Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang memantau jalannya pergerakan saham di sebuah sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pialang memantau jalannya pergerakan saham di sebuah sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Dana Asing Kerek Indeks ke Level 7.000 Akhir 2021

Senin, 11 Januari 2021 | 22:00 WIB
Investor Daily

Dana asing sudah mulai masuk dan akan mengalir lebih deras lagi ke pasar modal Indonesia, paling tidak hingga akhir 2021. Berbagai paket stimulus ekonomi, terutama yang diberikan AS, akan mendorong dana investasi mengalir deras ke negara pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam pekan pertama Januari 2021, transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tingginya sentimen positif para pemodal dan besarnya peran investor asing. Indeks harga saham gabungan (IHSG) selama sepekan naik 4,6% ke level 6.2576.257. Saham-saham yang tergabung dalam LQ-45 naik lebih tinggi dari IHSG, yakni 4,7%. Nilai kapitalisasi saham PT BCA Tbk, misalnya, menembus rekor baru: Rp 860,3 triliun!

Posisi IHSG pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (8/1/2021), hampir me nyamai perdagangan saham sebelum pandemi Covid-19, yakni 6.257. Pada perdagangan saham di BEI 23 Desember 2019, indeks ditutup di level 6.299. Kalangan analis memperkirakan, IHSG tahun ini bisa menembus level 7.000, minimal 6.800. Ada sejumlah faktor yang mendongkrak lonjakan indeks.

Pertama, masuknya dana investasi asing yang mengincar berbagai instrumen investasi portofolio di Indonesia, khususnya saham dan obligasi. Stimulus ekonomi yang diberikan berbagai negara, terutama AS, memberikan dampak positif bagi pasar modal Indonesia. Stimulus fiskal dan moneter seperti tahun 2008-2014 akan terulang lagi, bahkan dalam jumlah yang lebih besar.

Lonjakan harga komoditas dan saham selama tujuh tahun, 2008-2014, merupakan dampak tidak langsung dari kebijakan The Federal Reser ve (Fed). Selama periode itu, Bank Sentral AS memberikan stimulus moneter hingga US$ 4,5 triliun untuk menggerakkan ekonomi Paman Sam yang terpukul krisis finansial akibat krisis subprime mortgage. Likuiditas yang dipompakan The Fed ke perekonomian AS itulah yang disebut quantitative easing (QE).

Bersamaan dengan QE, IHSG yang pada awal Januari 2008 berada di level 2.739 terus bergerak naik hingga di atas 5.000 pada Oktober 2014, saat QE berakhir dan The Fed mulai berancang-ancang menaikkan suku bunga acuan, fed fund rate, yang sudah di level 0,00% hingga 0,25%.

Sejak saat itu, kenaikan indeks tidak lagi sekencang periode tujuh tahun sebelumnya. Sejak awal 2020, AS sudah memberikan stimulus ekonomi untuk mendongkrak ekonomi yang terpukul pandemi. Angka pengangguran dan kemiskinan yang cukup besar membutuhkan dana stimulus pemerintah.

Tahun ini, angka stimulus akan naik tajam. Presiden Terpilih Joe Biden berencana memberikan stimulus fiskal hingga di atas US$ 4 triliun, naik dari angka US$ 900 miliar yang ditetapkan Presiden Donald Trump. Dengan dana stimulus sebesar ini, pemerin tah AS tidak saja menambah bantuan sosial kepada rakyat yang kehilangan dana beli, melainkan juga membantu perusahaan yang kesulitan likuditas.

Kebijakan yang sama juga dilakukan di Indonesia lewat bantuan dana untuk merestrukturisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) dan korporasi. Dana stimulus akan lebih besar lagi karena The Fed akan terus melakukan QE. Jika pada krisis subprime mortgage yang memicu krisis finansial global, The Fed memberikan QE hingga US$ 4,5 triliun, pandemic Covid-19 akan mendorong AS memberikan QE lebih besar lagi.

Berbeda dengan Bank Indonesia (BI) yang hanya bertugas menjaga kurs rupiah dan inflasi, The Fed diberikan tugas lebih luas, termasuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan bagi rakyat AS. Bukan ini saja yang mendorong capital inflow ke Indonesia. Presiden Joe Biden diperkirakan bakal menaikkan pajak penghasilan (PPh) korporasi yang sudah diturunkan secara drastis oleh Donald Trump.

Jika PPh kembali dinaikkan, return dari investasi di pasar modal AS diperkirakan tidak lagi menarik. Dalam pekan pertama Januari 2021, net buying asing di BEI sebesar Rp 2,7 triliun. Para pelaku pasar memperkirakan, net buying asing tahun ini akan menembus Rp 50 triliun setelah pada tahun 2020 terjadi net selling Rp 47,8 triliun.

Selama periode QE, 2008-2014, hanya sekali terjadi net selling, yakni pada tahun 2013 karena pasar khawatir akan dampak kebijakan ekonomi AS bagi Indonesia.

Kedua, para pelaku bisnis yakin akan penanganan Covid-19 yang dijalankan pe merintah. Meski saat ini masih terjadi lonjakan angka positif baru, bahkan terus mengukir rekor baru, pandemi dapat diatasi setelah vaksin ditemukan dan pemerintah sudah menentukan jadwal vaksinasi gratis 70% warga Indonesia. Vaksinasi di berbagai negara juga meyakinkan para pelaku bisnis.

Ketiga, kebijakan pemerintah di bidang ekonomi dinilai cukup efektif mengangkat daya beli rakyat. Pemerintah tetap memberikan dana stimulus untuk mengatasi kesehatan dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Dana stimulus dan dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) tahun 2021 dialokasikan sebesar Rp 403,9 triliun, lebih rendah dari dana stimulus 2020 sebesar Rp 695,20 triliun.

Pemerintah menegaskan, dana stimulus akan ditambah sesuai kebutuhan. Bila daya beli masyarakat tetap rendah dan dunia usaha belum bisa bangkit akibat Covid-19, pemerintah akan menambah dana stimulus.

BI sudah menyatakan posisinya untuk terus mendukung pemerintah. Tahun ini, BI akan terus melakukan QE dan berada di pasar perdana untuk membeli surat berharga negara (SBN) sebagai non-competitive bidder. Pada tahun 2020, hingga 15 Desember, BI mela kukan QE hingga Rp 694,87 triliun, terbesar sepanjang sejarah BI.

Keempat, stabilitas ekonomi makro cukup  efektif mendorong laju pertumbuhan ekonomi hingga 5,8% jika pandemi dapat dikendalikan. Sedang bila penanganan Covid-19 tidak berjalan mulus, ekonomi hanya bertumbuh sekitar 3-4%. Laju inflasi selama 2020 hanya 1,68% meski di tahun yang sama ada QE hingga Rp 694,87 triliun.

Dalam pada itu, kurs rupiah terhadap dolar AS sudah di bawah Rp 14.000. Tahun ini, inflasi diperkirakan masih rendah akibat daya beli masyarakat, dan rupiah bakal me nguat akibat capital inflow investasi portofolio.

Kelima, Indonesia sudah memasuki rezim bunga murah. Suku bunga acuan BI sudah berada di level 3,75%, terendah sepanjang sejarah. Bunga deposito bank kini berkisar 4-5% karena Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menurunkan bunga penjaminan ke level 5% untuk deposito rupiah dan 1,25% untuk deposito valas.

Kondisi ini akan mendorong pemilik dana masuk pasar modal. Lima faktor ini akan mendongkrak IHSG hingga menembus level psikologis baru, 7.000, atau minimal 6.800. Saham sektor telekomunikasi, perbankan, infrastruktur, konstruksi, properti, pertambangan yang memproduksi nikel, pertanian, farmasi dan alat kesehatan, serta consumer goods akan diburu investor.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN