Menu
Sign in
@ Contact
Search
Mobil listrik baterai (BEV) Toyota bZ4X menjadi mobil resmi KTT G20 di Bali, 14-15 November 2022. (ist)

Mobil listrik baterai (BEV) Toyota bZ4X menjadi mobil resmi KTT G20 di Bali, 14-15 November 2022. (ist)

Membangun Ekosistem Mobil Listrik

Sabtu, 14 Jan 2023 | 08:52 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Impian Indonesia membangun industri baterai dan mobil listrik terintegrasi mulai menampakkan bentuk. Tak sekadar mengejar label ramah lingkungan, program nasional tersebut didukung potensi bahan baku utama yang luar biasa besar, plus pasar gemuk ada di sini. Langkah ini juga keniscayaan untuk ketahanan energi masa depan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, cadangan minyak Indonesia bakal habis tahun 2030, bila tidak ada penemuan baru. Saat ini, 50% lebih kebutuhan kita sudah tergantung pada impor, lantaran konsumsi mencapai 1,4 juta - 1,5 juta barel per hari (bph), sementara produksi hanya 700.000 bph. Di sisi lain, kita memiliki sumber energi listrik berlimpah, yang masih banyak belum dimanfaatkan termasuk panas bumi dan air.

Indonesia dengan penduduk terbanyak keempat di dunia atau sekitar 276 juta juga merupakan pasar mobil yang menggiurkan. Selain rasio kepemilikan kendaraan roda empat di Tanah Air masih rendah, 99 kendaraan per 1.000 orang, pertumbuhan ekonominya tetap bagus di tengah ancaman resesi global dan jumlah kelas menengah terus bertambah.

Gurihnya pasar mobil Indonesia ini bukan isapan jempol. Hyundai yang menutup sebagian pabriknya di Tiongkok untuk langsung diboyong ke Indonesia sudah mencicipi nikmatnya.

Advertisement

PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) berhasil mencatatkan kinerja yang menakjubkan di tengah pandemi setelah mendirikan pabrik di Karawang. Prinsipal asal Korea Selatan yang juga mengembangkan mobil listrik ini sukses melego 30.000 mobil di Indonesia sepanjang 2022, tumbuh 10 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya 3.000 unit dan melejit masuk top 10. Padahal, pada 2020, penjualan baru 200 unit dan masih di peringkat 18.

Tak heran, bersama koleganya dari Korsel, LG, tak ragu untuk segera merealisasikan pembangunan pabrik baterai mobil listrik di Karawang. Hal senada dilakukan pabrikan besar baterai mobil asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL).

Apalagi, pemerintah sudah mewacanakan memberikan subsidi Rp 80 juta untuk pembelian mobil listrik. Kemenkeu juga menegaskan bahwa APBN siap memberikan insentif bagi mobil ‘hijau’.

Tahun ini, setidaknya dua raksasa baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dunia, yakni LG dan CATL mulai merealisasikan investasinya di Indonesia senilai US$ 15,8 miliar, setara Rp 239 triliun. Konsorsium multinasional LG menyiapkan investasi US$ 9,8 miliar untuk membangun fasilitas baterai EV, sedangkan CATL menganggarkan dana US$ 6 miliar.

Pembangunan konstruksi pabrik LG dan CATL mulai dilakukan tahun ini, guna menciptakan ekosistem EV dari hulu hingga hilir. Keduanya menggandeng sejumlah perusahaan di bawah holding BUMN pertambangan, MIND ID.

Di penambangan, mereka bekerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Sedangkan untuk smelter menggandeng Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC), perusahaan pelat merah yang sahamnya dimiliki oleh Antam, MIND ID, PLN, dan Pertamina. Berikutnya, akan dibangun pabrik prekursor, katoda, battery cell, battery pack, hingga fasilitas recycle.

Lokasi smelternya berada di Maluku Utara, dekat dengan tambang. Sedangkan untuk pabrik prekursor dan katoda CATL lagi memilih lokasinya, antara Batang (Jawa Tengah) atau Kalimantan Utara.

Ada lagi rencana investasi dari Britishvolt, yang proses perizinannya sudah hampir rampung, dengan perkiraan pembangunan dimulai pada kuartal II atau III 2023. Investor asing ini juga menggandeng perusahaan lokal.

Pemerintah menargetkan produksi perdana baterai mobil listrik pada semester I-2024, dari pabrik yang dibangun LG di Karawang. Selain itu, guna mendorong industrialisasi kendaraan listrik berbasis baterai (BEV), pemerintah memberikan berbagai insentif fiskal dan nonfiskal bagi konsumen, seperti pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM) sebesar 0% (PP No 74/2021), serta pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor (BBN-KB) sebesar 0% untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di Pemprov DKI Jakarta (Pergub No 3/2020).

Dengan membangun ekosistem dari hulu hingga hilir, menyediakan berbagai subsidi dan insentif, serta menguasai sumber bahan baku, maka Indonesia juga berpotensi menjadi basis produksi ekspor mobil listrik. Oleh karena itu, pemerintah perlu terus menarik lebih banyak investor dari berbagai negara, guna bekerja sama dalam teknologi maupun jaringan pemasaran yang terdepan di dunia.

Di tingkat global, tercatat ada Toyota dari Jepang yang menduduki puncak mobil terlaris. Berikutnya adalah Volkswagen asal Jerman, Renault Nissan Mitsubishi Alliance yang merupakan aliansi Prancis-Jepang, Hyundai Motor Group, dan Stellantis yang bermarkas besar di Belanda.

Artinya, aliansi dengan investor dari banyak negara akan membuka akses pasar ekspor mobil listrik yang lebih lebar. Apalagi, banyak negara maju menetapkan penghentian penjualan mobil baru berbahan bakar fosil lebih awal, seperti Inggris pada 2030. 

Editor : Ester Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com