Menu
Sign in
@ Contact
Search
Batik Air melayani penerbangan ke daerah wisata Banyuwangi, Jatim.

Batik Air melayani penerbangan ke daerah wisata Banyuwangi, Jatim.

Redam Lonjakan Harga Tiket Pesawat

Jumat, 12 Agustus 2022 | 08:16 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Lonjakan harga tiket pesawat yang gila-gilaan tentu saja tak layak dibiarkan, meski harga bahan bakar avtur memang naik tajam. Pasalnya, selain menghambat pemulihan sektor pariwisata yang baru saja menggeliat, juga membebani masyarakat di daerah yang mesti mengandalkan transportasi udara mengingat negara kita kepulauan.

Harga tiket pesawat melambung, baik untuk rute domestik maupun internasional. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 142 Tahun 2022 tentang Besaran Biaya Tambahan (Surcharge) yang Disebabkan Adanya Fluktuasi Bahan Bakar (Fuel Surcharge) Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri yang berlaku mulai 4 Agustus ini, fuel surcharge naik menjadi maksimal 15% untuk pesawat jenis jet dan maksimal 25% untuk pesawat jenis turboprop. Sebelumnya, diperbolehkan untuk menaikkan harga tiket dengan mengenakan tarif tuslah tersebut sebesar 10% dari tarif batas atas harga tiket untuk pesawat jet, dan 20% untuk pesawat baling-baling. Kebijakan akan dievaluasi kembali setelah tiga bulan pemberlakuan.

Untuk rute luar negeri dari dan ke Singapura yang selama ini menjadi jalur utama masuknya wisatawan asing misalnya, kini harga tiketnya melambung berlipat-lipat. Sebelumnya, untuk perjalanan pulang pergi ke negeri jiran itu hanya berkisar antara Rp 2-3 juta, sudah dengan maskapai yang full service. Namun, belakangan harga tiket Jakarta-Singapura untuk penerbangan ekonomi yang murah pun sudah Rp 3,4 juta menggunakan maskapai Scoot. Sementara KLM membanderol tiket Rp 4 juta, Jet Star Rp 4,2, Air Asia Rp 4,8 juta, dan Batik Air Rp 5,2 juta. Sedangkan untuk harga tiket bisnis, Batik Air mematok harga tiket Rp 8,9 juta, KLM Rp 10,2 juta, dan Singapore Airlines Rp 16,7 juta.

Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi pentahelix untuk menciptakan win-win solution dalam menyikapi kenaikan tiket pesawat. Ini tentu saja perlu melibatkan sinergi antara pemerintah, operator bandara, maskapai penerbangan, pelaku bisnis pariwisata, hingga perhotelan dan industri yang lain.

Sharing pain mendesak dilakukan agar konsumen termasuk wisatawan tetap mau jalan, industri penerbangan tetap bisa menerbangi rute-rute operasinya, dan perekonomian daerah pun berputar. Kolaborasi dengan inovasi dan kreativitas perlu dilakukan agar semuanya bisa berjalan beriringan, sehingga industri pariwisata yang banyak menyerap tenaga kerja dan memiliki multiplier effect tinggi bisa bangkit kembali.

Kolaborasi ini misalnya, maskapai penerbangan, agen perjalanan, dan pelaku pariwisata termasuk perhotelan membuat paket-paket wisata menarik, sehingga harga tiket pesawat di tangan konsumen menjadi lebih terjangkau. Contohnya, membuat promo paket wisata ke Bali untuk 4 hari 3 malam, yang sudah termasuk di dalamnya tiket pesawat dan hotel untuk menginap atau paket wisata lainnya. Ini misalnya juga bisa di-bundle dengan kunjungan wisata ke daerah sekitarnya seperti Jatim, sekaligus mengunjungi pusat belanja dan kawasan industrinya.

Kolaborasi lainnya adalah promo tiket penerbangan malam (night fare) untuk penerbangan jarak dekat, seperti Jakarta ke Batam, Padang, atau Bali. Di negara-negara di Eropa, sistem tiket yang demikian sudah lazim berlaku, yang selain memberi kesempatan konsumen menikmati tarif pesawat murah juga mengoptimalkan penggunaan pesawat yang masih memiliki kuota terbang harian. Hal ini tentu saja butuh dukungan banyak pihak, termasuk operator bandara yang notabene BUMN.

Upaya lain adalah pemerintah harus ikut memberikan win-win solution agar arus kunjungan tetap tinggi. Ini di antaranya dengan mendorong kegiatan dinas/lokakarya/kunjungan aparat pemerintahan ke luar daerah yang positif.

Pemerintah juga perlu turun tangan membantu memberikan stimulus untuk meredam lonjakan harga tiket ini, terutama dalam mengatasi kenaikan harga avtur yang menjadi komponen utama biaya penerbangan. Harga avtur yang sudah naik sekitar 70% dibandingkan tahun lalu itu, sebagian harus disubsidi pemerintah.

Apalagi, pemerintah juga masih rendah dalam merealisasi stimulus Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN), sementara penerimaan negara melambung berkat windfall profit dari lonjakan kenaikan harga komoditas ekspor kita. Selain itu, masih ada Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) yang menembus Rp 302,8 triliun per Juli lalu. Dana pemda yang mengendap di perbankan juga masih luar biasa banyak, mencapai Rp 212,44 triliun.

Kini, dana-dana tersebut sudah saatnya dimanfaatkan untuk menyubsidi tiket pesawat ekonomi guna mendorong momentum pemulihan pariwisata yang menyerap banyak tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi daerah. Seiring dengan mendekatnya momen liburan sekolah, Natal, dan Tahun Baru, subsidi juga mendorong arus liburan ke luar negeri sebagian bisa dialihkan ke destinasi wisata dalam negeri. Selain pemerintah diuntungkan dengan penghematan devisa, dengan menjelajahi negeri sendiri, maka memupuk persatuan dan cinta Tanah Air yang sangat dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan berkesinambungan ke depan.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com