Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST

AS-Tiongkok. Foto ilustrasi: IST

Ciptakan Fair Trade

Selasa, 11 Juni 2019 | 08:54 WIB

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok sejak awal tahun lalu terus berkobar. Bahkan, perang dagang dua ekonomi terbesar dunia ini semakin bergeser ke perang teknologi. Sejauh ini belum ada perundingan perdagangan lanjutan antara AS dengan Tiongkok. Padahal, perundingan sudah dijadwalkan sejak 10 Mei 2019.

Babak baru ketegangan perang dagang antara AS dan Tiongkok dimulai lagi pada 1 Juni 2019 ketika Negeri Paman Sam menerapkan kenaikan tariff menjadi 25% terhadap barang-barang asal Tiongkok dengan total nilai US$ 200 miliar yang datang melalui jalur laut. Kenaikan tarif berlaku untuk beragam jenis barang serta komponen yang berasal dari Tiongkok termasuk modem dan router internet, furnitur, pembersih debu, hingga lampu.

Pada hari yang sama, Tiongkok membalasnya dengan memberlakukan tarif lebih tinggi terhadap barangbarang dari AS senilai US$ 60 miliar. Penerapan tarif itu diumumkan pada 13 Mei 2019 dan efektif berlaku di Beijing mulai Sabtu (1/6) dini hari. Sebanyak lebih dari 5.140 barang dari AS terkena tarif tambahan sebesar 20% atau 25%. Beijing sebelumnya menerapkan tariff sebesar 5% atau 10% terhadap barang dari AS.

Perang dagang juga semakin bergeser ke perang teknologi. Pemerintah AS menempatkan Huawei dalam daftar hitam yang membatasi perusahaan-perusahaan AS melakukan bisnis dengan raksasa teknologi Tiongkok itu pada awal bulan ini. Langkah itu disebut-sebut membuat Tiongkok mempertimbangkan untuk membatasi ekspor tanah jarang (rare earth), yang merupakan bahan penting dalam produksi barang-barang seperti iPhone dan kendaraan listrik, ke AS.

Trump.
Trump.

 

Bagi Donald Trump, peningkatan tarif bea masuk barang-barang dari Tiongkok menjadi cara untuk menekan defisit dagang negaranya selama bertahun-tahun. Trump berkepentingan untuk melindungi manufaktur AS yang disebutnya mengalami persaingan tidak adil. Trump yang menjuluki dirinya sebagai ‘The Tariff Man’ dalam kampanye sebagai presiden berjanji untuk mengurangi defisit dengan menutup impor yang dinilai tak adil (unfair) dan menegosiasikan ulang perjanjian perdagangan bebas.

Faktanya, perang dagang yang dilakukan Trump sejak awal 2018 mampu menekan defisit perdagangan barang AS dengan Tiongkok pada awal tahun ini. Pada Maret 2019, defisit neraca dagang AS dengan Tiongkok menyusut 16,2% menjadi US$ 20,74 miliar dan juga berkurang 12% dibanding Maret tahun sebelumnya. Defisit neraca dagang AS tersebut juga merupakan yang terendah dalam 72 bulan terakhir. Tahun lalu, defisit perdagangan barang AS dengan Tiongkok naik 11,6% ke level tertinggi sepanjang masa, yaitu US$ 419,2 miliar.

Selama bertahun-tahun, Tiongkok dianggap menerapkan kebijakan industry dan praktik dagang yang tidak adil (unfair trade), termasuk dumping, diskriminasi hambatan non-tarif, pemaksaan transfer teknologi, over capacity hingga pemberian subsidi industri yang membuat perusahaanperusahaan AS kalah bersaing dengan Tiongkok.

Sementara itu, kebijakan industri Tiongkok seperti “Made in China 2025” telah menciptakan kekhawatiran perusahaan-perusahaan di AS dan seluruh dunia. Tidak hanya dengan AS, Tiongkok juga menikmati surplus neraca dagang dengan banyak negara, termasuk Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca dagang nonmigas Indonesia-Tiongkok pada April 2019 sebesar US$ 7,1 miliar, meningkat 23,47% dibanding periode sama tahun lalu, yang tercatat sebesar US$ 5,75 miliar. Tahun lalu, neraca dagang Indonesia mencatatkan defisit hingga US$ 8,57 miliar. Faktor utama membengkaknya neraca dagang tahun lalu lantaran Indonesia mengalami deficit besar dengan Tiongkok.

Xi Jinping. Foto: IST
Xi Jinping. Foto: IST

 

Sebaga catatan, membengkaknya defisit dagang Indonesia dengan Tiongkok setelah pemberlakuan Asean- China Free Trade Area (ACFTA) pada 2010. ACFTA menjadi biang keladi banjirnya produk impor khususnya asal Tiongkok karena kurangnya pemahaman para pejabat Indonesia terhadap kesepakatan perdagangan bebas tersebut. Para menteri sebelumnya terlalu tergesa-gesa menandatangani perjanjian pasar bebas (FTA) tanpa melihat di sektor mana Indonesia kuat dan lemah.

Lemahnya daya saing Indonesia dalam menghadapi perjanjian perdagangan bebas ACFTA juga berisiko besar mempercepat deindustrialisasi. Hal ini diperparah lagi dengan tidak adanya desain industri yang komprehensif dan upaya maksimal untuk menekan biaya produksi. Minimnya pasokan energy dan tingkat suku bunga bank yang tinggi merupakan dua faktor utama yang menghambat daya saing industri dalam negeri. Belajar dari dampak ACFTA terhadap neraca dagang, saat ini kita lebih membutuhkan kerja sama perdagangan yang adil (fair trade), bukan sekadar ikut-ikutan menandatangani FTA. Kita bisa menjiplak strategi Amerika Serikat ketika menjalin FTA dengan Kanada dan Meksiko (NAFTA). Pemerintah AS ketika itu menerapkan strategi tidak membebaskan semua sector perekonomiannya dalam NAFTA. Hanya sektor-sektor yang diklaim sebagai keunggulan dan kekuatan AS. Sedangkan sektor yang dianggap belum dikuasai AS, dimintakan waktu transisi dan restrukturisasi sebelum berkompetisi.

Kita juga punya kelemahan dalam pola hubungan dagang. Defisit neraca dagang terjadi lantaran selama ini kita mengekspor bahan baku, seperti batu bara dan tembaga, serta produk pertanian ke Tiongkok dan mengimpor manufaktur yang di dalamnya meliputi barang berteknologi tinggi. Hal ini meningkatkan keuntungan bagi aktivitas ekonomi di Tiongkok.

Sebaliknya, bagi Indonesia yang mengekspor bahan mentah, hal itu tidak mampu menciptakan tambahan keuntungan dengan skala ekonomi yang signifikan. Belajar dari fakta tersebut, peningkatan nilai tambah produk-produk ekspor unggulan menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA