Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

BI Tetap Dukung Pemulihan

Kamis, 25 November 2021 | 21:29 WIB
Investor Daily

Bank Indonesia (BI) kembali meneguhkan komitmennya tetap mendukung pemulihan ekonomi nasional tahun depan. Dukungan bank sentral itu ditunjukkan melalui pembelian surat berharga negara (SBN) yang diterbitkan pemerintah. Dengan pendanaan BI, pemerintah dapat memfokuskan APBN untuk pena nganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Bank sentral telah berkomitmen untuk berpartisipasi dalam pendanaan APBN sesuai Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 dalam jumlah yang besar. Pada 2020, BI telah membeli SBN sebesar Rp 473,4 triliun.

Sepanjang 2021, BI mencatat telah melakukan pembelian SBN sebesar Rp 143,3 triliun berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) I dan Rp 215 triliun untuk penanganan di bidang kesehatan dan kemanusiaan berdasarkan SKB III.

Sementara, pada 2022, BI akan kembali membeli SBN sebesar Rp 224 triliun dengan suku bunga rendah untuk membantu pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022.

Pembelian SBN adalah bentuk sinergi stimulus fiskal dan moneter, mengingat defisit APBN 2022 akan mencapai 4,9% dari produk domestik bruto (PDB). Belanja negara pada tahun depan ditargetkan mencapai Rp 2.714,2 triliun yang di antaranya untuk anggaran kesehatan, perlindungan sosial, dan infrastruktur, sehingga membutuhkan pembiayaan senilai Rp 868 triliun.

Gubernur BI Perry Warjiyo berharap ekonomi Indonesia bisa pulih lebih kuat di tahun 2022. Dengan berbagai sinergi

 antarpemangku kebijakan, ekonomi Indonesia akan tumbuh pada kisaran 4,7-5,5% pada tahun 2022, lebih tinggi dari tahun ini yang diperkirakan 3,4- 4,0%. Kinerja pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 yang akan bangkit didorong oleh sinergi dan koordinasi yang erat semua pihak untuk bertahan dan bangkit dari pandemi Covid-19. Pertumbuhan ekonomi juga akan disokong oleh perbaikan ekonomi global. Hal ini akan berdampak pada kinerja ekspor yang melanjutkan tren kinerja positif.

Pertumbuhan juga akan didorong oleh kinerja investasi yang meningkat, percepatan vaksinasi Covid-19, pembukaan sektor ekonomi, dan berlanjutnya stimulus kebijakan, baik fiskal maupun moneter. Dari sisi fiskal, pemerintah mengalokasikan anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) Rp 414 triliun. Anggaran itu naik 28,8% atau Rp 92,8 triliun dibandingkan rencana awal Rp 321,2 triliun.

Anggaran PEN tahun depan diarahkan untuk tetap mendukung penanganan pandemi di bidang kesehatan, memberikan perlindungan kepada masyarakat, dan insentif untuk dunia usaha agar terus bangkit di masa pemulihan ekonomi.

Sementara tingkat inflasi akan tetap terkendali pada 2022 dan terjaga pada kisaran 2-4%. Tingkat inflasi yang terjaga ini didukung oleh pasokan barang yang tetap memadai, respons kebijakan BI, serta koordinasi yang baik oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah. Indikator lainnya terkait stabilitas nilai tukar rupiah akan tetap dijaga sesuai dengan komitmen kuat BI di tengah normalisasi kebijakan moneter the Fed, bank sentral di Amerika Serikat.

Kemudian, defisit transaksi berjalan di tahun depan juga diperkirakan stabil sebesar 1,5% terhadap PDB. Cadangan devisa meningkat, stabilitas sistem keuangan terjaga, kecukupan modal tinggi, dan likuiditas melimpah. Dana pihak ketiga (DPK) dan kredit akan tumbuh masing-masing 7-9% dan 6-8% pada tahun 2022.

Ekonomi dan keuangan digital juga akan meningkat pesat. Transaksi digital banking akan mencapai Rp 40 ribu triliun pada 2021 dan meningkat menjadi Rp 48 ribu triliun pada 2022. Transaksi e-commerce di tahun 2021 da pat mencapai Rp 403 triliun dan naik menjadi Rp 530 triliun pada 2022. Begitu pula dengan transaksi uang elektronik yang akan meningkat menjadi Rp 289 triliun di 2021 dan menjadi Rp 337 triliun pada 2022.

Dengan sinergi yang kuat semua stakeholders, kita boleh berharap pemulihan ekonomi tinggal menunggu waktu. Apa lagi sejumlah indicator memperlihatkan perbaikan bila dibandingkan tahun lalu. Dunia usaha punya prospek yang lebih baik tahun depan.

Permintaan kredit akan meningkat untuk membuka usaha baru ataupun ekspansi. Namun demikian, kita jangan dulu berpuas diri. Pandemi Covid-19 masih menjadi ancaman dan menentukan  arah pemulihan ekonomi ke depan. Pemulihan ekonomi akan semakin terakselerasi jika kasus Covid-19 dapat ditekan.

Sebaliknya, bila terjadi lonjakan kasus Covid-19 --seperti saat ini dia lami sejumlah negara di Eropa—akan memupus harapan. Pengendalian pandemic Covid-19 yang konsisten diperlukan untuk menjaga prospek pemulihan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi tahun depan.

Tak hanya itu, yang juga perlu diwaspadai adalah dinamika global yang akan menimbulkan potensi risiko di akhir tahun 2021 sampai 2022. Isu-isu ekonomi di Amerika Serikat, Tiongkok, dan Eropa perlu dicermati. Fluktuasi harga komoditas, disrupsi rantai pasok (supply-chain disruption) dan beberapa risiko lain seperti geopolitik dan perubahan iklim patut diwaspadai.

Pandemi Covid-19 telah mendisrupsi rantai pasok global, terjadi kelangkaan kontainer, dan biaya logistik melonjak. Situasi tersebut mengakibatkan jutaan bahkan mungkin miliaran produk tidak dapat bergerak sama sekali, menunggu untuk diangkut, sehingga menciptakan antrean dan backlog pesanan yang sangat luar biasa.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN