Kiper Kroasia Dominik Livakovic merayakan kemenangan atas Jepang bersama rekan-rekannya.

Kiper Kroasia Dominik Livakovic merayakan kemenangan atas Jepang bersama rekan-rekannya.

Piala Dunia Pompakan Semangat Kemenangan

Sabtu, 10 Des 2022 | 08:20 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

FIFA World Cup merupakan sporting event terbesar di dunia, mengalahkan The Olympic Games. Meski hajatan Piala Dunia ini butuh biaya sangat besar, banyak negara rela antre jauh-jauh hari untuk menjadi tuan rumah.

Bahkan, Qatar dikabarkan menggelontorkan hingga Rp 3.400 triliun untuk mempersiapkan segala sesuatunya sejak 12 tahun lalu, terhitung mulai ditetapkan sebagai tuan rumah pada 2010. Piala Dunia 2022 ini tercatat yang termahal sepanjang sejarah, termasuk untuk membangun banyak stadion dan berbagai sarana pendukung yang menjadi tanggung jawab tuan rumah.

Hal ini tak mengherankan, karena sporting event dunia itu merupakan mesin pembangkit industri pariwisata dan menggerakkan sektor ekonomi yang lain. Selain World Cup dan Olympics, berdasarkan catatan Bleacher Report, sporting event yang masuk 15 besar adalah The 24 Hours of Le Mans, Super Bowl XLVI, The Grand National, The Masters Tournament, Polo at Palermo, pertandingan tenis Wimbledon, Kentucky Derby, liga basket NBA, ICC Cricket World Cup Championship, The World Series, balap sepeda Tour De France, March Madness, dan kompetisi tahunan klub-klub sepak bola Eropa UEFA Champions League.

Dalam FIFA World Cup yang diselenggarakan empat tahun sekali, perhatian masyarakat seluruh dunia melekat pada pertandingan yang diikuti timnas dari 32 negara terbaik. Turnamen sepakbola yang berlangsung sekitar 1 bulan ini paling banyak dicintai penonton, yang kaya maupun miskin.

Advertisement

Tak heran, banyak negara berebut menjadi tuan rumah Piala Dunia, guna memanfaatkan momentum untuk mendongkrak pariwisata dan menggairahkan ekonominya. Selain menarik para pelancong asing, investasi yang bergulir juga menyerap banyak tenaga kerja.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun antusias mempersiapkan Indonesia untuk ikut bidding tuan rumah Olimpiade 2036. Ini juga kesempatan emas bagi timnas sepak bola kita untuk ikut Piala Dunia, setelah seabad lalu--tepatnya tahun 1938--berlaga di Prancis. Pada masa itu, masih memakai nama Hindia Belanda, Indonesia menjadi tim Asia pertama yang bertanding di ajang kompetisi olah raga paling bergengsi.

Dari sisi pariwisata kita, jelas menjadi tuan rumah Piala Dunia berarti promosi yang luar biasa. Ribuan wartawan dari berbagai negara akan meliput, belum lagi ramai di media sosial para nitizen.

Piala Dunia ini tercatat menyedot penonton paling banyak. Pertandingan final antara Spanyol dan Belanda tahun 2010, diperkirakan ditonton 700 juta orang.

Sementara itu, Olympics musim panas tahun 2008 di Beijing, mampu menarik perhatian 600 juta penonton dalam seremoni pembukaannya. Sporting event lain yang masuk 10 besar dengan jumlah penonton terbanyak adalah ICC Cricket World Cup Championship, Super Bowl XLVI, Monaco Grand Prix, Tour De France, Giro D’italia, UEFA Champions League, FIFA Confederations Cup, dan Rugby World Cup.

Sepak bola ini menjadi olah raga paling populer, yang tak mengenal gender. Hampir semua laki-laki suka bola, dan tak sedikit wanita yang sama fanatiknya.

Olah raga ini mampu menyatukan umat manusia. Orang berkumpul, berkerumun, tanpa melihat agama, suku, dan bangsa. Tim mana pun yang bagus akan didukung. Para penontonnya sportif dan loyal.

Bagi banyak orang, kecintaan terhadap sepak bola, termasuk klub atau pemainnya, memang melebihi permainan itu sendiri. Menonton dan mendukung klub atau pemain tertentu sudah seolah menjelma menjadi praktik ritual.

Sepak bola pun lebih dari sekadar olahraga, permainan, bisnis, maupun prestasi, karena banyak nilai-nilai yang bisa kita petik. Sepak bola mengajarkan kita bekerja sama, tidak egois, dan kompak dalam satu nafas perjuangan.

Sepak bola juga mengajarkan kedisiplinan, memupuk sifat kepemimpinan, keuletan, sportivitas dan fairplay, serta kerja keras. Para legenda pemain dunia dipenuhi dengan tempaan kerja keras dan disiplin tinggi sejak usia dini, tak kenal lelah, tak cukup hanya mengandalkan talenta pun harta orang tua.

Pemain Argentina yang mencetak ‘gol tangan Tuhan’, Diego Maradona, tak ragu berujar, “Ketika orang berhasil, itu karena kerja keras. Keberuntungan tidak ada hubungannya dengan kesuksesan." Kesuksesan juga tak dibatasi dari mana kita dilahirkan.

Olahraga ini terkenal dengan governance yang paling tinggi, wasitnya relatif fair, semua tunduk pada aturan main. Semua tim mendapatkan perlakuan yang sama, yang melahirkan idiom “a level playing field”, di mana semua diberi kesempatan yang sama.

Teknologi terbaik juga terus dimanfaatkan untuk evaluasi dan mendongkrak kinerja tim. Berbagai teknik terus dikembangkan tanpa kenal lelah dan bosan. Harapan dan semangat baru senantiasa dipompakan untuk menciptakan peluang dan meraih kemenangan. Sikap yang akan mengantarkan kita menjadi juara kehidupan. 

Editor : Ester Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com