Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Trader bertransaksi di lantai perdagangan New York Stock Exchange (NYSE), AS. Foto: Spencer Platt/Getty Images/AFP

Trader bertransaksi di lantai perdagangan New York Stock Exchange (NYSE), AS. Foto: Spencer Platt/Getty Images/AFP

Bearish Market

Jumat, 13 Maret 2020 | 13:08 WIB
Investor Daily

Pasar finansial global belum terbebas dari tekanan wabah Virus Korona jenis baru atau Covid-19 yang masih masif. Kemarin, pasar saham kembali ambruk lantaran investor cemas terhadap penyebaran Covid-19 yang belum ditemukan obatnya.

Pelaku pasar kian khawatir setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (11/3) malam resmi mengumumkan wabah Covid-19 sebagai pandemi global karena penyebarannya semakin luas di seluruh dunia. WHO mencatat dalam waktu kurang dari tiga bulan, Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 126.000 orang di 123 negara, dari Asia, Eropa, Amerika Serikat, hingga Afrika Selatan.

Dengan meningkatkan status Covid-19 sebagai pandemi global, maka akan ada konsekuensi politik dan ekonomi. Banyak negara telah membatasi perjalanan warganya dan memperketat masuknya warga negara asing. Aktivitas perdagangan global juga melemah seiring meluasnya wabah Covid-19.

Status pandemi global yang ditetapkan WHO mengguncang pasar finansial global yang memang sedang rapuh. Saham-saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3) waktu setempat atau Kamis pagi WIB, dengan Dow Jones mengonfirmasi kondisi pasar bearish untuk pertama kali sejak krisis keuangan setelah WHO menyebut wabah Covid-19 sebagai pandemi.

Indeks acuan Dow Jones Industrial Average (DJIA) merosot 1.464,94 poin atau 5,86% menjadi 23.553,22. Dow Jones jatuh ke wilayah pasar bearish, turun lebih dari 20% dari rekor penutupan tertinggi bulan lalu. Pasar bearish dikonfirmasi ketika indeks ditutup 20% atau lebih di bawah penutupan tertinggi paling baru.

Tidak hanya Dow Jones, dua indeks acuan lainnya di bursa saham Amerika Serikat juga ikut terpuruk. Indeks S&P 500 merosot 140,85 poin atau 4,89%, menjadi berakhir pada 2.741,38 dan Indeks Komposit Nasdaq jatuh 392,20 poin atau 4,70% ke posisi 7.952,05. Semua 11 sektor utama dalam S&P 500 mengakhiri sesi dengan turun tajam.

Saham perbankan yang sensitif terhadap suku bunga jatuh 5,9% ketika imbal hasil obligasi AS turun. Untuk menjaga likuiditas pasar, belanja bisnis maupun konsumen, Presiden Donald Trump telah menyatakan akan memberikan fasilitas libur pajak (tax holiday) selama tiga bulan kepada usaha perorangan, usaha kecil dan menengah yang terkena dampak ekonomi dari Covid-19.

Pemerintah AS juga akan memberikan pinjaman US$ 50 miliar dengan bunga rendah kepada perusahaan yang terkena dampak Virus Korona. Trump mengatakan bahwa beberapa pengusaha akan mendapatkan fasilitas tax holiday.

Dengan fasilitas tersebut, pengusaha dapat menunda pajak pendapatan ke pemerintah setempat selama tiga bulan, tanpa bunga. Dengan otoritas darurat yang dimilikinya, Trump akan menginstruksikan Departemen Keuangan untuk menunda pembayaran pajak tanpa bunga atau penalti untuk individu dan bisnis tertentu yang terkena dampak Virus Korona.

Trump juga memutuskan penangguhan perjalanan dari Eropa ke Amerika Serikat, kecuali untuk Inggris, selama 30 hari mulai Jumat (13/3). Eropa disebut menjadi salah satu penyebab penyebaran Covid-19 di Amerika Serikat, yang telah menewaskan sedikitnya 37 orang dan menginfeksi 1.281 orang di Negeri Paman Sam.

Trump mengambil langkah dramatis tersebut di saat ia berjuang untuk mengatasi tekanan di sektor kesehatan maupun ekonomi, sekaligus menjawab kritik bahwa ia belum mengambil langkah serius untuk melindungi rakyat Amerika Serikat dari ancaman Virus Korona.

Tak ada pasar saham yang bisa keluar dari tekanan dampak pandemi Covid-19 pada perdagangan kemarin. Kejatuhan Wall Street kemudian menyeret bursa-bursa regional, termasuk Indonesia, ke level terendah sejak awal tahun ini.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok 22,28% secara year to date (ytd) setelah pada perdagangan kemarin berakhir minus 258,36 poin atau 5,01% ke level 4.895,75.

Dibuka melemah, IHSG tak beranjak dari zona merah hingga akhirnya terjadi pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada sistem perdagangan di BEI pada pukul 15.33 waktu JATS (Jakarta Automated Trading System) yang dipicu penurunan IHSG yang mencapai 5,01%.

Secara sektoral, seluruh sektor terkoreksi dengan sektor industri dasar turun paling dalam yaitu minus 8,48%, diikuti sektor pertanian dan sektor pertambangan dasar masing-masing minus 4,71% dan minus 4,6%. Penutupan perdagangan saham yang dilakukan 30 menit lebih awal pada Kamis (12/3) pukul 15.33 WIB telah sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui surat bernomor S-274/PM.21/2020.

OJK memerintahkan bursa efek untuk melakukan trading halt selama 30 menit dalam hal IHSG turun mencapai 5% tersebut mulai diberlakukan pada Rabu (11/3). Penghentian perdagangan pasar saham yang dilakukan pada pukul 15.33 WIB itu berdekatan dengan penutupan pasar saham yakni pukul 16.00 WIB sehingga penghentian dilakukan secara bersamaan dengan penutupan pasar. OJK telah mengeluarkan kebijakan relaksasi untuk sektor pebankan.

Bank Indonesia (BI) juga telah mengeluarkan lima kebijakan yang bertujuan menjaga stabilitas rupiah dan memompa likuiditas pasar. Pemerintah pun telah mengumumkan paket kebijakan stimulus jilid pertama pada akhir bulan lalu.

Pemerintah memberikan insentif fiskal senilai Rp 10,3 triliun untuk sektor pariwisata, maskapai penerbangan, dan perumahan yang terdampak dari wabah Covid-19. Anggaran itu diambil dari dana cadangan di APBN 2020. Dalam waku dekat, pemerintah akan mengeluarkan kebijakan fiscal tahap kedua untuk sektor manufaktur karena dinilai yang paling terpukul dari pandemi Virus Korona.

Meski belum diumumkan resmi, dalam paket stimulus ini pemerintah akan membebaskan pajak penghasilan (PPh) Pasal 21, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 25 selama enam bulan dimulai pada April mendatang.

Kita berharap kebijakan insentif pajak ini dapat memberikan sentimen positif ke pasar finansial dalam negeri. Juga tidak kalah penting, insentif pajak akan mendorong daya beli masyarakat yang tengah terpukul oleh pandemic Covid-19.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN