Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembangunan infrastruktur dengan skema Padat Karya Tunai (PKT) . Foto ilustrasi: PUPR

Pembangunan infrastruktur dengan skema Padat Karya Tunai (PKT) . Foto ilustrasi: PUPR

Dampak Positif PSN

Sabtu, 28 November 2020 | 13:05 WIB
Investor Daily

Ketersediaan infrastruktur menjadi prasyarat dasar, baik untuk pemenuhan kebutuhan hidup layak maupun untuk meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Indonesia masih perlu membangun infrastruktur untuk mengurangi disparitas dan secara bersamaan untuk memulihkan perekonomian nasional yang terpuruk karena pandemi Covid-19.

Pembangunan proyek infrastruktur sangat berperan penting bagi penciptaan lapangan kerja dan menyangga perekonomian agar tidak terpuruk lebih dalam.

Di masa pandemi saat ini, proyek-proyek infrastruktur yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dapat menjadi salah satu cara untuk terus menggerakkan roda ekonomi Indonesia yang telah masuk jurang resesi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 109/2020 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN). Sebanyak 201 Proyek dan 10 Program yang mencakup 23 sektor, dengan total nilai investasi sebesar Rp 4.809,7 triliun, telah ditetapkan sebagai Daftar PSN.

Penetapan proyek dan program berdasarkan evaluasi semua Usulan PSN, dengan memper timbangkan semua aspek dan menggunakan berbagai kriteria, baik kriteria dasar, kriteria strategis, maupun kriteria operasional. Proyek dan Program PSN tersebut memperoleh pembiayaan yang bersumber dari APBN/APBD, BUMN, dan/atau swasta. Adapun daftar 201 proyek yaitu proyek jalan sebanyak 54 proyek, bendungan (48), kawasan (18), kereta (15),

Energy (15) , pelabuhan (13), air bersih dan sanitasi (12), bandara (8), irigasi (9), pendidikan (1), teknologi (5), perumahan (2), tanggul pantai (1).

Sementara itu, daftar 10 program yaitu smelter, superhub, ketenagalistrikan, pemerataan ekonomi, akses exit tol, penyediaan pangan, kawasan strategis pariwisata, instalasi pengolah sampah, kawasan perbatasan, dan program percepatan pengembangan wilayah.

Daftar PSN tersebut juga mendapatkan kemudahan-kemudahan lebih lanjut yang diatur dalam Undang Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja serta peraturan-peraturan turunannya. Guna menanggulangi dampak pandemi Covid-19 yang melemahkan perekonomian nasional dan meningkatkan pengangguran, pembangunan PSN diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru. Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) mengestimasi penciptaan lapangan kerja langsung dari pekerjaan konstruksi sebanyak 878.000 ribu pada 2021 dan 938 ribu pada 2022.

Khusus tahun depan, pemerintah telah memutuskan akan melanjutkan percepatan PSN dengan target penyelesaian 38 proyek dengan nilai investasi Rp 464,6 triliun. Pemerintah harus fokus penciptaan lapangan pekerjaan. Sebab, data BPS menunjukkan bahwa total pengangguran mencapai 29 juta dengan rincian pengangguran karena terdampak Covid-19 mencapai 2,56 juta, pekerja yang mengalami pengurangan jam kerja berimbas pada penurunan pendapatan sebanyak 24 juta, dan 1,77 juta merupakan orang yang terlempar dari angkatan kerja dan masuk ke bukan angkatan kerja (BAK).

Pembangunan infrastruktur di Indonesia bersifat padat karya atau masih melibatkan banyak tenaga kerja dan mampu memutar aktivitas ekonomi industri-industri yang terkait infrastruktur. Pembukaan lapangan kerja akan memberikan multiplier ef fect (efek pengganda) terhadap sektor industri lainnya. Jika saja ada satu juta orang dipekerjakan di proyek infrastruktur, maka akan memiliki multiplier effect ke sektor perumahan, semen, dan manufaktur.

Dengan bekerja, masyarakat akan memiliki pendapatan tetap untukmemenuhi kebutuhan sekundernya. Mereka bisa mengangsur motor, mobil, rumah, sehingga mendorong industrikendaraan dan properti bangkit.

Selain ditabung, sisa gajinya juga bisa untuk piknik sehingga menggairahkan industri pariwisata. Peningkatan aktivitas bisnis ini akan mendorong kebutuhan kredit untuk mendanai ekspansi dunia usaha sehingga berdampak positif ke sektor perbankan nasional.

Pembangunan infrastruktur PSNjuga akan menarik investasi swasta, baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA). Pembangunan kawasan industri yang masuk dalam PSN misalnya, akan membutuhkan investasi tidak hanya untuk proyek kawasan industrinya, tapi juga akan menyerap investasi untuk infrastruktur pendukung kawasan industri seperti jalan akses, pelabuhan, kereta api, listrik hingga air bersih.

Secara jangka menengah dan jangka panjang, pembangunan kawasan industri akan memberi dampak positif kepada perekonomian dari aktivitas serta kegiatan operasional industri yang ada di dalam kawasan industri.

Dampak tersebut di antaranya peningkatan nilai ekspor dan peningkatan porsi industri pengolahan terhadap produk domestic bruto (PDB) nasional.

Lalu, penyerapan tenaga kerja oleh perusahaan yang beroperasi di kawasan industri maupun industri pendukungnya yang bersifat langsung dan tidak langsung.

Selain itu, ada juga dampak pada peningkatan aktivitas ekonomi wilayah sekitar akibat berkumpulnya industri atau kegiatan dalam suatu tempat tertentu (aglomerasi). Hal ini akan berdampak pada pendapatan masyarakat setempat maupun ekonomi regional.

Merujuk pada sebuah studi kasus di Shenzen, Tiongkok, di mana sebuah per desaan yang pada tahun 1980 berpenduduk 330.000 jiwa mengalami lonjakan populasi sebayak 36 kali lipat pada 2019, pendapatan perkapita naik 37 kali lipat, produk domestik regional bruto (PDRB) naik 10.000 kali, dan pendapatan pajaknya meningkat 31.000 kali.

Pembangunan infrastuktur terbukti berdampak luas. Dalam jangka pendek, proyek infrastruktur menyerap tenaga kerja dan menarik investasi dalam jumlah besar, sedangkan dalam jangka menengah dan panjang mampu meningkatkan perekonomian daerah dan nasional. Karena itu, pembangunan proyek infrastruktur harus terus dilanjutkan untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan daya saing Indonesia.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN