Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Berpaling ke Sawt

Gora Kunjana, Senin, 10 Desember 2018 | 07:49 WIB

Jatuhnya harga sawit bukanlah bencana bagi ekspor Indonesia dan petaka bagi jutaan petani yang hidup dari komoditas ini. Merosotnya ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak mentah sawit merupakan isyarat kuat agar Indonesia segera berpaling ke sawit.

Komoditas ini bukan saja mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dan BBM, melainkan juga bisa menyejahterakan bangsa ini. Sawit adalah berkat bagi Indonesia, negeri yang terletak di garis kathulistiwa. Tanaman palma ini tidak bisa menghasilkan buah jika ditanam di wilayah yang jauh dari garis khatilistiwa.

Tak satu pun bagian tanaman ini yang tidak bermanfaat. Dari akar hingga daun, sawit memberikan manfaat ekonomi. Nilai ekonomi terbesar adalah tandan buah segar (TBS) karena dari TBS diperoleh CPO. Sedang CPO tak hanya menghasilkan minyak goreng, melainkan ratusan produk hilir lainnya, di antaranya adalah energi, produk makanan, dan bahan kosmetik. Bungkil TBS menjadi pakan ternak berkualitas.

Pada tahun 2017, produksi CPO Indonesia mencapai 42 juta ton, dua kali lipat produksi CPO Malaysia. Tapi, produksi yang besar itu kini menjadi masalah. Turunnya permintaan di pasar ekspor menyebabkan CPO Indonesia kelebihan pasokan. Dengan produksi yang berlebih, Indonesia tak punya leverage yang cukup kuat untuk meyakinkan negara pembeli. Akibatnya, harga CPO terus ter tekan hingga jauh di bawah harga produksi.

Pada awal Desember 2018, harga CPO di pasar internasional sekitar US$ 470 per ton, jauh di bawah biaya produksi yang berada di kisaran US$ 600-650 per ton. Kondisi ini menyebabkan produsen didera kerugian serius. Para petani, yang kini menguasai 41% lahan sawit, tak mampu merawat dan memanen sawit. Sedikitnya 8 juta orang yang secara langsung bekerja di kebun sawit dan 17 juta menggantungkan hidupnya pada sawit.

Sambil terus berusaha meningkatkan kinerja ekspor CPO, Indonesia perlu lebih serius mengalihkan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar nabati (BBN) berbahan baku CPO. Dengan mengalihkan BBM ke BBN, Indonesia terbebas dari tekanan current account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan. Pada tahun 2017, konsumsi BBM 1,3 juta barel per hari (bph). Sedang produksi hanya 59%. Tahun ini, terjadi peningkatan konsumsi BBM sekitar 4%, sehingga CAD kian dalam.

Langkah sistematis yang perlu segera dilakukan adalah mengalihkan kilang BBM ke kilang BBN dan mengubah pembangkit listrik tenaga solar (PLTD) ke pembangkit listrik tenaga nabati atau biofuel. Dari sisi teknis tak ada masalah. Anak bangsa ini mampu mengonversi kilang BBM ke kilang biofuel dan menggantikan PLTD dengan pembangkit listrik tenaga nabati. Yang menjadi masalah hanyalah komitmen dan konsistensi kebijakan.

Lebih dari itu, masalah terbesar mengalihkan BBM ke bahan bakar nabati (BBN) adalah kepentingan pribadi dan kelompok di Kementerian ESDM, PT PLN, dan sejumlah kementerian terkait. Impor minyak mentah dan BBM, juga PLTD, adalah sumber rezeki pihak tertentu.

Benturan kepentingan inilah yang harus disapu bersih dari para penyelenggara negara dan BUMN energy demi menyelamatkan kepentingan bangsa. Para pelaku bisnis sawit juga tak bebas dari kepentingan.

Saat ini, ketika harga CPO jatuh, mereka mendukung penuh penjualan CPO ke dalam negeri. Tapi, ketika harga CPO kembali melejit, komitmen mereka diuji. Para produsen CPO harus terikat pada komitmen untuk memasok CPO ke kilang dan pembangkit listrik di dalam negeri dengan harga yang tak perlu selalu mengikuti harga internasional.

Selain membebaskan Indonesia dari deraan CAD, penggunaan CPO untuk bahan bakar dan pembangkit listrik juga membebaskan alam negeri ini dari polusi. BBM fosil yang polutif digantikan oleh energi nabati yang bersih dan ramah lingkungan. BBM fosil akan habis dalam waktu beberapa dekade akan datang. Sedang BBN akan tetap bertahan.

Jatuhnya harga CPO hendaknya menjadi momentum bagi pengembangan energi BBN. Pemerintah sudah menetapkan kebijakan B-20, artinya setiap satu liter solar harus ada kandungan fatty acid methyl ester (FAME), yang berasal dari CPO, sebesar 20%. Ditargetkan, pada tahun 2019, B-20 sudah bisa ditingkatkan menjadi B-30. Selanjutnya, target FAME adalah 100%.

Sebagai produsen CPO terbesar di dunia, Indonesia perlu memanfaatkan dengan bijak karunia ini. Tanpa perlu menambah lahan sawit, produksi CPO harus terus ditingkatkan untuk menghasilkan devisa, menyerap tenaga kerja dalam negeri, dan menghasilkan energi ramah lingkungan, menggantikan BBM. Kelebihan pasokan dan jatuhnya harga CPO memberikan pesan kuat agar kita sebagai bangsa segera berpaling pada sawit, karunia Pencipta yang tiada taranya bagi bangsa ini. (*)

BAGIKAN