Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden Joko Widodo bersama mantan PM Inggris yang juga Penasihat IKN Tony Blair, Kepala Badan Otorita IKN Bambang Susantono (kanan), dan Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasyid (kiri) saat menghadiri kegiatan bertajuk Ibu Kota Nusantara, Sejarah Baru Peradaban Baru, di Jakarta, Selasa (18/10/2022). Presiden Joko Widodo menegaskan, pemindahan ibu kota ke Nusantara merupakan langkah Indonesia untuk membangun budaya kerja, pemikiran, dan basis ekonomi baru. Sebagai negara besar, Indonesia harus berani memiliki agenda besar untuk melangkah demi kemajuan bangsa. (B Universe Photo/Biro Pers Media dan Informasi Setpres)

Presiden Joko Widodo bersama mantan PM Inggris yang juga Penasihat IKN Tony Blair, Kepala Badan Otorita IKN Bambang Susantono (kanan), dan Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasyid (kiri) saat menghadiri kegiatan bertajuk Ibu Kota Nusantara, Sejarah Baru Peradaban Baru, di Jakarta, Selasa (18/10/2022). Presiden Joko Widodo menegaskan, pemindahan ibu kota ke Nusantara merupakan langkah Indonesia untuk membangun budaya kerja, pemikiran, dan basis ekonomi baru. Sebagai negara besar, Indonesia harus berani memiliki agenda besar untuk melangkah demi kemajuan bangsa. (B Universe Photo/Biro Pers Media dan Informasi Setpres)

Transformasi Dorong Ekonomi Pulih Cepat

Kamis, 20 Oktober 2022 | 08:11 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Strategi Presiden Joko Widodo (Jokowi) memainkan ‘rem dan gas’ dalam penanganan pandemi Covid-19 membantu ekonomi Indonesia pulih lebih cepat. Resesi memang sempat terjadi, sama seperti negara-negara lain di dunia, namun tak berlangsung lama.

Kasus positif Covid-19 yang terkonfirmasi di Tanah Air sejak Maret 2020 memaksa pemerintah memberlakukan pembatasan mobilitas masyarakat dan kegiatan usaha, sehingga langsung merontokkan ekonomi kita pada kuartal II.

Ekonomi masih terkontraksi dalam tiga triwulan berikutnya, namun berkat keteguhan menerapkan strategi 'rem dan gas', akhirnya mulai meninggalkan zona resesi menginjak kuartal II tahun lalu.

Ekonomi Indonesia tahun lalu sudah tumbuh sebesar 3,69%, setelah terkontraksi 2,07% pada 2020. Pertumbuhan ekonomi sudah mulai konstan di atas 5% sejak triwulan IV-2021, dan bahkan jauh melampaui ekspektasi saat menembus 5,44% kuartal II tahun ini.

Penangan Covid-19 di Indonesia dinilai bagus, berkat kesigapan pemerintah mengamankan pasokan vaksin di tengah stok dunia yang masih terbatas, plus dukungan warga mematuhi program vaksinasi massal. Masyarakat pun kini sudah dapat bergerak leluasa, sehingga ekonomi melaju.

Selama pandemi Covid-19, pemerintah tak ketinggalan menerapkan countercyclical, didukung sinergi dengan Bank Indonesia, dengan menggelontorkan dana Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN). PCPEN 2020 mencapai Rp 695,2 triliun, meski hanya terealisasi Rp 575,8 triliun atau 82,83%. PCPEN 2021 dinaikkan menjadi sebesar Rp 744,8 triliun, dengan realisasi juga di bawah anggaran.

Pada 2022, pemerintah masih menyiapkan dana PCPEN sebesar Rp 455,62 triliun, yang seiring penurunan pandemi, juga diperkirakan masih tersisa di akhir tahun. Realisasi di bawah anggaran itu tak lepas dari kesuksesan Jokowi dalam meyakinkan parlemen untuk menyetujui Perppu Nomor 1 Tahun 2020 yang sangat 'powerfull' menjadi undang-undang, yang memungkinkan defisit APBN diperlonggar dari batas maksimal 3% dari produk domestik bruto (PDB), selama tiga tahun.

Realisasi defisit APBN tahun 2020 melonjak dari tahun sebelumnya, hingga Rp 947,6 triliun, atau sekitar 6% PDB. Pada 2021, realisasi defisit anggaran sebesar 4,57% PDB, lebih rendah dari target APBN 5,7%.

Sementara itu, defisit dalam Undang-Undang APBN 2022 semula dirancang sebesar 4,85% PDB. Angka tersebut kemudian direvisi melalui Perpres No 98 Tahun 2022 menjadi 4,5% dari PDB, dan kini pemerintah menargetkan outlook turun lagi menjadi 3,92%.

Realisasi dana PCPEN dan defisit APBN yang di bawah target tersebut membuat pemerintah masih punya dana untuk menginjeksi daya beli masyarakat lewat perlinsos kepada masyarakat miskin dan rentan miskin serta bantuan UMKM, saat harga BBM bersubsidi dinaikkan 3 September lalu. Lonjakan harga minyak, gegara invasi Rusia ke Ukraina yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya, membuat beban subsidi energi bertambah membengkak.

Pemerintah menggelontorkan insentif pula kepada UMKM, yang mendukung pelaksanaan stimulus relaksasi restrukturisasi kredit yang diberikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Stimulus yang sangat diperlukan ini telah diperpanjang hingga Maret tahun depan.

Walau belanja pemerintah terhadap PDB hanya sekitar 11-12%, namun menjadi katalisator ekonomi, dengan langsung mengintervensi daya beli rakyat kecil lewat bantuan langsung tunai (BLT) dan perlinsos yang lain. Ketika harga energi naik tajam, pemerintah juga masih mempertahankan subsidi, meski harga BBM sedikit dinaikkan. Bila kini ternyata realisasi inflasi lebih rendah dari prediksi awal, hal itu karena sebagian dibeli oleh pemerintah kita.

Pandemi Covid-19 tertangani dan pertumbuhan ekonomi nasional yang terangkat lewat spending besar untuk countercyclical, merupakan buah kerelaan pemerintah menanggung defisit besar untuk PCPEN. Ekonomi kita cepat pulih dan tahun ini dipastikan tumbuh minimal 5,2%.

Ekonomi Indonesia di bawah Jokowi juga terus ditransformasi, di tengah pemerintahan periode keduanya yang langsung berhadapan dengan pandemi dunia Covid-19. Tiga tahun pertama harus dihabiskan dengan memerangi Covid-19, yang untungnya berkat kebijakan stimulus dana PCPEN dan transformasi, berhasil memulihkan ekonomi cepat dalam jangka pendek dan menciptakan sustainability jangka panjang.

Transformasi yang pertama adalah hilirisasi dan berlanjut ke industrialisasi, yang mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi. Ini contohnya nikel, yang ekspornya naik 19 kali lipat pada 2021, menembus US$ 20,9 miliar, dari hanya US$ 1,1 miliar enam tahun lalu.

Yang kedua adalah digitalisasi. Pandemi menjadi the great CEO untuk shifting dari pekejaan manual ke digitalisasi. Akselerasi signifikan selama pandemi ini dimanfaatkan Jokowi untuk mendorong startup tumbuh, termasuk dengan go public. Fokus digitalisasi juga agar UMKM naik kelas, demikian pula didorong BUMN go global.

Minimal 30% UKMM juga harus mendapat kredit perbankan, dan pemerintah menargetkan komitmen belanja produk dalam negeri Rp 950 triliun. Kebijakan pemerintah sekarang yang menggerakkan UMKM ini sangat bagus, karena usaha rakyatlah yang mampu menyerap 99% tenaga kerja di Indonesia dan menyumbang PDB 61%. Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi umumnya juga produksi UMKM. Artinya, menggerakkan UMKM berarti menggerakkan ekonomi Indonesia.

Transformasi ketiga adalah ekonomi hijau untuk keberlanjutan. Komitmen untuk green energy ini bisa dilihat dari berbagai aksi dan regulasi kondusif untuk mendorong pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Alhasil, Indonesia mendapat apresiasi dunia. Bila di belahan lain banyak negara ekonominya mulai minus dihantam gelombang ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, pertumbuhan RI masih oke. Pada kuartal II lalu, ekonomi kita yang tumbuh 5,44% tercatat sangat bertolak belakang dengan raksasa Tiongkok yang kinerjanya meluncur ke 0,4%, mendekati nadir.

Semua prestasi itu ditunjang visi Jokowi yang propemerataan, yang terlihat pada program pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan, agar arah pembangunan bisa keluar dari Jawa sentris menjadi Indonesia sentris. Jokowi juga dipuji dengan kebijakannya yang probisnis, dengan prestasi puncak menggolkan omnibus law pertama UU Cipta Kerja. Selain itu, stabilitas politik juga terjaga, dengan merangkul lawan-lawan politik utamanya masuk dalam kabinet. Demikian pula TNI dan Polri tetap tegak mendukung pemerintah.

Editor : Ester Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com