Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi smartphone. (Dok. B-Universe)

Ilustrasi smartphone. (Dok. B-Universe)

Memajukan Teknologi RI

Sabtu, 7 Jan 2023 | 08:22 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Reformasi ekonomi struktural terus digulirkan pemerintah, dengan memacu pembangunan infrastruktur, hilirisasi sumber daya alam, dan kini memperkuat industrialisasi. Anggaran pemerintah dan BUMN pun diperbesar untuk belanja produk-produk dalam negeri. Namun, upaya ini tidak cukup untuk membawa Indonesia menuju negara maju.

Kita masih harus mengejar juga pembangunan peradaban teknologi, yang menjadi kunci meningkatkan daya saing ekonomi. Langkah inilah yang secara sistematis dilakukan Tiongkok, yang kini sukses memperkuat posisi produk-produknya di pasar global, didukung kekuatan konsumsi dalam negeri dengan penduduk menembus 1,45 miliar.

Kemajuan teknologi Tiongkok itu tercermin dari perkembangan produk smartphone Xiaomi, yang membuntuti produk Korsel Samsung dan Apple dari Amerika Serikat. Xiaomi menggenggam pangsa pasar 13% global sepanjang kuartal III tahun lalu, beda tipis dengan Apple 16%. Sedangkan Samsung masih mendominasi dengan market share 21%, merujuk data Counterpoint Research.

Di jajaran top 5 Xiaomi ditemani kolega satu negara, yakni OPPO (10%) dan Vivo (9%). Sedangkan sisa 31% pasar diperebutkan oleh berbagai brand seperti Huawei dan Realme dari Tiongkok juga, Google AS, Sony Jepang, dan Nokia Finlandia.

Advertisement

Sementara itu di Indonesia, pasar ponsel pintar sudah dikuasai oleh merek-merek Tiongkok sejak empat tahun yang lalu, dengan pangsa pasar mencapai 69,5-77,8%. Sebenarnya, tahun 2017, ponsel lokal ada yang sempat masuk daftar tiga besar di Tanah Air, yakni Advan, dengan penguasaan market share 7,7% atau hanya kalah dengan Samsung sebesar 31,8% dan Oppo 22,9%.

Namun, setelah itu, ponsel Advan yang banyak menggarap segmen menengah terlempar dari lima besar. Merek lokal ini kalah bersaing dengan ponsel asal Tiongkok yang terus diperkaya fitur-fitur terbaru, dengan harga relatif terjangkau.

Itulah sebabnya, pemerintah Indonesia harus mulai mendorong dan fokus mendukung kemajuan teknologi dari hulu hingga hilir. Hal ini untuk memperkuat pengembangan mulai dari industri dasar logam yang mengolah mineral seperti nikel dan bauksit, industri mesin dan barang modal yang lain, hingga industri komputer serta barang elektronika dan kini memasuki dunia digital.

Menilik sejarah, negara yang cepat masuk bermigrasi ke teknologi terbaru akan menjadi pemenang. Oleh karena itu, momentum dunia yang kini menggeber mobil listrik harus dimanfaatkan Indonesia untuk membangun industri ini dari hulu hingga hilir, karena kita punya potensi besar di industri ramah lingkungan tersebut.

Selain memiliki cadangan terbesar bahan baku utama baterai mobil listrik seperti nikel, Indonesia juga memiliki pasar besar ditopang jumlah penduduk yang terbanyak keempat dunia. Pertumbuhan ekonomi kita juga masih di atas 5%, bahkan mengalahkan Tiongkok yang belakangan didera merebaknya pandemi Covid-19.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus mendukung pengembangan teknologi mobil listrik di Tanah Air. Indonesia harus memberikan insentif besar-besaran untuk pengembangan industri komponennya di dalam negeri dan penyiapan SDM yang dibutuhkan. Ini misalnya, memberikan subsidi 20% untuk produk dalam negeri yang menggunakan minimal 80% tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan 90% tenaga kerja lokal.

Artinya, subsidi ini akan berputar untuk memperkuat industri dalam negeri dari hulu hingga hilir, serta mendorong pengembangan teknologi dan peningkatan kualitas SDM. Selain itu, pengembangan industri mobil ‘hijau’ berarti memangkas ketergantungan impor minyak kita yang sudah sangat besar, mencapai 50%. Ketergantungan impor ini membuat Indonesia selalu rawan diguncang masalah ketika harga minyak dunia melambung tinggi, termasuk yang berimbas mengganggu stabilitas politik dalam negeri.

Multiplier effect dan sangat strategisnya industri mobil listrik inilah yang menjadi pertimbangan pemerintah Tiongkok untuk menggelontorkan subsidi besar-besaran saat awal memacu industri tersebut di negaranya. Negeri komunis dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu merupakan importir minyak terbanyak. Saat harga energi melambung makin tinggi karena pecah perang Rusia-Ukraina, ekonominya pun tertekan.

Belajar dari Tiongkok, Indonesia bisa mengambil langkah inovatif dalam mempercepat pengembangan ekosistem industri mobil listrik di Tanah Air. Selain memberikan subsidi besar untuk produk dengan TKDN dan penyerapan SDM lokal tinggi, pemerintah pusat dan daerah serta perusahaan negara perlu mewajibkan diri hanya membeli mobil listrik buatan dalam negeri.

Editor : Ester Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com