Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbandingan jumlah stimulus sejumlah negara

Perbandingan jumlah stimulus sejumlah negara

Berbagi Rasa Sakit

Investor Daily, Jumat, 5 Juni 2020 | 23:32 WIB

Korporasi swasta turut menentukan sehat atau tidaknya perekonomian nasional. Jika korporasi terserang flu, perekonomian bakal langsung meriang. Jika korporasi swasta sakit, ekonomi domestik ikut sakit. Adagium itu tak hanya berlaku di masa Covid-19, tapi juga pada kondisi normal.

Jika usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berfungsi sebagai bumper perekonomian maka korporasi swasta adalah rodanya. UMKM menjadi pengaman saat perekonomian menabrak, menghantam, dan terempas.

Korporasi swastalah yang kemudian membawanya kembali melaju. Korporasi swasta begitu penting karena kontribusinya sangat signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB).

Stimulus Fiskal dan Moneter sejumlah negara dalam mengatasi dampak Covid-19
Stimulus Fiskal dan Moneter sejumlah negara dalam mengatasi dampak Covid-19

Korporasi juga menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi penyumbang utama penerimaan pajak, terutama pajak penghasilan (PPh) badan, PPh pasal 21, dan pajak impor.

Di Indonesia terdapat sekitar 66 ribu korporasi dengan kontribusi sekitar 52% terhadap PDB. Korporasi menyerap 7-8 juta pekerja atau 6-7% dari angkatan kerja. Tahun lalu, setoran pajak korporasi dalam bentuk PPh badan, PPh pasal 21, dan pajak impor masing-masing mencapai Rp 256,7 triliun, Rp 148 triliun, dan Rp 229 triliun.

Korporasi tak bisa dipisahkan dari UMKM karena pelaku UMKM terkoneksi dan memiliki keterkaitan (linkage) dengan korporasi, baik dari segi pembiayaan, pemasaran, maupun penyediaan bahan baku.

Maka sehat atau tidaknya sektor korporasi juga menentukan sehat atau tidaknya sektor UMKM secara keseluruhan. Karena itu, wajar jika korporasi swasta menuntut stimulus yang lebih besar kepada pemerintah.

Dukungan APBN untuk PEN
Dukungan APBN untuk PEN

Juga bisa dimaklumi jika mereka berharap dapat menikmati program restrukturisasi utang, subsidi bunga kredit, dan dana talangan modal kerja, sebagaimana diterima para pelaku UMKM dan badan usaha milik Negara (BUMN).

Pandemi corona telah memaksa pemerintah memberlakukan protokol Covid-19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Seiring dengan menurunnya mobilitas masyarakat, kegiatan ekonomi stagnan. Akibatnya, kinerja bisnis korporasi anjlok. Solvabilitasnya terganggu. Sebagian perusahaan bahkan sudah merumahkan dan mem-PHK karyawan.

Menurunnya tingkat solvabilitas atau kemampuan membayar utang perusahaan tidak bisa dianggap sepele. Sebab dari situlah bibit-bibit krisis ekonomi berasal. Indonesia diterjang krisis moneter 1997-1998 antara lain karena sektor korporasinya memiliki tingkat solvabilitas yang amat buruk. Kredit macet sektor korporasi itulah yang membuat perbankan kolaps.

Kita paham kondisi saat ini sungguh berbeda. Kredit macet pada krisis 1997- 1998 lebih banyak dipicu aji mumpung (moral hazard), seperti pelanggaran batas maksimum pemberian kredit (BMPK) sesama grup, penggelembungan nilai aset (mark-up), ser ta praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Namun, krisis moneter memberikan pelajaran kepada kita bahwa risiko kredit macet tidak boleh dipandang remeh.

Stimulus Fiskal dan Moneter sejumlah negara dalam mengatasi dampak Covid-19
Stimulus Fiskal dan Moneter sejumlah negara dalam mengatasi dampak Covid-19

Itu sebabnya, penyelamatan ekonomi nasional dari dampak Covid-19 tidak bisa dilakukan secara parsial hanya terhadap UMKM dan BUMN, tapi juga harus melibatkan korporasi swasta. Penyehatan UMKM dan BUMN tidak akan efektif jika korporasi swasta tidak disembuhkan.

Pemerintah telah memutuskan untuk membantu korporasi swasta. Hanya saja, selain terlalu kecil, bantuan untuk korprasi swasta belum jelas peruntukannya. Dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) senilai Rp 677,2 triliun, dana stimulus untuk korporasi swasta nyempil di antara insentif untuk UMKM, BUMN, masyarakat sebesar Rp 126,1 triliun, ditambah insentif lainnya Rp 44,57 triliun.

Pemerintah belum memperinci berapa persisnya dana stimulus untuk korporasi swasta. Juga belum menjelaskan secara detail, apakah dana tersebut akan diberikan dalam bentuk insentif pajak, restrukturisasi utang, kredit modal kerja, atau paket insentif lainnya yang bisa membantu korporasi swasta lolos dari dampak corona.

Tentu kita berharap stimulus untuk koporasi swasta bukan hanya diberikan dalam bentuk insentif pajak. Pada masa pandemi, stimulus berbasis pajak tak akan efektif jika tidak diikuti stimulus lainnya. Sebab, stimulus pajak hanya bisa dinikmati perusahaan yang masih menghasilkan keuntungan.

Sebagian besar perusahaan kini tiarap akibat Covid. Jangankan menghasilkan profit, untuk bertahan saja sulit. Terlepas dari itu semua, kita mendorong pemerintah segera memperinci, memfinalisasi, dan mengeksekusi stimulus untuk korporasi swasta yang terdampak pandemi Covid-19.

Sebagian besar korporasi sudah megap-megap. Jangan sampai mereka kehilangan momentum untuk bangkit hanya karena stimulus terlambat diimplementasikan.

Kita sepakat bahwa stimulus hanya boleh diberikan kepada korporasi yang benar-benar terdampak Covid-19, bukan perusahaan yang kesulitan akibat salah kelola (mismanagement), apalagi yang terindikasi melakukan kejahatan (fraud). Karena itu, lembaga-lembaga auditor dan antirasuah, terutama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak boleh ‘tidur’.

Stimulus untuk korporasi swasta harus menjadi ejawantah pernyataan Presiden Jokowi bahwa dalam menghadapi Covid-19, semua pihak harus berbagi beban (burden sharing) dan berbagi rasa sakit (sharing the pain). Bukankah menyelamatkan korporasi swasta sama dengan menyelamatkan perekonomian nasional?

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN