Menu
Sign in
@ Contact
Search
Petugas jasa penukaran mata uang asing menunjukkan pecahan uang dolar Amerika Serikat, di tempat jasa penukaran uang di Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2022).

Petugas jasa penukaran mata uang asing menunjukkan pecahan uang dolar Amerika Serikat, di tempat jasa penukaran uang di Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2022).

Jangan Borong Dolar

Selasa, 4 Oktober 2022 | 08:21 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Meski dolar menguat lantaran penaikan agresif suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat, masyarakat di Tanah Air tidak perlu terpancing memborong dolar. Masyarakat juga tidak perlu panik, meski rupiah sudah menembus level psikologis Rp 15.000 per dolar AS.

Pada posisi Senin (3/10/2022), nilai tukar rupiah sebesar Rp 15.302 per dolar AS. Rupiah secara year to date terdepresiasi 7,29% terhadap greenback, menyusul langkah Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) agresif menaikkan suku bunga acuannya sebesar 300 bps sejak Maret lalu, dari 0-0,25% menjadi 3,00-3,25%. Kurs rupiah ini masih lebih baik dibanding mata uang emerging markets yang lain, seperti baht Thailand yang anjlok 13,87% ytd.

Fed Funds Rate kemunginan masih dinaikkan lagi oleh The Fed sebesar 100 bps, menjadi 4-4,25% hingga akhir tahun ini. Langkah tersebut bertujuan untuk meredam lagi inflasi Amerika Serikat, yang masih menyentuh 8,3% (year on year) pada Agustus lalu. Inflasi negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu menembus 9,1% yoy pada Juni 2022, tertinggi dalam empat dekade terakhir.

Penaikan agresif FFR tersebut mendorong capital outflow dari banyak negara, dolar pulang kandang. Akibatnya, dolar menguat tajam dan menekan nilai tukar mata uang lain, termasuk rupiah.

Meski demikian, masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Pasalnya, fundamentel ekonomi kita masih kuat, berbeda jauh kondisinya dengan saat terjadi krismon 1998.

Di tengah dunia yang terancam resesi, pertumbuhan ekonomi kita masih kuat sebesar 5,44% kuartal II lalu, atau di peringkat keenam terbaik setelah India, Arab Saudi, Turki, Argentina, dan Spanyol. Laju pertumbuhan ini jauh lebih baik dari kuartal I sebesar 5,01% dan diperkirakan masih menguat ke 5,5% di kuartal III, sehingga pertumbuhan ekonomi sepanjang 2022 bisa sampai 5,2%.

Neraca pembayaran kita juga bagus. Hal ini ditopang oleh neraca perdagangan yang kinclong, termasuk lantaran kenaikan harga komoditas batu bara dan minyak sawit, yang mendorong neraca transaksi berjalan kita surplus.

Neraca perdagangan kita mencetak rekor surplus 28 bulan berturut-turut. Data terakhir, Agustus lalu, surplus neraca dagang RI menembus US$ 5,7 miliar.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), transaksi berjalan RI pada kuartal II-2022 juga surplus US$ 3,9 miliar atau 1,1% dari produk domestik bruto (PDB), melonjak dari capaian kuartal sebelumnya surplus US$ 0,4 miliar. Kinerja ini terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang semakin baik.

Alhasil, cadangan devisa kita masih relatif stabil, meski BI telah menggunakan sebagian untuk intervensi pasar guna menjaga stabilitas rupiah. Cadev posisi Agustus 2022 sebesar US$ 132,2 miliar, sama dengan posisi Juli lalu.

Inflasi juga masih masih moderat, kendati meningkat akibat penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 3 September lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada September 2022, terjadi inflasi sebesar 1,17%. Tingkat inflasi tahun kalender atau Januari–September 2022 sebesar 4,84%, dan tingkat inflasi tahun ke tahun (yoy) sebesar 5,95%.

Namun demikian, bila melihat historis kita, dampak penaikan harga BBM pada inflasi hanya berlangsung maksimum 2 bulan. Pada bulan ketiga, biasanya laju inflasi sudah melandai.

Industri kita juga makin pulih. Angka Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat pada September lalu, naik dari 51,7 di Agustus menjadi 53,7. Hasil survei S&P Global juga menunjukkan tingkat ekspansi sektor manufaktur RI tersebut terkuat dalam delapan bulan tahun ini dan solid.

Selain itu, guna menjaga nilai tukar rupiah dan meredam capital outflow, Bank Indonesia juga telah merespons dengan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 75 bps, dari 3,50% menjadi 4,25%. BI pun kemungkinan masih menaikkan kembali suku bunga acuannya, namun diperkirakan tidak terlalu agresif untuk memberi ruang berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional. Kemungkinan, suku bunga acuan BI berada hingga level 5% akhir tahun 2022.

Itulah sebabnya, masyarakat tidak perlu panik dengan memborong dolar AS. Hal ini justru akan membuat dolar bergerak liar dan merugikan kita bersama. Selain menambah beban utang luar negeri pemerintah maupun swasta, lonjakan dolar membuat harga bahan baku dan barang modal yang masih banyak diimpor semakin mahal, sehingga mendorong inflasi dan mengganggu laju pemulihan ekonomi.

Di sisi lain, pemerintah perlu segera menggelontorkan anggaran untuk memborong produk-produk dalam negeri dan mengurangi impor, sehingga kebutuhan dolar bisa ditekan. Pemerintah bersama DPR juga harus segera menyelesaikan revisi omnibus law pertama, Undang-Undang Cipta Kerja, sehingga arus investasi langsung asing (foreign direct investment) bertambah deras seiring banyaknya pembangunan infrastruktur rampung dan membaiknya iklim investasi. Artinya, saat inilah semua kita harus bersama-sama bergotong royong menjaga stabilitas rupiah dan meredam inflasi, guna mendorong momentum pemulihan ekonomi nasional. 

Editor : Ester Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com