Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas pembangunan infrastruktur jalur bawah tanah di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Joanito de Saojoao

Aktivitas pembangunan infrastruktur jalur bawah tanah di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Joanito de Saojoao

Canangkan Tahun Investasi

Kamis, 2 Mei 2019 | 07:56 WIB

Perusahaan dari berbagai sektor kini ancang-ancang ekspansi dan investasi besar-besaran pascapilpres April lalu, tak lagi wait and see. Penyaluran kredit perbankan juga dipastikan mengalir deras, apalagi menjelang momen penting Ramadan dan Idul Fitri Mei-Juni nanti.

Bergairahnya aktivitas ekonomi tahun ini juga diproyeksikan mendorong kinerja korporasi, termasuk para emiten di Bursa Efek Indonesia yang diprediksi membukukan pertumbuhan laba bersih double digit, disbanding tahun sebelumnya single digit. Hal ini mendorong rebound harga-harga saham dan mengalirnya kembali modal asing (capital inflow).

Gairah ekspansi dan investasi itu juga ditopang optimisme perekonomian nasional yang membaik. Selain pertumbuhan ekonomi diperkirakan naik dari 5,17% tahun lalu ke 5,3% tahun ini, tingkat inflasi diproyeksikan tetap rendah sekitar 3,5% dan nilai tukar rupiah stabil. Ekspor juga berpeluang menguat seiring membaiknya harga minyak dunia yang akan mendorong harga komoditas RI.

Rupiah tahun ini diperkirakan lebih stabil karena Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, diprediksi tidak menaikkan Fed Funds Rate (FFR), setelah tahun lalu suku bunga acuan itu dinaikkan empat kali ke 2,25-2,5%. Ini juga ditopang kembali menderasnya aliran masuk modal asing.

Prospek bagus ekonomi Indonesia ini juga diapresiasi Japan Credit Rating Agency (JCR), dengan menaikkan outlook peringkat utang RI dari stabil menjadi positif. Lembaga pemeringkat internasional ini sekaligus mengafirmasi peringkat utang RI pada BBB atau investment grade, dengan menegaskan peluang peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui keberlanjutan inisiatif reformasi.

Perbaikan outlook itu didukung, antara lain, keberhasilan pemerintah merumuskan rencana pembangunan infrastruktur dalam skala besar untuk mengatasi kurangnya infrastruktur yang menghambat pertumbuhan ekonomi, peningkatan anggaran infrastruktur, ser ta turunnya defisit anggaran dengan mengurangi subsidi konsumtif bahan bakar minyak (BBM).

Selain itu, peningkatan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Sektor perbankan di Tanah Air juga dinilai oleh JCR masih sehat, yang diindikasikan dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 23% akhir 2018. Pertumbuhan kredit yang kembali menguat juga diimbangi dengan kualitas kredit yang membaik, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) turun ke 2,4% akhir tahun lalu.

Meningkatnya kepercayaan investor global itu harus betul-betul serius dimanfaatkan Indonesia untuk mendorong ekspansi maupun investasi. Upaya ini tentu saja tidak bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah, sehingga perlu disinergikan pula dengan kebijakan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan yang mendukung.

Untuk itu, pemerintah perlu membuat strategi cerdas yang bisa menarik investasi besar-besaran tahun ini, baik lewat pemberian insentif fiskal maupun nonfiskal. Pemerintah juga perlu bekerja sama dengan kalangan swasta untuk memastikan dihilangkannya semua hambatan investasi.

Apalagi, peningkatan pertumbuhan investasi dan konsumsi dalam negeri lebih realistis kita andalkan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, mengingat peningkatan ekspor terganjal perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan perang dagang Amerika Serikat-RRT.

Jika kita belajar dari kesuksesan Tiongkok, investasi juga menjadi kunci pertumbuhan ekonomi negara berpenduduk 1,4 miliar atau terbesar di dunia itu. Investasi besar-besaran inilah yang membuat negara komunis tersebut pernah mencapai pertumbuhan ekonomi rata-rata dua digit selama satu decade dan kini ekspornya menguasai dunia, mengalahkan Amerika Serikat dan Jerman.

Saat ekonomi Tiongkok terperosok karena ikut terdampak krisis Asia pada 1997-1998, pemerintahnya tak segan menghabiskan banyak uang untuk membangun infrastruktur dan menggenjot industrialisasi. Selain giat membangun jalan tol untuk melancarkan kegiatan logistik dan distribusi, pembangunan pembangkit listrik digenjot untuk listrik murah yang mendukung produktivitas pabrik.

Tak hanya menyediakan listrik maupun gas murah, pemerintahan komunis itu juga memberikan berbagai insentif menarik bagi para pelaku usaha. Ini misalnya, menyediakan pasokan air yang murah, memberi potongan pajak yang besar untuk eksportir, hingga memberikan fasilitas fiskal pengembalian pajak mesin impor dan alat listrik untuk mendukung ekspor.

Pemerintah RRT juga memperbesar kemampuan pendanaan bank dengan memperbaiki pola tabungan masyarakat, agar bank mempunyai modal besar untuk dipinjamkan. Empat bank Tiongkok pun kini menduduki peringkat teratas di dunia, yakni Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) di peringkat pertama dengan aset US$ 4 triliun atau 4 kali total produk domestik bruto (PDB) Indonesia, China Construction Bank dengan aset US$ 3,4 triliun, Agricultural Bank of China dengan aset US$ 3,2 triliun, dan Bank of China dengan aset US$ 3 triliun.

Untuk itu, pemerintah RI perlu mencanangkan “Tahun Investasi 2019” yang secara khusus mendongkrak investasi, termasuk dengan meniru strategi sukses Tiongkok. Program ini secara khusus bisa memberikan insentif istimewa untuk memacu investasi industri pengolahan dalam negeri hingga industri jasa keuangan. Insentif itu misalnya, penyediaan pasokan listrik, gas, air, hingga internet murah yang bisa mendukung revolusi industri 4.0 di Tanah Air.

Selain itu, pemangkasan pajak untuk mendorong investasi dan ekspor, menjamin adanya kredit murah, serta kampanye massif cinta produk dalam negeri. Dengan demikian, investasi akan bergairah dan harga produk industry kita menjadi kompetitif. Barang-barang Indonesia pun tak hanya bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, namun juga berjaya di pasar ekspor.

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN