Menu
Sign in
@ Contact
Search
Aktivitas hilirisasi komoditas nikel.

Aktivitas hilirisasi komoditas nikel.

Point of No Return Buat Hilirisasi

Senin, 16 Jan 2023 | 19:14 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Sejumlah tonggak sejarah sudah dilewati PT Freeport Indonesia (FI) dan satu lagi milestones segera ditoreh salah satu perusahaan tembaga terbesar di dunia itu. Pada akhir 2024, seluruh konsentrat tembaga yang diproduksi PT FI tidak lagi diekspor. Artinya, 100% konsentrat tembaga produksi perusahaan yang sudah beroperasi di Indonesia sejak 1972 itu diolah di dalam negeri.

Hilirisasi dan industrialisasi merupakan salah satu program Presiden Jokowi untuk mendongkrak nilai ekspor dan nilai tambah yang diperoleh Indonesia. Salah satu kelemahan ekonomi Indonesia adalah nilai ekspor yang didominasi produk primer. Kondisi yang sudah berlangsung sejak masa penjajahan ini harus diakhiri. Kekayaan alam yang berlimpah ruah tidak bisa memberikan banyak manfaat kepada bangsa dan negara jika yang diekspor adalah komoditas yang belum diolah.

Sudah berabad-abad, Indonesia mengekspor berbagai komoditas dan mengimpor berbagai produk industri yang justru berasal dari produk primer yang diekspor. Indonesia, milsanya, mengekspor kakao dan mengimpor coklat. Indonesia mengekspor nikel dan mengimpor berbagai produk stainless, bahan antikarat, dan baterai. Indonesia mengekspor tembaga dan mengimpor berbagi jenis kabel. Indonesia mengekspor CPO dan mengimpor berbagai jenis makanan jadi dan kosmetik yang terbuat dari CPO.

Dengan membangun hilirisasi dan industrialisasi, nilai tambah yang diperoleh akan sangat besar. Selain nilai ekspor puluhan kali lipat, tenaga kerja yang terserap juga sangat besar. Saat ini hingga 2045, Indonesia menikmati bonus demografi. Sekitar 68%-72% penduduk Indonesia didominasi usia produktif, yakni mereka yang berusia 15-64 tahun. Pada rentang waktu ini, terutama 2023-2035, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia harus bisa dipacu hingga rata-rata di atas 6% jika tidak ingin negara terjungkal ke middle income trap.

Tanpa perluasan lapangan kerja, bonus demografi akan berubah menjadi bencana demografi. Salah satu solusi penting untuk mencegah Indonesia jatuh ke perangkap kelas menengah dan ledakan angka pengangguran adalah hilirisasi dan Industrialisasi. Semua produk perkebunan dan pertambangan harus diolah di dalam negeri terlebih dahulu, minimal barang setengah jadi. Hilirisasi adalah tahap awal menuju industrialisasi.

Bijih nikel, misalnya, harus melewati proses hilirisasi untuk diolah menjadi FeNi atau konsentrat. Tahap hilirisasi selanjutnya ialah pengolahan menjadi Ni-sulfat dan Co-sulfat. Kedua produk ini diproses lagi menjadi precursor, yakni bahan dasar material baterai. Dengan komponen lainnya, precursor diolah menjadi baterai jenis lithium-ion battery.

Selanjutnya, produk hilirisasi masuk proses industri. Ada industri baterai dan industri electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik, baik industri sepeda motor maupun industri mobil. Pembuatan baterai EV membutuhkan grafit (28,1%), aluminium (18,9%), nikel (15,7%), tembaga (10,8%), baja (10,8%), mangan (5,4%), kobalt (4,3%), lithium (3,2%), dan besi (2,7%). Sebagian besar logam ini ada di Indonesia.

Jika Indonesia serius membangun kendaraan listrik, ekosistem perlu segera dibangun dan diperkuat. Masyarakat perlu diberikan pemahaman agar beralih dari penggunaan kendaraan berbahan fosil ke kendaraan listrik. Agar masyarakat tidak kesulitan, baterai perlu disediakan di berbagai lokasi, khususnya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Ekosistem EV perlu serius dibangun dan terus disempurnakan agar perusahaan yang kini sedang membangun smelter tidak dirugikan. Sebutlah PT FI yang kini dalam proses pembangunan pabrik smelter kedua di Kawasan Industri Java Integrated Industrial & Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur. Pabrik smelter single line terbesar di dunia ini dijadwalkan berproduksi komersial akhir 2024. Sejak saat itu, sekitar 3 juta dry metric ton (dmt) konsentrat yang diproduksi PT FI tidak ada lagi diekspor.

Sejak Desember 2024, PT FI memasuki era baru. Semua produksi konsentrat diolah di dalam negeri meski nilai tambah konsentrat sudah mencapai 95%. Untuk mencapai tambahan 5% nilai tambah, PT FI harus membangun lagi pabrik smelter dengan nilai investasi US$ 3 miliar, setara Rp 45 triliun. Point of no return untuk hilirisasi. Pihak PT FI akan merampungkan pembangunan smelter sesuai jadwal.

Bermitra dengan Mistsubishi, PT FI sudah membangun smelter sejak 1996 dengan nama PT Smelting Gresik dengan kepemilikan 40%. Di pabrik smelter yang sedang dibangun, kepemilikan PT FI 100%. Selama ini, sekitar 40% dari 3 juta dmt konsentrat yang dihasilkan PT FI dikirim ke PT Smelting Gresik. Sisanya, 15% ke Jepang, 9% ke Tiongkok, 7% ke Korsel, 6% ke Taiwan, 6% ke India, 6% ke Malaysia, dan berbagai negara.

Selama ini, ekspor konsentrat PT FI dicurigai tidak transparan. Beredar dugaan bahwa sebagian besar kandungan konsentrat adalah emas, bukan tembaga. Tonggak sejarah penting lainnya adalah pengambilalihan 51,2% saham PT FI dari Freeport McMoran oleh pemerintah lewat PT MIND ID. Sejak menguasai mayoritas saham PT FI, Indonesia sesungguhnya bisa melihat bahwa tidak ada yang disembunyikan.

Saat ini, 60% konsentrat tembaga produksi PT FI diekspor. Konsentrat tembaga berasal dari bijih tembaga yang diambil dari bongkahan bebatuan yang dideteksi mengandung tembaga, emas, dan perak. Bijih tembaga dihancurkan, dimasukkan ke dalam kolam khusus yang sudah diberikan zat kimia tertentu guna menghasilkan konsentrat. Proses ini menghasilkan konsentrat tembaga dan sisanya atau residu disebut tailing.

Setiap satu ton konsentrat terdapat 20-25% tembaga. Sisanya, 25 gram emas dan 100 gram perak per ton. Dari sisi pendapatan, 60% pendapatan PT FI dikontribusi oleh tembaga, 40% dari emas dan perak, terutama emas. Selama ini, kandungan konsentrat diperiksa oleh Sucofindo, surveyor resmi.

Pembangunan smelter diamanatkan UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba). Pada tahun 2018, PT FI menandatangani Izin Usaha Pertambangan Khusus ( IUPK) yang merupakan perubahan bentuk dan perpanjangan usaha pertambangan sampai dengan 2041. Ini juga merupakan tonggak sejarah penting bagi perjalanan PT FI dalam memberikan kontribusi kepada negara. Sejak 2016, PT FI mulai tambang bawah tanah dan kini seluruh produksi konsentrat tembaga berasal dari underground mining.

Nilai tambah hilirisasi diakui sangat besar meski tidak sama pada setiap jenis tambang. Hilirisasi nikel, misalnya, memberikan nilai tambah luar biasa. Pada tahun 2019, ekpor bijih nikel Indonesia US$ 1,01 miliar, namun pada 2022, nilai ekspor nikel olahan mencapai US$ 33 miliar.

Tidak salah jika pemerintah terus memacu pembangunan smelter dan hilirisasi lainnya.  Selain nikel dan tembaga, pemerintah akan mendorong hilirisasi bijih besi dan pasir besi dan bauksit. Saat ini terdapat 27 smelter yang tengah beroperasi dan 32 dalam proses konstruksi.

Pabrik smelter PT FI di Gresik akan menghasilkan 550.000 ton katoda tembaga per tahun, 6.000 ton emas dan perak murni batangan platinum group metal (PGM) setahun, 1,5 juta ton asam sulfat setahun, 1,3 juta ton terak tembaga setahun, dan 150.000 ton gipsum setahun. Nilai tambah setiap produk tambang tidak sama. Konsentrat tembaga yang diolah pabrik smelter akan memberikan nilai tambah berarti jika ekosistem EV sudah terbentuk.

Inilah pekerjaaan rumah pemerintah sebagai pihak yang menentukan kebijakan dan memimpin orkestra pembangunan. Bagi perusahaan tambang yang sudah membangun smelter, seperti PT FI, point of no return.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com