Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Bank Indonesia. Foto: Uthan A Rachim

Bunga Murah, Ekonomi Bergairah

Sabtu, 20 Juli 2019 | 12:09 WIB

Setelah lama ditunggu-tunggu, Bank Indonesia akhirnya mengikuti tren langkah bank sentral global memangkas bunga acuan. Selain memang perlu untuk mendorong pertumbuhan di tengah pemberat lesunya ekonomi global, The Fed yang menjadi rujukan juga sudah ancang-ancang menurunkan bunga.

Tak heran, pasar pun menyambut positif, dengan bursa saham di dalam negeri menghijau dan rupiah menguat terhadap dolar. Langkah BI yang mendahului eksekusi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), memangkas bunga itu tentu pantas diacungi jempol. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), Bank Indonesia menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) 25 basis points, menjadi 5,75%, setelah sebelumnya ditahan sebesar 6% selama delapan bulan.

BI juga memangkas 25 bps suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility, masing-masing menjadi 5,00% dan 6,50%. Di tingkat global, awal Mei lalu, bank sentral Malaysia misalnya, telah memangkas policy rate-nya 25 bps ke 3,00%.

Demikian pula Reserve Bank of Australia (RBA) menurunkan suku bunga acuan untuk pertama kali dalam tiga tahun sebesar 25 bps, ke rekor terendahnya 1,25%. Ini baru langkah pertama dari serangkaian stimulus untuk mendorong kembali pertumbuhan ekonomi tahunan Australia yang melambat ke level 1,8%, terendah dalam satu dekade terakhir.

Sedangkan Gubernur The Fed Jerome Powell dalam testimoni di hadapan Kongres Amerika Serikat mengungkapkan, argumen bagi penurunan suku bunga makin kuat akibat meningkatnya ketidakpastian perang dagang dengan Tiongkok dan perlambatan pertumbuhan global.

Ketidakpastian ini membebani prospek ekonomi negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar di dunia itu, sehingga bank sentral AS membuka pintu penurunan suku bunga Fed Funds Rate pada bulan ini, dari posisi 2,25-2,50%.

Indonesia sendiri tentu saja juga terdampak gejolak global. Apalagi, Tiongkok yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia itu merupakan pasar utama ekspor komoditas kita, mulai dari batu bara hingga minyak sawit. Kedua komoditas ini merupakan penyumbang utama devisa ekspor RI dari sector nonmigas.

Itulah sebabnya, keputusan BI menurunkan bunga penting untuk memitigasi dampak negatif global terhadap perekonomian nasional. Mengingat ruang untuk penurunan suku bunga kebijakan ini masih ada, didukung inflasi rendah, ke depan tentunya bank sentral perlu kembali menurunkan BI-7DRRR 25 bps menjadi 5,50%, setelah The Fed merealisasikan pemangkasan bunga acuannya.

Pasalnya, suku bunga di pasar keuangan Indonesia masih cukup menarik bagi investor global, mengingat selisih suku bunga pasar (differential interest rate) dengan negara-negara maju masih besar. Bila yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US treasury) saat ini sekitar 1,9-2%, yield Surat Berharga Negara Indonesia tenor 10 tahun di kisaran 7,17%, sehingga masih ada selisih sekitar 5%.

Menguatnya peluang penurunan bunga The Fed pun mendorong aliran modal asing (capital inflow) kembali masuk ke emerging markets. Di Indonesia, momentum ini diperkuat tarikan sudah adanya kepastian hasil pilpres, yang memenangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk periode pemerintahan lima tahun berikutnya. Aliran masuk modal asing portofolio sampai Juni 2019 tercatat menembus US$ 9,7 miliar, setara Rp 135,19 triliun. Penurunan bunga acuan BI lebih lanjut misalnya 25 bps lagi saja, bisa mendorong bunga bank lebih murah dan selanjutnya industri lebih ekspansif. Ini sangat membantu menggairahkan kembali sektor properti misalnya, yang dalam empat tahun terakhir didera kelesuan.

Penurunan bunga bank dapat membangkitkan pasar properti, mengingat 75-80% pembelian hunian menggunakan skema kredit pemilikan rumah/ apartemen (KPR/KPA). Sektor ini sangat penting, karena multiplier effect-nya besar dan luas, setidaknya memengaruhi 117 industri yang terlibat.

Selain itu, menyerap banyak tenaga kerja dan sebagian besar barang yang digunakan diproduksi dalam negeri. Tak hanya itu, turunnya bunga juga akan menggairahkan pasar saham di Indonesia, yang menyediakan pendanaan murah. Prospek emitenemiten perbankan yang kini mendominasi Bursa Efek Indonesia pun makin kinclong. Pasalnya, pemangkasan suku bunga bakal memperbanyak penyaluran kredit, sehingga makin menggairahkan industri perbankan di Tanah Air. Namun demikian, penurunan bunga saja tidak cukup untuk memacu pertumbuhan investasi dan ekonomi tinggi yang dibutuhkan negeri ini.

Pertumbuhan mesti dihela ke level 7,5-8,5%, untuk menyerap tambahan jumlah angkatan kerja yang sekitar 2 juta orang setahun. Per tumbuhan yang dalam lima tahun terakhir terjebak di level sekitar 5% tak cukup untuk memangkas kerentanan kemiskinan di Tanah Air, mengingat 1% pertumbuhan kini hanya menyerap 200 ribu-250 ribu tenaga kerja, seiring kemajuan teknologi informasi dan otomatisasi pekerjaan. Padahal, dulu mampu menyerap 400 ribu pekerja.

Untuk itu, pemerintah harus memberikan stimulus yang sungguhsungguh dibutuhkan dunia usaha, yang jelas sasarannya dan benar-benar mampu menghilangkan hambatan industri. Misalnya di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang menyerap banyak tenaga kerja dan menghasilkan devisa besar, harus dibantu oleh pemerintah dengan mengucurkan pendanaan murah untuk revitalisasi pabrik yang mesin-mesinnya banyak yang tua. Revitalisasi dengan mesinmesin modern ini membutuhkan dana dengan bunga murah sekitar Rp 100 triliun.

Dana Rp 100 triliun itu tak hanya akan dinikmati sektor TPT, namun juga bisa memutar ekonomi lebih kencang sekaligus memperkuat struktur industri nasional. Dana ini bisa digunakan untuk membeli mesinmesin produksi dalam negeri sendiri, tak perlu membeli dari Tiongkok atau dari Jerman yang harganya mahal. Mesin tekstil ini sudah lama mampu diproduksi perusahaan di Tanah Air, seperti Texmaco.

Selain itu, pengusaha juga menantikan sinkronisasi pemangkasan perizinan pemerintah pusat dan daerah. Masih banyak perizinan di daerah yang ruwet, lama, membutuhkan biaya besar, dan penuh ketidakpastian.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN