Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mudik lebaran bersama keluarga. Foto: IST

Mudik lebaran bersama keluarga. Foto: IST

Arus Mudik Lebaran Lancar

Senin, 3 Juni 2019 | 10:14 WIB

Sekitar 23 juta penduduk Indonesia tahun ini mudik, di antaranya 14,9 juta dari Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi atau biasa disingkat Jadebotabek. Hingga H-3 atau tiga hari menjelang Idulfitri, Rabu, 5 Juni 2019, arus mudik lancar. Tidak ada berita menonjol tentang mudik tahun ini kecuali keluhan penumpang tentang melonjaknya harga tiket pesawat terbang.

Arus mudik paling besar setiap tahun berasal dari Jadebotabek yang tahun ini diperkirakan sekitar 14,9 juta. Jumlah ini sama dengan 50% penduduk Jadebotabek yang sudah mencapai 30 juta. Meski ada tren menurun, Jakarta masih menjadi magnet bagi setiap warga warga yang hendak meninggalkan desanya.

Itu sebabnya, urbanisasi terbesar terjadi dari daerah ke Jakarta. Sedang wilayah Debotabek adalah dampaknya. Mereka yang tidak bisa eksis di Jakarta memilih tinggal di sekitarnya, yakni Debotabek. Penanganan mudik paling rumit adalah dari lalu lintas Jadebotabek ke arah timur, yakni wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Kemacetan adalah cerita biasa setiap tahun. Tiap tahun lalu, para pemudik ke Jawa terjebak macet di pintu Tol Brebes hingga belasan jam. Para pemudik juga harus bermacet ria di sepanjang jalur Pantura Jabar hingga lebih dari sepuluh jam. Sejak Tol Cipali, tol yang menghubungkan Cikampek dan Cirebon, berfungsi, kemacetan mulai terurai.

Menjelang Idulfitri tahun ini, tol Trans- Jawa, minus Surabaya-Banyuwangi, sudah bisa digunakan. Pemudik dengan lebih dari dua anggota keluarga akan jauh lebih murah membawa mobil sendiri. Apalagi satu mobil bisa membawa empat orang. Biaya transportasi jauh lebih murah disbanding pesawat terbang.

Satu-satunya kemacetan yang masih terjadi adalah Tol Cikampek. Selain ada penyempitan jalan karena pembangunan tol layang dan LRT, ada lalu lintas penduduk Jakarta-Bekasi dan Karawang.

Tahun depan, setelah pembangunan tol rampung, arus mudik Lebaran akan lebih lancar. Arus mudik pada masa akan datang lebih lancar lagi jika e-money benarbenar diterapkan di setiap pintu tol. Para pengemudi tak perlu membuka jendela untuk menempelkan kartu di pintu tol. Dengan sistem elektronik otomatis, alat pintar di pintu tol bisa langsung membaca nomor mobil yang lewat dan memotong saldo di rekening si pemilik mobil. Pemerintah diketahui sedang mempersiapkan on board unit (OBU) atau multi-lane free flow (MLFF) untuk kemudahan pembayaran di pintu tol.

Masa liburan yang cukup panjang juga membantu mengurangi kemacetan. Meski ada hari kerja, Jumat (31/5), para buruh dan kar yawan umumnya sudah mulai mudik hari Kamis (30/5) sore. Arus mudik tersebar dalam tujuh-delapan hari menjelang Lebaran.

Manajemen pengelolaan mudik terlihat kian bagus. Sejumlah menteri turun langsung memantau persiapan dan arus mudik. Menhub meninjau langsung arus transportasi. Menteri ESDM dan dirut Pertamina meninjau ketersediaan BBM sepanjang tol. Hasilnya, pemudik tidak mengalami masalah dengan kemacetan dan BBM.

Selama bulan Ramadan 2019, harga barang kebutuhan pokok cukup terkendali. Inflasi April 2019 hanya 0,44% dan inflasi year to date hanya 0,80%. Sedang inflasi year on year 2,83%. Kontribusi terbesar terhadap stabilitas inflasi adalah harga pangan. Setiap Idulfitri terjadi perputaran dana di desa. Orang kota datang ke desanya membawa angpow dan berbelanja di kampung halamannya. Tahun ini, dana yang dikeluarkan pemudik ditaksir sekitar Rp 10,3 triliun.

Terbesar adalah dana pemudik dari Jadebotabek. Diharapkan, pemudik Idulfitri ikut menggerakkan ekonomi perdesaan. Dalam pada itu, dana desa yang sudah diguyur sejak 2015 diharapkan ikut mempercepat pembangunan di desa. Agar tidak terus-menerus memberikan tekanan terhadap kota, pembangunan di desa mengurangi arus urbanisasi. Pada arus balik nanti, jumlah pemudik yang kembali ke kota diharapkan tetap sama.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA