Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembentukan holding ultra mikro

Pembentukan holding ultra mikro

BRI Menuju Juara Asean

Jumat, 23 Juli 2021 | 22:21 WIB
Investor Daily

Pasar modal Indonesia akan mencatat sejarah baru rights issue, yang bisa menjadi salah satu terbesar di Asia. Penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) yang dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk itu menjadi pembuka kesempatan naik kelas, melaju menjadi setidaknya bank terbesar di Asean.

Rights issue bank berkode saham BBRI itu sudah mengantongi persetujuan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa secara daring, kemarin. Aksi korporasi ini sudah lama masuk dalam rencana strategis pemerintah yang punya kepentingan memiliki bank terbesar di Asean, sesuai posisi Indonesia yang memiliki produk domestic bruto (PDB) terbesar di kawasan. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di Asia Tenggara 270,2 juta jiwa lebih, Indonesia menyumbang 35% dari total PDB Asean atau sekitar US$ 1,1 triliun.

Namun, bank terbesar regional berasal dari Negara Kota Singapura. Langkah memperbesar BRI pun disegerakan, dengan ditopang pembentukan Holding Ultra Mikro yang direncana pemerintah. Holding ini memasukkan BUMN PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) yang juga menggarap sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan BRI sebagai induk holding.

Inbreng saham PT Pegadaian dan PNM yang dilakukan pemerintah akan meng gu na kan basis laporan keuangan konsolidasian historis auditan per 31 Maret 2021. Pasca inbreng, BRI akan efektif menjadi lo komotif BUMN Ultra Mikro. BRI bersama Pegadaian dan PNM berencana mengembangkan bisnis lewat penguatan jasa keuangan di segmen ultra mikro. BRI akan makin kencang mengeksplorasi sumber-sumber pertumbuhan baru yang selaras dengan aspirasi perseroan untuk menjadi champion of financial inclusion.

Segmen ultra mikro ini menjadi sumber pertumbuhan baru, melalui pembentukan ekosistem ultra mikro. Ekosistem ini me nyediakan layanan keuangan yang ter integrasi bagi para pengusaha segmen ultra mikro, sehingga memungkinkan mekanisme naik kelas ke nasabah mikro lebih tertata dengan baik.

Setidaknya, diperkirakan ada sekitar 45 juta usaha ultra mikro yang membutuhkan pendanaan tambahan, namun hanya 15 jutaan yang sudah tersentuh pendanaan dari lembaga keuangan formal. Ini merupakan bisnis yang gemuk dan berkelanjutan.

Saat ini, BRI sendiri memiliki lebih dari 100 juta nasabah, dengan ditopang 9.493 jaringan kantor, 27.450 tenaga pemasar mikro, serta 466.864 agen Brilink. Sementara itu, PNM terus bertambah nasabahnya, bahkan dalam tiga bulan terakhir naik 1,1 juta menjadi 9 juta nasabah, atau melonjak 38,1%.

Artinya, dengan menjangkau potensi ultra mikro, aksesibilitas layanan keuangan di segmen tersebut dapat dioptimalkan. Selain selaras dengan visi pemerintah untuk mendorong inklusi keuangan, hal itu tentunya berkontribusi positif mendongkrak kinerja keuangan perseroan.

Dalam PMHMETD ini, pemerintah akan menyetorkan seluruh saham Seri B miliknya di Pegadaian dan PNM kepada BRI atau inbreng. Setelah transaksi, BRI akan memililiki 99,99% saham Pegadaian dan PNM, di samping pemerintah tetap memiliki satu saham Seri A Dwiwarna pada Pegadaian dan PNM. BRI berencana menerbitkan sebanyakbanyaknya 28,66 miliar saham Seri B dengan nilai nominal sebesar Rp 50.

Adapun kepastian jumlah sahamnya dan harga pelaksanaan tengah dihitung. Dana hasil aksi korporasi ini akan dimanfaatkan oleh BRI untuk pembentukan Holding Ultra Mikro, yang dilakukan melalui penyertaan saham BRI dalam Pegadaian dan PNM sebagai hasil dari inbreng pemerintah.

Selain itu, untuk modal kerja bank anggota Himbara ini dalam rangka pengembangan ekosistem ultra mikro serta bisnis mikro dan kecil. Aksi korporasi itu akan berdampak pada laporan keuangan konsolidasian BRI pada tanggal 31 Maret 2021. BRI yang merupakan bank dengan aset ter be sar di Tanah Air bakal makin meninggalkan 

rivalnya. Aset bank pelat merah ini diperkirakan akan bertambah Rp 104 triliun menjadi Rp 1.515 triliun, dengan total liabilitas juga meningkat dari Rp 1.216 triliun menjadi Rp 1.289 triliun.

Pendapatan ditaksir melonjak dari Rp 40 triliun menjadi Rp 47 triliun. Demikian pula laba bersih diproyeksikan naik Rp 1 triliun menjadi Rp 8 triliun. Dalam Holding Ultra Mikro ini, PNM berperan dalam fase empowerment sebagaimana selama ini telah dilakukan. Pinjaman kelompok yang disalurkan PNM, selain sebagai pembiayaan, juga berfungsi untuk pemberian asistensi dan peningkatan kapabilitas.

Kemudian, di fase integration, BRI dan Pegadaian membantu pelaku usaha lewat berbagai layanan produk gadai maupun kredit usaha rakyat (KUR), yang disubsidi bunganya oleh pemerintah. Bahkan, di masa pendemi Covid-19 sekarang, pemerintah kembali melanjutkan subsidi bunga KUR sebesar 3% hingga akhir 2021.

Selanjutnya, pada fase upgrade, Holding Ultra Mikro akan memungkinkan pelaku usaha ultra mikro naik kelas, menjadi nasabah mikro BRI yang berbasis komersial.

Proses ini akan terjadi dalam satu ekosis tem yang solid, sehingga lebih efektif dan efisien. Artinya, rencana tersebut tak hanya mem berikan manfaat bagi BRI, tapi juga sa ngat positif untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha ultra mikro dan naik kelas. Mengingat pelaku usaha UMKM ini mencapai sekitar 99,99% dari total pelaku usaha di Indonesia, maka langkah tersebut sekaligus bakal mendorong pemulihan per ekonomian nasional. Harga saham bank rakyat ini juga dipastikan segera rebound, dan bahkan terbuka kesempatan mencetak rekor baru.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN