkan ekspor ke Timur Tengah yang ekonominya tengah melejit karena booming migas. Misalnya Arab Saudi yang pertumbuhan ekonomi menembus 11,8% pada kuartal II-2022.

Kita juga harus meningkatkan kerja sama dan proaktif menarik lebih banyak investasi global untuk peningkatan kapasitas produksi pangan kita, baik di sektor pangan pokok, peternakan, hingga perikanan. Selain untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga di dalam negeri, kelebihannya juga bisa diekspor dan menolong negara-negara tetangga.

Ini misalnya menarik investasi Singapura yang kekurangan pasokan daging ayam karena kebijakan larangan ekspor oleh Malaysia, hingga menggandeng Tiongkok yang kini menambah impor minyak sawit dari Indonesia 1 juta ton. Ditopang produktivitasnya yang paling tinggi di dunia, minyak sawit masih menjadi yang termurah di antara minyak goreng nabati dunia yang lain.

Dengan demikian, antisipasi ini sekaligus akan mendorong perekonomian kita makin kokoh. Pertumbuhan ekonomi pun tak perlu terpaku pada angka 5%, namun melaju 6% atau bahkan 7% ke depan. Apalagi, kita pernah menguji level di atas 7% di kuartal II tahun lalu.  

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN