Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perang dagang Amerika Serikat (AS) - Tiongkok. ( Foto ilustrasi: AFP / FILE )

Perang dagang Amerika Serikat (AS) - Tiongkok. ( Foto ilustrasi: AFP / FILE )

Babak Baru AS-Tiongkok

Investor Daily, Rabu, 15 Januari 2020 | 12:03 WIB

Perhatian dunia sedang tertuju ke Gedung Putih. Jika tak ada aral melintang, pada Rabu (15/1) waktu setempat, Presiden AS Donald Trump dan perwakilan tinggi Tiongkok akan menandatangani perjanjian baru mengenai perdagangan bilateral kedua negara. Lewat kesepakatan itu, AS akan mengurangi atau membatalkan sejumlah tarif bea masuk (BM) terhadap produk asal Tiongkok.

Sebaliknya, Tiongkok bakal membeli lebih banyak produk pertanian AS, sekaligus mengadopsi reformasi perdagangan yang ditawarkan Negeri Paman Sam. Perjanjian itu –jika ditandatangani-- adalah pintu gerbang bagi dimulainya babak baru perdagangan AS-Tiongkok, sekaligus perdagangan global.

Banyak yang optimistis penandatanganan perjanjian tersebut akan diikuti kesepakatan-kesepakatan lainnya. Namun, tak sedikit pula yang pesimistis. Sejak genderang perang dagang ditabuh pada awal 2018 silam, AS dan Tiongkok beberapa kali berupaya membuat kesepakatan. Tetapi, alihalih mencapai mufakat, kedua Negara justru makin agresif memberlakukan BM impor terhadap produk dari masing- masing negara.

Alhasil, kesepakatan selalu jauh panggang dari api. AS dan Tongkok adalah mesin utama ekonomi dunia. Dengan proyeksi produk domestik bruto (PDB) 2019 masing-masing mencapai US$ 21,1 triliun dan US$ 14 triliun, AS dan Tiongkok menyumbang hampir separuh PDB dunia. Maka perang dagang tak cuma menggerus volume perdagangan kedua negara, tapi juga dunia.

Gara-gara perang dagang, ekonomi AS diperkirakan hanya tumbuh 1,38% pada 2023 dari target 2-4%. Ekonomi Tiongkok juga hanya akan tumbuh 5,6% pada 2023. Imbasnya, ekonomi global pada 2019 diprediksi cuma tumbuh 2,9% dan akan terus melambat pada tahun-tahun berikutnya.

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum pertemuan bilateral yang diadakan di sela-sela pertemuan puncak kelompok G-20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. AFP / Brendan Smialowski
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum pertemuan bilateral yang diadakan di sela-sela pertemuan puncak kelompok G-20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. AFP / Brendan Smialowski

Apakah kesepakatan AS-Tiongkok kali ini akan benar-benar terwujud? Atau, jangan-jangan bakal kembali mentah? Kans bagi tercapainya kesepakatan memang cenderung lebih besar, mengingat AS dan Tiongkok sama-sama dirugikan oleh perang dagang.

Meski demikian, tak berarti perjanjian yang akan dicapai pada Rabu (15/1) akan mengakhiri segalanya. Sekalipun akhirnya AS dan RRT bersepakat, masih banyak potensi gesekan yang akan membuat kedua pihak kembali bertikai. Perseteruan AS-Tiongkok bukan murni dipicu sengketa dagang.

Perang dagang adalah ejawantah dari ambisi menjadi negara adidaya. Itu sebabnya, perang dagang AS-Tiongkok dibumbui tuduhan spionase, pelanggaran hak atas kekayaan intelektual, kesehatan, lingkungan, dan aspek lainnya. Peluang bagi tercapainya kesepakatan kali ini justru berasal dari Donald Trump. Sejak perang dagang berkobar pada 2018, para petani di AS menderita karena produk pertaniannya terkena BM tinggi di Tiongkok.

Padahal, kalangan petani adalah lumbung suara Trump pada pilpres pertamanya. Bila ingin memenangi pilpres keduanya pada November mendatang, Trump harus menyelamatkan para petani AS, dengan cara berdamai dengan Tiongkok. Tetapi justu di situlah dilemanya. Tiongkok yang sudah mengantongi ‘kartu truf’ Donald Trump, pasti akan banyak menekan AS, yang bisa membuat Gedung Putih berang dan mementahkan kembali kesepakatan.

Intinya, untuk mencapai kesepakatan yang benar-benar dapat mengakhiri perang dagang, AS dan Tiongkok masih butuh waktu. Karena itu, salah besar jika Indonesia menggantungkan nasib pada hasil kesepakatan AS-Tiongkok. Kita prihatin karena Indonesia ternyata kurang agresif memanfaatkan perang dagang.

Indonesia tidak proaktif saat perusahaan-perusahaan di Tiongkok merelokasi pabriknya ke negara lain akibat perang dagang. Indonesia juga tidak jemput bola untuk mengisi pasar ekspor yang terdampak perang dagang Ketika negara lain ramai-ramai membentangkan ‘karpet merah’ untuk para investor yang merelokasi pabriknya dari Tiongkok –lewat insentif pajak dan kemudahan investasi-- Indonesia masih bergeming.

Pemerintah dan DPR bahkan baru akan mengegolkan undang-undang (UU) omnibus law yang memuat insentif pajak dan kemudahan investasi, pada April mendatang. Sering tak disadari, kesepakatan AS-Tiongkok bisa mer ugikan negara-negara dunia ketiga. Jika Tiongkok setuju membeli lebih banyak komoditas AS, berarti peluang ekspor Indonesia ke RRT berkurang. Bila Tiongkok membolehkan kepemilikan saham perusahaan AS yang beroperasi di Tiongkok hingga 100% maka kesempatan Indonesia menarik masuk perusahaan-perusahaan AS bakal semakin tipis.

Tentu kita berharap perang dagang segera berakhir dan Indonesia bisa mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Namun, kita perlu tetap waspada bahwa AS dan Tiongkok bisa saja ‘main mata’. Sebab, bila itu terjadi, Indonesia bakal gigit jari.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA