Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia.

Bursa Efek Indonesia.

BUMN Penggerak Bursa

Investor Daily, Senin, 24 Februari 2020 | 12:01 WIB

Dengan nilai kapitalisasi 25,8% terhadap total kapitalisasi, saham BUMN adalah penggerak pasar saham, Bursa Efek Indonesia (BEI). Naik-turunnya harga saham BUMN adalah penentu gerak indeks harga saham gabungan (IHSG) dan market cap. Total market cap 34 emiten BUMN dan anak usaha BUMN yang tercatat di BEI per 21 Februari 2020 sebesar Rp 1.745 triliun atau 25,8% dari total market cap emiten di BEI yang mencapai Rp 6.763 triliun. Selain Pertamina dan PLN, semua BUMN besar sudah go public.

Pekan silam, dua saham BUMN, PT BRI Tbk dan PT Mandiri Tbk, memutuskan pembagian dividen tahun buku 2019 sebesar 60% dari laba bersih. BRI memberikan dividen Rp 20,6 triliun atau sekitar Rp 168,1 per saham. Sedangkan Mandiri membagikan dividen Rp 16,5 triliun atau Rp 353,34 per saham.

Kebijakan ini mampu mendorong kenaikan harga dua saham BUMN perbankan tersebut. BUMN lainnya yang sudah mengumumkan dividen adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk, yakni Rp 3,85 triliun atau 25% dari total laba bersih. Dari dividen sebesar itu, pemerintah memperoleh 60% atau Rp 2,30 triliun.

Adapun dividen BRI yang mengalir ke kasnegara sebesar 11,7 triliun atau58% dari total dividen. Mandiri menyetor Rp 9,9 triliun atau 60% dari dividen ke kas negara. Data ini memperlihatkan niat pemerintah untuk memperbesar penerimaan negara dari dividen BUMN.

Untuk tahun buku 2019, Menteri BUMN Erick Thohir menargetkan total dividen BUMN sebesar Rp 48 triliun hingga Rp 50 triliun. Target ini tidak mudah tercapai karena kontribusi terbesar laba BUMN adalah sektor perbankan.

Erick Thohir. Foto: IST
Erick Thohir. Foto: IST

Pada tahun 2018, laba BUMN Rp 180 triliun. Belum diketahui laba bersih BUMN tahun buku 2019. Erick menargetkan BUMN meraih laba bersih tahun 2024 sebesar Rp 300 triliun. Target ini tidak ambisius. Namun, realisasinya sangat tergantung pada perlakuan pemerintah terhadap BUMN. BUMN berpotensi besar mengungguli swasta jika mereka ditempatkan di lapangan permainan yang sama dengan aturan main yang sama.

Selama ini, BUMN swasta tidak in the same level of playing field. Ibarat atlet UFC di arena pertarungan, kaki atau tangan BUMN dipegang, sehingga BUMN tak bisa leluasa mengerahkan semua kemampuan untuk bertarung.

Saat ini, harga saham BUMN umumnya terjungkal. Dalam setahun terakhir, 21 Februari 2019 hingga 21 Februari 2020, hanya empat emiten yang mencatat kenaikan harga saham. Lainnya, terjungkal, bahkan hingga 90%. Saham BRI memberikan capital gain 15,3% dan Wijaya Kar ya 14%. BUMN berkode WIKA itu merupakan satu-satunya BUMN karya yang memberikan capital gain.

Jika dilihat dengan lebih seksama, umumnya BUMN menunjukkan kinerja fundamental yang bagus. Hanya beberapa BUMN saja yang mengalami kesulitan dalam meningkatkan pendapatan di tengah himpitan utang. BUMN lainnya membukukan pendapatan besar dengan kemampuan membayar utang yang bagus.

Semua BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur dan konstruksi membukukan laba. Tak ada masalah dengan pembayaran utang. Prospeknya pun bagus. Karena, paling tidak, hingga tahun 2024, infrastruktur masih menjadi prioritas pemerintah. Dengan demikian, harga saham BUMN infrastruktur dan konstruksi mestinya bagus.

Tapi, fakta, harga saham BUMN infrastruktur dan konstruksi terpuruk. Sama sekali tidak mencerminkan kinerja fundamental yang solid dan prospek usaha yang bagus. Ini adalah tantangan direksi BUMN karya. Sosialisasi yang dilakukan manajemen WIKA mesti menjadi contoh bagi BUMN kar ya lainnya.

Direksi WIKA rajin menjelaskan perkembangan kinerja fundamental perusahaannya. Sungat pada tempatnya Menteri BUMN memberikan target tinggi kepada BUMN untuk mencetak laba. Tapi, pada saat yang sama, hendaknya Kementerian BUMN memberikan keleluasaan kepada direksi BUMN untuk mengembangkan perusahaan.

Selama mereka menerapkan good corporate governance (GCG) dan mematuhi rencana kerja yang sudah disetujui, langkah direksi BUMN perlu didukung. Penugasan kepada BUMN listed company tidak bisa seperti kepada BUMN yang belum go public. Hanya dengan pemahaman seperti ini, BUMN yang tercatat di BEI bisa meraih peningkatan laba sekaligus kenaikan harga saham. Kementerian BUMN ikut ber tanggung jawab terhadap jatuhnya harga saham BUMN yang saat ini sudah undervalued.

Dividen yield yang tinggi bagus bagi negara, bagus juga bagi pemodal. Tapi, pemodal akan lebih senang jika harga saham BUMN terus naik. Keuntungan pemodal dari capital gain jauh lebih besar dari dividen.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN