Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dealer memantau penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di global market Bank Mandiri, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/AVID GITA ROZA

Dealer memantau penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di global market Bank Mandiri, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/AVID GITA ROZA

Berharap Imbal Hasil yang Lebih Ideal

Selasa, 22 September 2020 | 10:31 WIB
Investor Daily

Pandemi Covid tak meredupkan pamor Indonesia sebagai Negara tujuan investasi. Meski investor asing telah membukukan penjualan bersih (net sell) di pasar saham dan surat berharga negara (SBN) masing-masing senilai total Rp 39,98 triliun dan Rp 129,55 triliun selama tahun berjalan (year to date/ytd),

Indonesia tetap dianggap sebagai emerging markets paling menjanjikan. Salah satu bukti bahwa Indonesia masih dalam pantauan radar para pengelola hedge fund atau fund manager global adalah terus meningkatnya kepemilikan investor asing pada saham, obligasi, reksa dana, dan aset portofolio lainnya di tengah pandemi Covid-19.

Padahal, dalam waktu bersamaan, harga saham dan SBN di pa sar domestik justru terkoreksi. Maret 2020 adalah puncak anjloknya kepemilikan investor asing pada aset portofolio yang tercatat di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Saat itu, nilai aset investor asing menyusut dibanding bulan sebelumnya dari Rp 1.744,64 triliun menjadi Rp 1.437,27 triliun. Memasuki April, Mei, Juni, Juli, dan Agustus 2020, kepemilikan asing naik masingma sing menjadi Rp 1.462,70 triliun, Rp 1.476,05 triliun, Rp 1.536,09 triliun, Rp 1.595,57 triliun, dan Rp 1.629,65 triliun.

Tetap tingginya minat investor asing selama pandemic corona tidak terlalu mengejutkan.

Survei Bloomberg sebelum pandemic menempatkan Indo nesia sebagai tu juan investasi paling terpercaya pada 2020. Di pasar saham, Indonesia berada di peringkat ke-1, mengalahkan Tiongkok, India, dan Brazil. Di pasar surat utang, Indonesia juga berada di urutan pertama, mengalahkan Rusia, Meksiko, dan Brazil. Minat investor asing tetap tinggi karena mereka percaya Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat.

Karena alasan itu pula, lembaga pemeringkat utang, Fitch Ratings pada Agustus lalu mempertahankan peringkat utang (rating) Indonesia pada posisi BBB, dengan prospek stabil. Fitch menganggap Indonesia memiliki prospek pertumbuhan jangka menengah yang baik dengan rasio utang terhadap produk domestic bruto (PDB) yang rendah. Fitch juga mengapresiasi respons pemerintah terhadap krisis akibat Covid.

Ke depan, minat investor asing untuk berinvestasi di pasar saham dan obligasi, khususnya surat berharga negara (SBN), diperkirakan terus meningkat. Apalagi pasar finansial global sedang memasuki tren suku bunga rendah setelah Bank Sentral (AS), The Fed, memutuskan untuk terus mematok Fed funds rate (FFR) di level 0-0,25%, bahkan berencana memangkasnya hingga 0%.

Tren suku bunga global yang rendah bakal menguntungkan Indonesia. Sebab dibanding emerging markets yang lain dan negara-negara selevel (peer), imbal hasil (yield) yang ditawarkan Indonesia jauh lebih kompetitif.

Sebagai perbandingan, imbal hasil SBN tenor 10 tahun yang pada akhir Desember 2019 berada di level 7,09% saat ini masih stabil di posisi 7,01%. Bandingkan dengan imbal hasil SBN Filipina dan India yang pada periode sama masing-masing turun dari 4,48% dan 6,54% menjadi 2,94% dan 6,02%.

Posisi imbal hasil SBN Indonesia yang tinggi namun stabil di tengah pandemic mengindikasikan bahwa imbal hasil Indonesia lebih menguntungkan dengan risiko yang tetap terukur.

Sekalipun tren penurunan suku bunga global berlanjut, imbal hasil SBN tenor 10 tahun diperkirakan hanya turun ke kisaran 6% hingga 6,5%. Level ini dianggap masih atraktif, apalagi negara- negara maju tengah memasuki era suku bunga 0%. Ke depan, investor asing yang masih wait and see akan kembali masuk.

Di luar itu semua, kita perlu terus mendorong imbal hasil SBN ke level yang lebih ideal, turun namun tetap menarik bagi investor. Imbal hasil dan bunga yang terlampau tinggi bisa memicu crowding out effect.

Selain meningkatkan biaya di APBN, imbal hasil yang terlalu tinggi bisa memandulkan fungsi intermediasi perbankan terhadap sektor riil dan menyebabkan ekonomi biaya tinggi di pasar obligasi korporasi. Perusahaan-perusahaan yang akan menerbitkan obligasi harus mematok imbal hasil tinggi agar diserap pasar.

Sejujurnya, saat ini ada kecenderungan bank-bank di Tanah Air lebih nyaman menempatkan dananya di SBNdaripada Menyalurkannya sebagai kredit kepada sektor riil dan masyarakat. Dana yang ditempatkan perbankan di SBN per 18 September 2020 melonjak 97% menjadi Rp 1.224,60 triliun dibanding pada 2 Januari 2020 sebesar Rp 622,20 triliun.

Selama pandemi, risiko kredit memang meningkat. Permintaan kredit juga rendah. Namun, melihat banyaknya stimulus yang diberikan pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk melalui program penjaminan, restrukturisasi kredit, dan quantitative easing (QE), tetap mampatnya kredit perbankan perlu dipertanyakan.

Kondisi ekonomi domestik ke depan sangat mendukung penurunan imbal hasil SBN ke level yang lebih ideal bagi pemulihan ekonomi nasional, sehingga tak ada alasan bagi terjadinya crowding out effect. Selain ditunjang inflasi yang rendah dan rupiah yang relatif stabil, BI sudah mengisyaratkan bakal kembali menurunkan suku bunga acuan (BI 7-day Reverse Repo Rate/BI7DRRR) dari posisi saat ini 4%.

Di pasar SBN, kebijakan berbagi beban (burden sharing) antara BI dan pemerintah --di mana BI dibolehkan membeli SBN di pasar perdana—juga akan menjadikan permintaan terhadap emisi SBN tetap terjaga dan biaya penerbitannya semakin rendah. Dengan begitu pula, APBN akan semakin manageable dan kemampuan BI dalam menjalankan operasi moneter tetap terpelihara.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN