Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Bunga Acuan BI Turun Lagi

Jumat, 23 Agustus 2019 | 12:08 WIB

Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuan BI-7 days reverse repo rate (BI-7DRRR) sebesar 25 basis pon (bps) menjadi 5,5%. Keputusan bank sentral itu diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar Kamis (22/8) kemarin. Pemangkasan bunga acuan tersebut adalah yang kedua kalinya dalam sebulan terakhir. Terakhir, BI juga menurunkan bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75% pada 18 Juli lalu.

Penurunan bunga acuan sebesar 25 bps yang dilakukan kemarin di luar ekspektasi. Kalangan ekonom sebelumnya memperkirakan BI tetap mempertahankan bunga acuan. Umumnya mereka menilai belum saatnya BI menurunkan bunga acuan karena masih adanya sentimen global seperti perang dagang, Brexit hingga isu geopolitik. Selain itu, penguatan dolar AS dan masih kuatnya tekanan terhadap rupiah juga menjadi alasan prediksi suku bunga tetap.

Sementara itu, sinyal penurunan bunga acuan BI sebenarnya telah terlihat sejak awal bulan ini setelah bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memangkas bunga Fed fund rate (FFR) sebesar 25 bps ke kisaran 2,00% hingga 2,25% pada akhir Juli lalu. Artinya, BI memiliki ruang untuk kembali menurunkan suku bunga acuannya. Bahkan, seorang petinggi BI menyatakan penurunan bunga acuan hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.

Akhirnya, BI benar-benar merealisasikan penurunan bunga acuan dengan beberapa pertimbangan. Bank sentral beralasan kebijakan pemangkasan bunga acuan konsisten dengan rendahnya prakiraan inflasi yang berada di bawah titik tengah sasaran. Selain itu, tetap menariknya imbal hasil investasi asset keuangan domestik sehingga mendukung stabilitas eksternal, dan juga sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan dari dampak perlambatan ekonomi global.

Perry Warjiyo. Foto: IST
Perry Warjiyo. Foto: IST

Dalam pandangan BI, inflasi tetap terkendali pada level yang rendah dan stabil. BI memperkirakan tingkat inflasi 2019 akan berada di bawah titik tengah kisaran sasarannya 3,5% plus minus 1% dan terjaga dalam kisaran sasaran 3% plus minus 1% pada 2020. Hingga Juli 2019 atau secara tahunan (year on year/yoy), tingkat inflasi tercatat 3,32% atau di bawah target inflasi BI. Inflasi yang terkendali itu didorong oleh inflasi inti yang terjaga didukung ekspektasi yang baik seiring dengan konsistensi kebijakan BI menjaga stabilitas harga, permintaan agregat yang terkelola, dan pengaruh harga global yang minimal.

BI juga memandang nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya sehingga turut menopang ketahanan eksternal. Pada Juli 2019 rupiah menguat 0,8% secara point to point dibandingkan dengan level akhir Juni 2019, dan 1,3% secara rerata dibandingkan dengan level Juni 2019. Perkembangan ini ditopang berlanjutnya aliran masuk modal asing sejalan persepsi positif investor asing terhadap prospek ekonomi nasional dan daya tarik aset keuangan domestik yang tetap tinggi.

Sementara itu, pasar uang tetap stabil dan efisien sehingga mendukung transmisi kebijakan moneter. Hal ini dilihat dari kecukupan likuiditas pasar uang antar bank (PUAB) tetap terjaga tercermin pada rerata harian volume PUAB yang tetap tinggi Rp 18,96 triliun sehingga mengarahkan volatilitas suku bunga PUAB O/N tetap rendah. Sedangkan likuiditas perbankan juga terjaga antara lain tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 19,1% pada Juni 2019, meningkat dari 18,5% pada Mei 2019. Suku bunga PUAB O/N sebagai sasaran operasional kebijakan moneter terjaga di kisaran level suku bunga kebijakan sebesar 5,75% pada Juli 2019.

Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga, disertai dengan risiko kredit yang terkendali dan fungsi intermediasi yang berlanjut. Perkembangan ini tercermin dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan Juni 2019 yang tetap tinggi yakni 22,5%, dan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang tetap rendah yakni 2,5% (gross) atau 1,2% (net).

Kita berharap bunga acuan BI yang sudah di level 5,5% dapat direspons perbankan dengan menurunkan bunga kredit dalam waktu dekat. Penurunan bunga acuan saat ini memang sangat dibutuhkan oleh dunia usaha. Penurunan bunga acuan BI yang kemudian ditransmisi ke penurunan bunga kredit bank akan memberi dorongan bagi perusahaanperusahaan yang sepanjang semester pertama wait and see untuk memulai ekspansi pada semester kedua. Dunia usaha akan mendapatkan dana murah sejalan dengan penurunan bunga kredit.

Di sisi lain, fungsi intermediasi bank pun akan meningkat. Pertumbuhan kredit sedikit melambat menjadi 9,9% (yoy) pada Juni 2019 dari 11,1% (yoy) bulan sebelumnya. Sebaliknya, pertumbuhan DPK sebesar 7,4% (yoy) atau meningkat dibandingkan Mei 2019 sebesar 6,7% (yoy). Perlambatan penyaluran kredit per Juni terjadi pada golongan debitur korporasi maupun perseorangan. Kredit ke korporasi tumbuh 12% (yoy) atau melambat dari bulan sebelumnya 13,6%. Sedangkan kredit perorangan tumbuh 8,9% (yoy) per Juni, juga lebih rendah dari bulan sebelumnya 9,3% (yoy). Perlambatan pertumbuhan kredit juga terjadi pada seluruh jenis penggunaannya. Misalnya kredit modal kerja (KMK) yang melambat dari 10,9% (yoy) per Mei menjadi 9,5% (yoy) per Juni lalu. Perlambatan pertumbuhan tersebut utamanya terjadi pada sektor industry pengolahan dan sektor konstruksi.

Dengan penurunan bunga acuan yang kemudian diikuti penurunan bunga kredit, ada harapan pertumbuhan kredit bakal meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit perbankan dalam kisaran 10-12% (yoy) pada 2019 dan 11-13% (yoy) pada 2020, sementara DPK diprakirakan dalam kisaran 7-9% (yoy) pada 2019 dan 8-10% (yoy) pada 2020. BI pun memandang terbuka ruang kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan kredit tanpa mengganggu stabilitas system keuangan.

Di sisi lain, makin mengecilnya selisih bunga simpanan dengan bunga kredit akan mendorong pemilik dana atau investor untuk mencari gain yang lebih tinggi. Salah satu pilihannya adalah instrumen investasi di pasar modal. Masuknya dana tersebut akan mendongkrak harga-harga saham di bursa efek dalam negeri sehingga menjadi sentimen positif bagi perusahaan yang mau menggalang pendanaan di pasar modal.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga 9 Agustus 2019 tercatat ada 90 penawaran umum (PU) di pasar modal, dengan nilai mencapai Rp 109,2 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 penawaran umum perdana (IPO) saham berhasil mengumpulkan dana Rp 8,5 triliun, 12 hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) meraih Rp 25,7 triliun, tiga PU penerbitan efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS) Rp 2,25 triliun, 16 PU EBUS tahap I Rp 17,02 triliun, dan 330 PU EBUS tahap II Rp 55,75 triliun.

Selain pencatatan saham juga terdapat enam pencatatan efek Exchange Traded Fund (ETF) baru, dua Kontrak Investasi Kolektif Dana Investasi Real Estate (DIRE) dan satu Kontrak Investasi Kolektif Dana Investasi Infrastruktur (Dinfra). Sehingga total terdapat 41 pencatatan efek baru pada pertengahan 2019. Emisi surat berharga negara secara year to date mencapai Rp 113,38 triliun. Dana kelolaan reksa dana juga naik 7,2% dari Rp 748,54 triliun menjadi Rp 802,4 triliun.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA