Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Apresiasi Pasar

Investor Daily, Sabtu, 6 Juni 2020 | 14:42 WIB

Tanda-tanda pemulihan ekonomi mulai tampak di depan mata, setelah dalam tiga bulan terakhir denyut bisnis seolah mati suri karena pembatasan mobilitas dan interaksi sosial. Pandemi Covid-19 memaksa pemerintah melakukan pengetatan dan penghentian berbagai aktivitas ekonomi, sehingga dunia usaha kelabakan, pengurangan pekerja pun tak terelakkan.

Dalam situasi penuh tekanan, otoritas terus berjibaku dan mengatur strategi agar perekonomian tidak ambles terlampau dalam, agar perusahaan- perusahaan dan UMKM tidak bangkrut, agar pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat diminimalisasi, dan kelompok masyarakat lapis terbawah tetap dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.

Upaya habis-habisan (all out) dilakukan. Pemerintah menggelontorkan anggaran stimulus untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp 677 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk jaring pengaman sosial sebesar Rp 203,9 triliun, dukungan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) senilai Rp 123,46 triliun, stimulus fiskal dunia usaha sebanyak Rp 126,1 triliun, insentif untuk korporasi Rp 44,57 triliun, anggaran pemerintah daerah sebesar Rp 97,11 triliun, serta dukungan kepada BUMN senilai Rp 152 triliun.

Stimulus BI dan Pemerintah diapresiasi pasar
Stimulus BI dan Pemerintah diapresiasi pasar

Pembengkakan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional tersebut memaksa pemerintah memperlebar defisit anggaran tahun ini menjadi 6,34% atau setara Rp 1.039 triliun.

Tidak jadi soal, toh Indonesia tidak sendiri. Bahkan negara- negara yang ekonominya jatuh karena Covid-19 berani mengguyur stimulus fiskal ratarata 10% dari produk domestik bruto (PDB), sementara Indonesia baru menganggarkan 4,23% dari PDB.

Selain stimulus fiskal, Bank Indonesia (BI) telah memompa likuiditas ke perekonomian sekitar Rp 583 triliun lewat pelonggaran moneter dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN). Di lain sisi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan relaksasi kebijakan restrukturisasi kredit.

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Sejauh ini, setidaknya Rp 517 triliun kredit perbankan dan Rp 80 triliun pembiayaan multifinance telah direstrukturisasi. Tiga senjata yang secara simultan diluncurkan oleh otoritas fiskal, otoritas moneter, dan otoritas keuangan tersebut cukup ampuh dalam menenangkan pasar dan menaikkan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia terus meningkat dan Kamis (4/6) sempat menyentuh level 5.000, meski akhirnya sedikit menurun. Sejalan dengan itu, investor asing secara bertahap kembali membeli SBN, sehingga imbal hasilnya terus menurun.

Net buy/net sell investor asing di BEI.
Net buy/net sell investor asing di BEI.

Sementara itu, pemerintah mulai membuka kegiatan bisnis untuk Sembilan sektor ekonomi penting di 102 kabupaten/kota di Indonesia yang berstatus hijau alias terbebas dari Covid-19. Di jantung Ibukota, DKI Jakarta, perkantoran sudah bisa kembali beroperasi dengan kapasitas 50% mulai 8 Juni dan pusat perdagangan dibuka pada 15 Juni. Pelonggaran pembatasan mobilitas dan pembukaan aktivitas bisnis tersebut merupakan isyarat dimulainya pemulihan denyut nadi perekonomian di Tanah Air. Meski belum normal seratus persen, kebijakan ini memberikan harapan besar akan bangkitnya perekonomian.

Hal itu menumbuhkan optimisme setelah masyarakat dirundung ketidakpastian selama tiga bulan terakhir.

Stimulus tiga otoritas serta relaksasi aktivitas bisnis dan sosial tersebut mendapat apresiasi dari pelaku pasar. Hal itu ditandai dengan tren kenaikan harga saham, penguatan nilai tukar rupiah di bawah Rp 14.000 per dolar AS, serta aliran dana masuk (capital inflow) asing yang kian deras.

Perbandingan jumlah stimulus sejumlah negara
Perbandingan jumlah stimulus sejumlah negara

Selain sentimen positif domestik, faktor eksternal juga turut menumbuhkan kepercayaan dan ketenangan pasar. Guyuran likuiditas atau quantitative easing berbagai Negara serta komitmen kuat pengendalian penularan Covid-19 memberikan angina segar dan kegairahan bagi investor global. Apalagi banyak negara juga sudah merelaksasi aktivitas bisnis dan sosial. Volatilitas di pasar finansial pun mereda.

Di Indonesia sendiri, kalangan dunia usaha antusias untuk memasuki tatanan kehidupan normal baru (new normal), dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Penerapan protokol new normal setiap sektor dikawal dan dipandu oleh kementerian teknis agar kontrol dan monitoring dapat dilakukan dengan baik.

Alhasil, Indonesia dan seluruh dunia kini bersiap menyambut pemulihan, meskipun pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini perekonomian masih ter tekan. Perpaduan konsistensi kebijakan yang solid, kepercayaan investor, serta disiplin penerapan protokol kesehatan oleh semua pihak diyakini bakal mengakselerasi pemulihan ekonomi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN