Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Trinitan Global Pasifik menyatakan tetap on the right track pada tujuan bisnis utamanya, serta tetap optimistis dan berkomitmen membangun sektor ekonomi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.

PT Trinitan Global Pasifik menyatakan tetap on the right track pada tujuan bisnis utamanya, serta tetap optimistis dan berkomitmen membangun sektor ekonomi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.

Bisnis Berkelanjutan

Selasa, 30 Maret 2021 | 12:00 WIB
Investor Daily

Segala aktivitas kehidupan yang ramah lingkungan menjadi tren dunia dan tuntutan zaman. Itu sekaligus menjadi gaya hidup. Sebab dunia sudah cemas oleh perubahan iklim. Hampir seluruh negara menandatangani Paris Agreement, sebuah kesepakatan global untuk mereduksi emisi karbondioksida agar suhu bumi tidak meningkat lebih dari 2%.

Mobil berbahan bakar fosil yang royal emisi karbon pun bakal semakin ditinggalkan diganti mobil listrik yang ramah lingkungan. Sejumlah negara sudah membuat peta jalan mobil listrik dan larangan mobil berbahan bakar fosil. Upaya menggali dan optimalisasi energi bersih, termasuk energi baru terbarukan pun terus dilakukan.

Namun mandatori ramah lingkungan tidak lagi melulu sektor energi, tapi juga dalam aktivitas bisnis secara umum. Bahkan, indikatornya diperluas dengan aspek sosial dan tata kelola (governance). Itulah sebabnya, muncul sebuah tuntutan bahwa praktik bisnis ke depan harus mematuhi aspek kelestarian lingkungan (environmental), berdampak sosial (social), dan tata kelola yang baik (governance) atau populer dengan istilah ESG.

Berbagai survei menunjukkan, mayoritas perusahaan yang menerapkan ESG mengukir kinerja yang lebih baik. Mengutip hasil riset Clark, Feiner and Viehs pada 2014, terbukti 88% pelaku usaha yang mempraktikkan ESG mampu menghasilan performa yang jauh lebih baik dibanding yang belum menerapkan ESG. Selain itu, sekitar 80% perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa menikmati kenaikan harga saham saat mereka berkomitmen dan konsisten menerapkan praktik ESG.

ESG memang menjadi topik yang ramai diperbincangkan secara global, karena negara-negara sudah menunjukkan keprihatinan atas perubahan iklim di dunia. Selama ini, pembangunan kerap kali hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tanpa mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan hidup, sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan. Perilaku konsumtif juga menyebabkan masalah lingkungan.

Itulah sebabnya, Pemerintah Indonesia kian serius mencegah perubahan iklim dan kerusakan lingkungan dengan menerbitkan berbagai regulasi untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Peraturan tersebut di antaranya UU No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, dan UU 26 tahun 2007 tentang Penyediaan Ruang Terbuka Hijau.

Komitmen pemerintah tersebut telah ditindaklanjuti oleh regulator dan para pelaku bisnis, baik di sektor riil maupun sektor keuangan. Khusus untuk sektor keuangan, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meminta emiten memiliki laporan berkelanjutan (sustainability report) mulai 2021 ini. Kewajiban itu bahkan sudah diberlakukan terhadap perusahaan besar termasuk Bank BUKU IV dan BUKU III mulai tahun lalu.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun telah menerbitkan roadmap for sustainable finance, khususnya mengenai penerapan prinsip keuangan berkelanjutan pada sistem jasa keuangan di Indonesia. Selanjutnya, OJK bersama pelaku pasar terus mengembangkan produk pasar modal, seperti peraturan untuk menerbitkan efek bersifat utang yang berwawasan lingkungan dan pembentukan indeks untuk saham berbasis ESG, seperti indeks SRI-KEHATI dan ESG Leaders.

Meski arahnya sudah benar, peringkat ESG Indonesia di pasar modal dunia tertinggal dibandingkan negara-negara lain, termasuk di Asean. Sebagai gambaran, Indonesia berada di urutan 36, sementara Thailand berada di peringkat 9.

Di pasar modal, saat ini investor juga semakin selektif dalam memilih instrumen investasi, dan semakin peduli terhadap emiten yang memprioritaskan aspek ESG. Bursa Efek Indonesia mencatat tren peningkatan secara eksponensial investasi berbasis lingkungan selama enam tahun terakhir.

Investasi berbasis ESG juga menjadi fokus para investor milenial. Kita tahu bahwa pertumbuhan investor muda atau milenial sangat signifikan. Selama tahun 2020, investor di pasar modal Indonesia meningkat 56%, yakni dari 2,4 juta menjadi 3,9 juta. Dari jumlah itu, investor saham bertambah 54% dari 1,1 juta menjadi 1,7 juta.  Mayoritas atau 70% investor saham adalah kaum milenial.

Tren investasi produk ESG juga terjadi secara global. Hal itu tercermin pada data United Nations-supported Principles for Responsible Investment Initiative (UNPRI) yang menunjukkan bahwa dana kelolaan manajer investasi produk ESG global meningkat signifikan dari US$ 59 triliun pada 2015 menjadi US$ 103 triliun pada akhir 2020.

Bisnis berkelanjutan, yang berbasis ESG harus terus digaungkan. Perusahaan, investor, pelaku pasar, dan masyarakat harus peduli dan memperhatian aspek ESG. Sebab jika tidak, akan selalu ada benturan kepentingan antara pelaku bisnis dengan upaya-upaya menjaga pelestarian lingkungan. Motif ekonomi dan nafsu menggaet untung semaksimal mungkin kerap tidak disertai dengan kepatuhan terhadap lingkungan, jika mengabaikan prinsip ESG.

Penerapan prinsip-prinsip bisnis berkelanjutan jangan dipandang sebagai beban atau menambah biaya, karena pada akhirnya justru dapat menaikkan kinerja. Juga dapat menaikkan nilai perusahaan (value creation). Terlebih lagi, ke depan, tuntutan konsumen terhadap produk berbasis ESG bakal semakin tuntutan tinggi. Produk atau jasa yang mengabaikan ESG akan dijauhi konsumen dan investor.

Kita berharap semakin banyak pelaku usaha di Indonesia yang mengimplementasikan ESG. Bukan cuma korporasi besar atau perusahaan yang tercatat di bursa, tapi juga UKM. Implementasi ESG juga diyakini mampu meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menghadapi guncangan dan ketidakpastian.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN