Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ekspor sawit Indonesia ke Swiss dan negara EFTA lainnya akan terbuka lebar setelah ratifikasi Indonesia - EFTA CEPA (IE-CEPA). Foto: KBRI Swiss.

Ekspor sawit Indonesia ke Swiss dan negara EFTA lainnya akan terbuka lebar setelah ratifikasi Indonesia - EFTA CEPA (IE-CEPA). Foto: KBRI Swiss.

Perkuat Industri Sawit

Sabtu, 5 November 2022 | 08:20 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Meski kini digeser oleh batu bara dari posisi sebagai penghasil devisa terbesar ekspor nonmigas, minyak sawit masih berpotensi kembali merebut gelar bergengsi tersebut. Produktivitasnya yang paling tinggi membuat harganya paling kompetitif di antara minyak nabati dunia. Tak heran, meski diadang berbagai kampanye hitam dari Barat dan dikenai tarif masuk tinggi, pangsa pasarnya terus membesar.

Pecahnya agresi Rusia ke Ukraina yang mengganggu pasokan energi dan pangan sebenarnya juga sempat melambungkan harga minyak sawit, meski tidak setinggi batu bara. Namun, saat itu pemerintah sempat melarang ekspor minyak sawit guna meredam lonjakan harga minyak goreng di dalam negeri, sehingga volume ekspor turun. Belakangan juga tercapai perjanjian antara Rusia dan Ukraina untuk membuka kembali keran ekspor biji-bijian dari Laut Hitam, yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, sehingga terjadi normalisasi harga minyak nabati. Sementara itu, harga komoditas energi masih tinggi lantaran OPEC+ juga memutuskan mengurangi produksi minyak bumi.

Harga CPO (minyak sawit mentah) sempat rally hingga mencetak rekor tertinggi di level sekitar US$ 1.800 per metrik ton semester I lalu, meski kemudian melambat dan berada di posisi US$ 917 pada kontrak bulan ini. Meski demikian, minyak sawit masih menyumbang devisa US$ 26,2 miliar atau 12,6% terhadap total ekspor nonmigas dalam sembilan bulan pertama tahun ini, hanya kalah dari batu bara yang menembus US$ 39,9 miliar (19,2%).

Kinerja ekspor minyak sawit juga masih terpaut jauh dengan ekspor besi dan baja yang berada di peringkat ketiga, senilai US$ 20,9 miliar. Sedangkan golongan barang lain yang masuk 10 besar ekspor nonmigas adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya; kendaraan dan bagiannya; bijih logam, kerak, dan abu; serta pakaian dan aksesorinya (rajutan). Selain itu, pulp dari kayu; buah-buahan; serta gula dan kembang gula.

Di tengah tantangan ancaman stagflasi dunia tahun depan, peluang minyak sawit kembali bullish sebenarnya masih terbuka. Pasalnya, komoditas pangan tersebut tren produksinya tengah menurun tahun ini di Indonesia, yang merupakan produsen terbesar dunia.

Potensi penurunan produksi itu dikarenakan gangguan pemupukan lantaran mahalnya harga pupuk, serta banyak sawit yang tidak dipanen ketika pemerintah melarang ekspor. Selain itu, komoditas ini juga dipengaruhi alam, yang bila cuacanya tidak bersahabat akan menurunkan produksi.

Sejumlah kalangan melihat harga CPO tahun depan akan sedikit melemah, bila merujuk pada proyeksi IMF dan World Bank bahwa pertumbuhan ekonomi global pada 2023 hanya berada di kisaran 2,7%. Namun, bila ternyata situasi ekonomi global tak separah itu, harga CPO masih bisa kembali mendekati US$ 1.000 per metrik ton. Ini lantaran pertumbuhan populasi dunia dan tren green energy meningkatkan permintaan untuk minyak nabati dan berbagai peruntukan lain, mulai dari biodiesel, aneka produk pangan, kosmetik, hingga farmasi.

Berdasarkan data International Energy Agency, permintaan biodiesel pada 2021 sudah melewati level sebelum pandemi Covid-19. Volumenya naik 15%, atau 7 juta kiloliter, dari level tahun 2019. Ini lantaran konsumsi renewable fuel yang mengurangi emisi karbon itu meningkat terutama di Amerika Serikat dan Asia. Periode 2020-2026, permintaan biodiesel dunia diproyeksikan terus naik, menjadi tiga kali lipat.

Sementara itu, produksi minyak sawit Indonesia tahun ini diperkirakan sebanyak 51 juta ton, dan untuk tahun depan diproyeksikan bisa sama atau bisa pula turun. Selain aspek jumlah produksi, harga minyak sawit juga akan dipengaruhi perkembangan situasi perang Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung.

Di sinilah pemerintah Indonesia harus tepat dalam menetapkan arah kebijakan persawitan ke depan, karena hal ini juga menyangkut nasib sekitar 16,2 juta orang tenaga kerja yang menggantungkan penghidupan dari sektor tersebut. Rinciannya, 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung.

Selain meningkatkan implementasi praktik sawit berkelanjutan yang menjadi tuntutan konsumen global, ke depan, Indonesia harus mendorong konsumsi dalam negeri untuk menjaga agar harga minyak sawit di pasar internasional tidak anjlok. Ini misalnya dengan mempercepat pengembangan program B40 atau campuran biodiesel 40% dengan 60% solar, dari saat ini B30, bersamaan dengan pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai.

Kedua program tersebut dapat berjalan bersama-sama untuk memangkas emisi karbon menuju tercapainya target net zero emission (NZE) tahun 2060. Didukung pula oleh keunggulan sumber daya alam kita, porsi biodiesel berikutnya perlu ditingkatkan ke B50 dan seterusnya, hingga B100.

Jika merujuk data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi konsumsi biodiesel sebesar 8,3 juta kl Januari-Oktober lalu. Angka tersebut sekitar 73% dari kuota tahun ini yang mencapai 11,02 juta kl untuk program B30.

Artinya, percepatan program mandatori biodiesel tak hanya menurunkan emisi karbon menuju NZE, namun juga mengurangi impor solar/minyak bumi yang banyak menguras devisa negara. Ini juga membantu meredam tekanan terhadap rupiah yang terdepresiasi akibat dolar pulang kandang, dipicu kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat yang menaikkan suku bunga acuannya.

Dengan harga minyak sawit dapat didorong kembali, maka devisa ekspor pun kembali ditingkatkan tanpa perlu menambah volume yang dilego ke luar negeri. Jutaan petani kembali dapat menikmati harga tandan buah segar (TBS) yang tinggi dan industri mampu ekspansi, sekaligus menggairahkan kembali ekonomi.

Editor : Ester Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com