Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung mendokumentasikan layar elektronik yang menampilkan pergerakan IHSG, di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta, Jumat (27/3/2020). BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pengunjung mendokumentasikan layar elektronik yang menampilkan pergerakan IHSG, di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta, Jumat (27/3/2020). BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Ayo Lawan Korona

Investor Daily, Jumat, 27 Maret 2020 | 21:07 WIB

Optimisme masyarakat terhadap keberhasilan perang melawan Virus Korona (Covid-19) perlahan- lahan meningkat. Masyarakat yakin Covid-19 tak lama lagi bisa ditaklukkan, sehingga dampaknya terhadap ekonomi dan kemanusiaan dapat segera dihentikan. Keyakinan itu terkonfirmasi di pasar saham dan valuta asing (valas).

Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang selama berminggu-minggu terjebak di teritori negatif, akhirnya bangkit. Pada penutupan perdagangan Kamis (26/3), IHSG melonjak 401,27 poin atau 10,19% ke level 4.338,90. Ini merupakan kenaikan IHSG harian paling tajam selama dua dekade terakhir.

Rebound pasar saham berbanding horizontal dengan pasar valas. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah menguat ke level 16.328 per dolar AS dibanding posisi hari sebelumnya Rp 16.486. Penguatan tersebut memupus kekhawatiran terhadap kemungkinan 'bablas'-nya rupiah ke level psikologis Rp 16.500.

Petugas menghitung uang pecahan Rp100.000  di Jakarta, Kamis (27/2/2020).  Foto: SP/Ruht Semiono
Petugas menghitung uang pecahan Rp100.000 di Jakarta, Kamis (27/2/2020). Foto: SP/Ruht Semiono

Lonjakan IHSG yang diikuti penguatan rupiah memang bukan semata- mata dipicu keseriusan pemerintah Indonesia --bersama elemen lainnya-- memerangi Covid-19. Semua negara di sentero dunia, terutama negara- negara maju, telah menabuh genderang perang melawan Korona.

Pemerintah AS bakal mengucurkan stimulus fiskal senilai US$ 2 triliun untuk sektor kesehatan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tenaga kerja, dunia usaha, serta bantuan sosial (bansos). Jerman juga menggulirkan stimulus fiskal US$ 860 miliar untuk melawan Covid-19.

Di sisi moneter, Bank Sentral AS, The Fed, telah memangkas Fed fund rate (FFR) ke level 0-0,25%, menambah injeksi likuiditas untuk pasar uang, dan membeli surat berharga. Bank Sentral Eropa (ECB) juga telah merelaksasi kebijakan moneter dan melakukan injeksi likuiditas.

Gubernur The Fed Jerome Powell. ( Foto:  Win McNamee/Getty Images/AFP )
Gubernur The Fed Jerome Powell. ( Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP )

Kebijakan negara-negara maju telah meredakan kepanikan di pasar global. Para investor di pasar finansial merespons positif stimulus penangkal Covid-19. Itu sebabnya, saat Bursa Efek Indonesia (BEI) tutup karena libur Hari Raya Nyepi (Rabu, 25/3), pasar saham global menguat. IHSG me-'rapel' penguatan itu sehari kemudian. Meski banyak terdongkrak kebijakan negara-negara maju, sentiment positif di lantai bursa domestik tak bisa dilepaskan dari kegigihan pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memerangi Covid-19 yang telah merenggut banyak korban dan mengharu biru perekonomian.

Pasar merespons antusias stimulus jilid III yang disiapkan pemerintah untuk meredam penyebaran Covid-19 dan mereduksi dampaknya terhadap perekonomian nasional. Berkat isu stimulus jilid III, sentimen positif dari pasar global memiliki kekuatan ganda, sehingga IHSG melesat 10,19%. Stimulus jilid III meliputi realokasi anggaran untuk membeli peralatan medis, meningkatkan kapasitas rumah sakit, menyederhanakan pengadaan alat medis, dan pendidikan bagi penanganan Covid-19. Juga mencakup jarring pengaman sosial untuk masyarakat miskin, pekerja transportasi online, dan pekerja informal.

Selain itu, pemerintah menjajaki emisi surat utang pemulihan (recovery bond) yang dananya akan disalurkan dalam bentuk kredit lunak kepada korporasi yang tidak melakukan PHK. Pemerintah pun memberikan berbagai insentif kepada pekerja formal, pekerja infomal, dan UMKM, serta jaminan pasokan bahan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Stimulus jilid III bakal melengkapi stimulus jilid I dan II yang diluncurkan sebelumnya. Stimulus jilid I berisi tambahan manfaat kartu sembako, diskon tiket pesawat, insentif bagi maskapai penerbangan dan agen perjalanan, bebas pajak bagi hotel dan restoran, kompensasi bagi pemda di sentra-sentra wisata, serta subsidi bunga dan uang muka kredit rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Adapun stimulus II mencakup keringanan pajak dan kemudahan ekspor-impor bagi produk-produk yang terdampak Covid-19. Stimulus II juga memuat pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) perorangan bagi para pekerja di sektor industri manufaktur selama enam bulan.

Tiga paket stimulus fiskal yang telah digulirkan pemerintah untuk meredam penyebaran dan dampak Covid-19 bernilai total Rp 158,2 triliun, termasuk di antaranya untuk melebarkan defisit APBN. Paket-paket tersebut di luar stimulus nonfiskal berupa relaksi berbagai ketentuan.

Di sisi lain, BI telah melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) dan memperkuat triple intervention untuk menjaga stabilitas rupiah. BI juga mendorong perbankan menggunakan penurunan giro wajib minimum (GWM) valas, memperluas insentif pelonggaran GWM, serta memperkuat sistem pembayaran.

Kantor OJK/David Gita Rosa
Kantor OJK/David Gita Rosa

Di sektor keuangan, OJK antara lain telah merelaksasi aturan perbankan bagi debitur terdampak Covid- 19. Untuk menjaga pasar saham, OJK melonggarkan aturan buyback saham, mempersempit auto reject bawah, melarang transaksi short selling, dan menerapkan protocol krisis, di antaranya memberlakukan suspsensi jika pasar melemah terlampau dalam.

Kita optimistis upaya keras pemerintah, BI, dan OJK segera membuahkan hasil. Kita juga yakin meningkatnya kepercayaan di pasar saham dan pasar valas terhadap penanganan Covid-19 tidak bersifat temporer. Terlebih investor asing sudah mulai melakukan aksi beli (net buy). Kepercayaan para pelaku pasar finansial merupakan modal yang amat berharga untuk ditularkan ke sektor-sektor lainnya.

Namun, kita perlu terus mengingatkan semua pihak bahwa upaya keras pemerintah, BI, dan OK saja belum cukup. Segenap komponen bangsa harus terlibat, bergandengan tangan, bahu membahu, dan bergotong royong melawan Korona.

Bersatu melawan Korona
Bersatu melawan Korona

Kita prihatin saat sebagian kecil anggota masyarakat mengusir para tenaga medis dari lingkungan mereka dengan alasan takut tertular Covid-19. Mereka tak sadar bahwa di tangan para tenaga medis itulah nasib pandemi Covid-19 turut ditentukan.

Kita juga kecewa manakala masih banyak warga masyarakat yang tidak mengindahkan imbauan menjaga jarak sosial (social distancing). Padahal, seluruh upaya meredam penyebaran Covid-19 bakal sia-sia jika masyarakat tidak melakukan isolasi diri secara sukarela.

Gotong royong adalah nilai-nilai tradisi yang menjadi perekat bangsa ini selama ratusan tahun, bahkan jauh sebelum Republik ini berdiri. Gotong royong telah teruji keampuhannya. Sekarang saatnya kita menguji kembali.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN