Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jakarta Great Sale

Jakarta Great Sale

Ayo Belanja

Sabtu, 18 Mei 2019 | 18:57 WIB

Festival Jakarta Great Sale (FJGS) kembali digelar. Event tahunan ini dimulai pada 25 Mei hingga 23 Juni mendatang. Berbeda dari tahun sebelumnya, event kali ini berbarengan dengan bulan Ramadan, hari raya Idul Fitri, libur panjang, dan back to school, yang mendorong semua orang untuk berbelanja.

Ada optimisme penyelenggaraan FJGS tahun ini bakal menuai sukses. FJGS adalah ajang belanja yang diselenggarakan rutin dalam rangkaian HUT Jakarta dan telah menjadi salah satu program unggulan Pemprov DKI Jakarta. Perhelatan ini mulai diperkenalkan kepada masyarakat pada tahun 1982 ketika bernama Festival Pertokoan.

Kemudian sempat berganti nama menjadi Pesta Diskon dan Jakarta Great Sale sebelum bertajuk Festival Jakarta Great Sale. Penambahan kata “festival” dimaksudkan agar cakupan peserta

FJGS semakin luas dan dapat diikuti lebih banyak peritel dan penjual, tidak hanya oleh peritel modern, tetapi juga pusat-pusat perdagangan dan penjual di pasar tradisional. Perhelatan ini dikelola oleh Asosiasi Pengelosa Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta bekerja sama dengan beberapa asosiasi dan perusahaan terkait.

Jakarta Great Sale
Jakarta Great Sale

 

Event tahun ini diikuti oleh 82 pusat belanja yang tersebar di lima wilayah Jakarta, 4 hotel, 34 gerai pasar jaya, dan 8 lokasi Bazaar UKM binaan DKI Jakarta. Sebanyak 13 asosiasi terkait juga dilibatkan untuk menyukseskan event tersebut. Melalui sinergi berbagai pelaku usaha inilah diharapkan terjadi situasi yang kondusif untuk mendorong perekonomian nasional dengan memaksimalkan potensi pasar domestik.

Target pasar yang dibidik adalah kaum milenial. Dengan mengusung tema Shopping Spirit, pihak penyelenggara berharap kaum milenial memiliki semangat berbelanja dalam arti yang positif. Konsumen milenial tidak menganggap berbelanja sebagai hal yang konsumtif saja, tetapi juga untuk hal produktif dengan pilihan cermat, hemat, dan efisien. Kaum milenial punya kemampuan untuk memilih produk berkualitas yang disesuaikan dengan kebutuhan. Penyelenggara FJGS menargetkan nilai transaksi sebesar Rp 9,5 triliun.

Angka tersebut jauh lebih besar dari realisasi tahun lalu yang mencapai Rp 3,5 triliun. Minimnya nilai transaksi tahun lalu dapat dimaklumi karena pelaksanaannya berbarengan dengan perhelatan pesta olahraga Asian Games. FJGS 2018 digelar pada 12 Agustus-4 September 2018 tapi target omzet Rp 4 triliun tidak tercapai.

Padahal, target yang dibidik tidak hanya konsumen dalam negeri, tapi juga wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Jakarta dan Palembang saat pelaksanaan Asian Games.

Tahun ini, FJGS diharapkan berjalan sukses. Event ini dapat menggenjot konsumsi masyarakat yang masih menjadi penopang per tumbuhan ekonomi Indonesia. Setelah melewati tahun politik, masyarakat diharapkan tidak lagi wait and see dan mau memenuhi pusat-pusat perbelanjaan. Apalagi sebanyak 27 pusat perbelanjaan juga akan mengadakan Midnight Sale dengan menggandeng berbagai produk UMKM.

Melalui diskon besarbesaran hingga 70% yang ditawarkan ribuan ritel peserta FJGS, target nilai transaksi Rp 9,5 triliun berperluang tercapai. Pencairan tunjangan hari raya (THR) mulai pekan depan dan gaji ke-13 pegawai negeri sipil (PNS) diharapkan dapat menjadi sentiment positif bagi FJGS tahun ini. Daya beli masyarakat meningkat. Sebagian dari uang THR tersebut tentu akan dibelanjakan untuk keperluan Lebaran, kebutuhan sekolah serta kebutuhan sehari-hari. Konsumsi ritel sektor makanan dan minuman yang sedang dalam tren peningkatan makin berprospek cerah.

Namun demikian, ada satu tantangan yang mesti dicermati oleh penyelenggara FJGS. Tidak bisa dimungkiri, saat ini sedang terjadi peralihan pola konsumsi atau shifting dari pembelian produk fesyen ke produk hiburan. Shifting terjadi dari sentra fesyen ke ritel-ritel kuliner, bioskop, dan pusat bermain anak. Minat traveling masyarakat pun lagi tinggi-tingginya. Itu terbukti dari setiap penyelenggaraan travel fair yang selalu diserbu masyarakat.

Karena itu, meski terbesit optimisme, masih menjadi pertanyaan apakah kaum milenial punya minat yang tinggi berbelanja di gerai-gerai peserta FJGS. Di tengah gencarnya tekanan dari sistem belanja secara online, event ini harus memiliki daya tarik agar kaum milenial mau berbelanja secara konvensional atau off-line.

Pergeseran pola belanja masyarakat ke toko online atau e-commerce tak bisa dibendung lagi. Kondisi itu dapat dilihat dari terus meningkatnya transaksi dalam setiap penyelenggaraan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Pelaku usaha ritel konvensional mesti lebih jeli lagi dalam menyiasati kondisi yang ada agar bisa bertahan di tengah gempuran e-commerce.

Para peritel harus pintar mengatur strategi agar toko ritel konvensional tidak kalah dengan e-commerce serta harus terus berinovasi untuk menggaet pengunjung, khususnya pada musim belanja tinggi seperti saat Idul Fitri, Natal, dan tahun baru.

Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah menyediakan produk yang tidak dijual di e-commerce, atau ikut menjual produk yang menjadi incaran di e-commerce dengan harga lebih murah, serta menghadirkan pengalaman berbeda secara langsung. Banyak pengunjung yang mendatangi toko ritel bukan semata karena diskon, tapi juga mencari produk baru.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA