Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu kegiatan pertambangan mineral. (foto ilustrasi).

Salah satu kegiatan pertambangan mineral. (foto ilustrasi).

'Booming' Komoditas

Kamis, 10 Juni 2021 | 13:46 WIB
Investor Daily

Harga komoditas sedang mencuri perhatian dunia. Dalam tiga bulan terakhir, hampir semua jenis komoditas mengalami kenaikan harga, bahkan memecahkan rekor tertingginya. Tak mengherankan jika muncul spekulasi bahwa harga komoditas bakal kembali booming seperti era 2003-2008.

Harga batu bara, komoditas andalan Indonesia, melesat ke level US$ 114-116 per ton di bursa komoditas New York (New York Mercantile Exchange/NYMEX) untuk pengiriman Juli 2021. Itu merupakan rekor tertinggi harga batu bara dalam 13 tahun terakhir atau sejak 2008.

Rally harga batu bara terjadi sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah. Harga minyak WTI pengiriman Agustus sudah menembus US$ 70 per barel, level tertinggi sejak Oktober 2018. Setali tiga uang, harga minyak mentah berjangka Brent kini melampaui US$ 72 per barel, posisi tertinggi sejak Mei 2019.

Harga komoditas andalan Indonesia lainnya, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), juga mengalami kenaikan harga yang signifikan. Harga CPO tembus level psikologis RM 4.186 per ton, rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Dalam tempo setahun, harga CPO melonjak sekitar 31%.

Harga nikel, yang digadang-gadang sebagai komoditas masa depan Indonesia, pun terus menanjak. Jika pada awal 2020 terseok-seok di level US$ 11.000 per ton, harga nikel kini bercokol di posisi US$ 17,912 per ton. Bahkan, harga nikel pada Februari lalu sempat tembus US$ 19.722 per ton, harga tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Kenaikan harga komoditas, termasuk minyak mentah, dipicu tiga hal. Pemicu pertama murni akibat mekanisme penawaran dan permintaan (supply-demand). Mulai pulihnya ekonomi sejumlah negara, terutama Tiongkok dan Amerika Serikat (AS), telah mendorong permintaan komoditas.

Pemicu kedua lebih karena faktor produksi. Komitmen anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) Plus untuk memperketat produksi, berkurangnya cadangan minyak AS, dan gangguan produksi di sejumlah negara produsen turut mendongkrak harga minyak.

Banyaknya kecelakaan di sentra tambang batu bara dan keputusan Tiongkok menghentikan impor batu bara dari Australia karena alasan politik, juga ikut mengerek naik harga komoditas tersebut. Sedangkan kenaikan harga CPO, selain dipicu demand, terdorong oleh cuaca ekstrem di Indonesia dan Malaysia sebagai produsen utama kelapa sawit.

Pemicu ketiga tentu spekulasi. Dengan asumsi ekonomi global segera pulih, para spekulan mengambil posisi beli agar bisa menikmati keuntungan yang optimal saat ekonomi normal kembali. Digerakkan oleh ketiga faktor tersebut, harga komoditas lainnya, seperti tembaga, timah, perak, aluminium, baja, karet, teh, kakao, dan kopi, juga ikut merangkak naik.

Pertanyaan besarnya, apakah harga komoditas bakal kembali booming? Pada 2003 hingga pertengahan 2008, Indonesia menikmati masa kejayaan komoditas. Akibat lonjakan harga komoditas, terutama CPO, nikel, tembaga, batu bara, karet, dan kakao, ekspor tumbuh double digit per tahun, hampir separuhnya disumbang komoditas perkebunan dan pertambangan. Surplus neraca perdagangan dan cadangan devisa melonjak hampir dua kali lipat.

Tahun 2003 hingga pertengahan 2008 adalah masa kedigdayaan saham-saham emiten berbasis komoditas. Kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan kapitalisasi pasar (market cap) bursa sangat ditentukan oleh pergerakan harga saham-saham komoditas. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang kini dipandang sebelah mata, dulu menjadi jawara market cap bursa domestik.

Pada masa keemasan komoditas, Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi salah satu bursa saham berkinerja terbaik di dunia. Daerah-daerah kaya bermunculan di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi yang menjadi sentra komoditas perkebunan dan pertambangan. Orang kaya baru bertebaran. Penjualan mobil dan sepeda motor melesat hingga 80%. Ekonomi tumbuh di atas 6%.

Namun, booming komoditas hanya 'dongeng semalam'. Setelah krisis finansial global mendera pada akhir 2008-2009, harga komoditas anjlok. Perekonomian nasional yang pada 2007 dan 2008 tumbuh 6,35% dan 6,01%, anjlok menjadi 4,63% pada 2009. Perusahaan-perusahaan tambang gulung tikar. Angka kemiskinan dan pengangguran meningkat. Saham-saham emiten berbasis komoditas berguguran. Bursa domestik terguncang.

Booming komoditas telah membuat bangsa ini terlena. Saat harga komoditas melambung, bahkan jauh sebelum itu, Indonesia seharusnya sudah melakukan transformasi ekonomi dengan membangun industri manufaktur untuk mengolah komoditas tambang dan perkebunan menjadi produk bernilai tambah tinggi, bukan mengekspornya secara gelondongan, dalam bentuk mentah, atau setengah jadi.

Bangsa ini gagal memanfaatkan era booming komoditas. Kegagalan memanfaatkan era booming komoditas untuk memacu pertumbuhan ekonomi tinggi secara berkualitas dan berkelanjutan berlangsung hingga sekarang. Itu sebabnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus-menerus berkutat di angka 5% per tahun.

Kita bersyukur bahwa pemerintah --meski terlambat-- tengah gencar mencanangkan transformasi ekonomi berupa hilirisasi sumber daya alam, salah satunya nikel. Pemerintah memilih nikel karena Indonesia merupakan pemilik 30% cadangan nikel dunia. Target pemerintah adalah menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama mobil listrik dunia.

Dalam skenario pemerintah, Indonesia disiapkan sebagai pusat industri sel baterai kendaraan listrik. Untuk itu, pemerintah sedang memulai pembangunan pusat industri sel baterai kendaraan listrik terintegrasi pertama di dunia dengan nilai investasi US$ 9,8 miliar atau Rp 142 triliun di Maluku Utara dan Batang (Jawa Tengah).

Tentu saja kita berharap bukan cuma nikel yang dihilirisasi. Hilirisasi juga harus dijalankan terhadap komoditas sumber daya alam lainnya, seperti tembaga, emas, timah, aluminium, batu bara, kelapa sawit, cokelat, kakao, karet, kopi, dan teh yang notabene merupakan komoditas-komoditas unggulan Indonesia di pasar ekspor.

Mengolah bahan tambang dan hasil perkebunan di dalam negeri tidak saja menaikkan harga produknya hingga puluhan, bahkan ratusan kali lipat saat diekspor dalam bentuk jadi, tapi juga menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang sangat besar. Kecuali membuka lapangan pekerjaan, melipatgandakan penerimaan negara, dan melahirkan banyak industri ikutan, mengolah hasil tambang dan perkebunan di dalam negeri akan mendatangkan gengsi nasionalisme dari merek yang dihasilkannya.

Pemerintah sejatinya sudah punya 'tiket' untuk menyukseskan program hilirisasi seluruh komoditas unggulan, yaitu Undang-Undang (UU) Cipta Kerja. UU Cipta Kerja, sebagaimana sering dikampanyekan pemerintah, adalah karpet merah bagi para investor. Berbagai kemudahan dan keringanan ditawarkan omnibus law ini kepada para invesor agar mereka berinvestasi di Tanah Air. Lewat UU Cipta Kerja pula pemerintah membentuk dan mengoperasikan Lembaga Pengelola Investasi (LPI).

UU Cipta Kerja, dengan LPI-nya, harus mampu mendatangkan sebanyak mungkin investor untuk berinvestasi pada industri manufaktur yang akan mengolah berbagai komoditas unggulan dan menjualnya dalam bentuk jadi, baik ke pasar ekspor maupun ke pasar domestik. Pemerintah harus mampu meyakinkan para calon investor bahwa masa pandemi Covid-19 ini adalah momen yang tepat untuk berinvestasi agar mereka bisa langsung menuai hasilnya saat ekonomi pulih.

Jika para investor tak juga datang, jika hilirisasi tak juga berjalan, dan jika ekspor komoditas mentah terus berlangsung, kita --dengan lapang dada-- harus mengakui bahwa UU Cipta Kerja tak mendatangkan manfaat apa pun bagi bangsa ini.   

 

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN