Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden Joko Widodo meresmikan peluncuran mobil listrik pertama di Indonesia, Hyundai Ioniq 5 di pabrik PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/3/2022). Foto: BPMI Setpres

Presiden Joko Widodo meresmikan peluncuran mobil listrik pertama di Indonesia, Hyundai Ioniq 5 di pabrik PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/3/2022). Foto: BPMI Setpres

Menjadi Game Changer  Pasar Kendaraan Listrik Dunia

Rabu, 21 September 2022 | 11:00 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Tentu saja Indonesia saat ini masih dipandang sebelah mata dalam peta industri mobil listrik dunia. Namun, percayalah, dalam 10-20 tahun mendatang, Indonesia bisa menjadi penentu (game changer) industri mobil listrik global. Bahkan, negeri ini berpeluang mampu memproduksi sendiri mobil listrik bermerek nasional di masa mendatang.

Obsesi Indonesia menjadi game changer industri mobil listrik global bukan isapan jempol. Indonesia merupakan penghasil nikel terbesar di dunia. Nikel adalah bahan baku utama baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Sekitar 37% nikel dunia berada di negeri ini. Produksi nikel Indonesia, menurut data United States Geological Survei (USGS), mencapai 1 juta MT pada 2021. Cadangan nikel tersebar di berbagai daerah di Tanah Air. Hampir 90%-nya berada di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

Nikel memiliki porsi 60% dalam katoda baterai, sisanya mangan, kobalt, dan litium. Katoda berkontribusi 51% terhadap biaya pembuatan komponen sel baterai EV, 49% sisanya disumbang manufaktur dan depresiasi (24%), anoda (12%), separator (7%), elektrolit (4%), serta blok baterai dan material lain (3%). Jangan lupa, baterai punya porsi 60-70% terhadap harga kendaraan listrik.

Itu sebabnya, dalam satu dekade terakhir, investor dari berbagai negara berbondong-bondong datang dan menanamkan modalnya di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara. Mereka menambang dan mengolah nikel berikut bahan baku baterai EV lainnya, seperti bauksit, mangan, dan kobalt.

Para investor top dunia sudah masuk dalam mata rantai ekosistem baterai EV di Indonesia, dari mulai CATL, LG ES, hingga Huayou, Lygend, dan CNGR. Holding baterai milik negara yang belum ini dibentuk, PT Indonesia Baterai Indonesia (IBI) atau Indonesia Battery Corporation (IBC), juga terlibat. Begitu pula PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Maka tak lama lagi, Indonesia bakal menjadi pusat industri baterai EV dunia. Indikasinya, investasi terus mengalir ke industri baterai EV. Dalam lima tahun mendatang, total investasi yang masuk ke industri hulu dan hilir baterai EV di Tanah Air mencapai US$ 21 miliar. Investasi itu di antaranya masuk ke penambangan nikel, pengolahan nikel menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat, pabrik katoda, anoda, serta sel baterai.

Yang menggembirakan, hilirisasi nikel di dalam negeri telah mengarah ke industri bahan baku baterai EV atau battery grade (BG) dengan kandungan nikel sangat tinggi yang bisa menekan harga baterai EV ke depan, karena proses produksinya sudah menggunakan teknologi terbaru oxygen-rich side-blow furnace technology (OSBF) dan high pressure acid leach (HPAL). Lompatan ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan industri pengolahan nikel di Indonesia menghasilkan nickel pig iron (NPI), feronikel, dan baja nirkarat (stainless steel/SS). Yang sudah masuk ke industri BG di antaranya Lygend (pemasok CATL), Huayou (pemasok LG), dan CNGR (pemasok Tesla).

Dengan cadangan nikel terbesar di dunia dan dengan populasi nomor 4 terbesar di dunia –kini mencapai 274,79 juta jiwa-- Indonesia bisa memosisikan diri sebagai produsen sekaligus konsumen mobil listrik. Apalagi kepedulian masyarakat internasional terhadap kendaraan ramah lingkungan terus meningkat. Pada 2040, pasar otomotif global diprediksi bakal didominasi kendaraan listrik karena masyarakat semakin peduli terhadap perubahan iklim. Negara-negara maju bahkan menargetkan tak lagi menggunakan energi berbasis fosil pada 2050.

Penggunaan kendaraan listrik secara masif, pada suatu hari nanti, adalah keniscayaan. Terlebih pemerintah sudah menandatangani perjanjian Konferensi Perubahan Iklim PBB 2015 (COP 21) di Paris. Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030 dengan usaha sendiri dan 41% atas bantuan internasional. Pemerintah menargetkan pada 2030 sudah ada 600 ribu unit mobil listrik berseliweran di jalan.

Kita menaruh ekspektasi tinggi terhadap masa depan industri baterai EV di dalam negeri. Namun, bukan berarti Indonesia tak punya pekerjaan rumah (PR). Masih banyak PR yang harus dikerjakan pemerintah agar industri baterai EV Indonesia menjadi game changer pasar mobil listrik global dan menjadi produsen mobil listrik terkemuka di dunia.

Salah satu PR terberat pemerintah adalah memperpanjang ekosistem baterai EV, tidak sekadar memproduksi baterai, tapi juga memproduksi kendaraan listrik di dalam negeri. Dengan memproduksi kendaraan listrik di dalam negeri, bangsa ini akan memperoleh nilai tambah yang lebih besar, dari mulai lapangan pekerjaan, penerimaan negara, penguatan nilai tukar, hingga merek lokal kebanggaan nasional.

Masalahnya, pasar mobil listrik domestik masih kecil, baru 2%. Dengan porsi pasar mobil listrik yang kecil, pasti akan terjadi ketimpangan ketika industri baterai EV di dalam negeri tumbuh pesat. Itu artinya, produk BG dan sel baterai mesti diekspor karena tak terserap di dalam negeri, sehingga nilai tambahnya berkurang. Persoalan lainnya, jika pasar mobil listrik di dalam negeri tidak tumbuh, investor akan enggan berinvestasi ekosistem kendaraan listrik di Tanah Air.

Kedua, Indonesia tidak punya litium (untuk katoda) dan grafit (untuk anoda). Dengan demikian, para produsen baterai EV di dalam negeri harus mengimpor litium. Ini bisa menjadi persoalan saat suplainya bermasalah. Pemerintah harus menjamin kesinambungan pasokan litium dan grafit, di antaranya melalui pemberian insentif bea masuk (BM) yang rendah.

Ketiga, hilirisasi nikel cenderung hanya dilakukan para pemain asing. Pemain Indonesia terkesan cuma menjadi penonton. Sekalipun menjadi mitra, porsi sahamnya tetap minoritas. Dalam konteks ini, pemerintah harus membuat kebijakan yang mewajibkan transfer teknologi dari perusahaan-perusahaan asing kepada perusahaan domestik dalam industri baterai EV, khususnya kepada IBC dan Antam.

Keempat, pemerintah harus memastikan perusahaan-perusahaan asing memproduksi baterai EV dari hulu sampai hilir di Indonesia agar memberikan nilai tambah tinggi. Karena itu, sebaiknya pemerintah menetapkan kewajiban memasok nikel ke pasar domestik (market domestic obligation/DMO) dalam industri baterai EV. Kebijakan ini harus diterapkan. Apalagi baru-baru ini Tesla membeli nikel dari perusahaan-perusahaan Tiongkok di Indonesia. Jika praktik ini terus berlangsung, hilirisasi tidak akan memberikan manfaat optimal kepada rakyat Indonesia.

Pada akhirnya kita harus menggarisbawahi bahwa berbagai kelebihan Indonesia, seperti memiliki kandungan nikel terbesar di dunia dan punya populasi besar, tetap tak akan cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai game changer industri kendaraan listrik dunia. Ada satu hal yang tak boleh dinafikan: berpihak pada rakyat dan mengedepankan kepentingan nasional.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com