Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Dana Murah Pasar Modal

Selasa, 26 September 2017 | 09:09 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Pasar saham kita saat ini memang masih didera aksi jual oleh asing. Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/9), ketika indeks melemah 17 poin ke posisi 5.894,6, asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 154,2 miliar. Dengan kondisi ini, asing telah membukukan net sell sebesar Rp 8,4 triliun sejak awal tahun (year to date). Tapi, indeks masih mencatat gain sebesar 11,29% sejak awal tahun.

 

Meski asing melakukan aksi jual, mereka tidak benar-benar keluar dari Indonesia. Sebagian besar dana mereka alihkan ke surat berharga negara (SBN) yang saat ini menjanjikan imbal hasil lebih menarik. Bukti bahwa asing tidak pergi dari Indonesia tercermin pada nilai tukar rupiah yang masih stabil sejak gelombang net sell terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

 

Kalangan analis dalam dan luar negeri pun tetap beranggapan bahwa pasar saham di Indonesia masih sangat atraktif. Valuasi saham juga relatif murah, sehingga potensi gain-nya masih relatif tinggi. Itu sebabnya, pelaku pasar tidak terpengaruh dengan fenomena keluarnya asing dari bursa.

 

Selain menarik di mata investor, pasar saham juga masih menarik di mata korporasi yang hendak memobilisasi dana. Terbukti, minat untuk menggelar penawaran umum perdana (initial public of fering/ IPO) saham masih tinggi. Sejak awal tahun, ada 22 perusahaan yang telah melaksanakan IPO di BEI sejak Januari.

 

Selain itu, ada 10 calon emiten yang dalam proses (pipeline). Dengan demikian, target 35 emiten yang IPO di BEI tahun ini kemungkinan besar tercapai. Bukan hanya IPO, animo korporasi untuk menerbitkan obligasi pun semakin besar. Sejauh ini, emitenemiten telah menerbitkan oligasi senilai Rp 65 triliun lebih. Hingga akhir tahun, diprediksi emisi obligasi korporasi menembus Rp 120 triliun.

 

Yang tak kalah menarik, saat ini variasi instrumen keuangan di pasar modal lebih beragam. Baru-baru ini, dua badan usaha milik Negara (BUMN) menerbitkan produk kontrak investasi kolektif efek beragun aset (KIK-EBA). Jasa Marga menerbitkan KIK-EBA senilai Rp 2 triliun. Ini merupakan surat berharga berbasis future cash flow sejumlah ruas tol yang dimiliki Jasa Marga. Langkah ini diikuti oleh PT Indonesia Power, anak usaha PLN, yang menerbitkan KIK-EBA senilai 4 triliun.

 

Investor pun sangat antusias menyambut produk baru tersebut. Dua-duanya kelebihan permintaan (oversubscribed) hampir tiga kali lipat. Hal ini menunjukkan bahwa investor di pasar modal masih haus akan produk-produk instrument keuangan yang atraktif. Apalagi produk baru ini menawarkan kupon menarik.

 

KIK-EBA yang merupakan bentuk sekuritisasi aset tersebut menunjukkan bahwa produk ini cukup efektif bagi perusahaan untuk pengembangan usaha. KIK-EBA Jasa Marga dan Indonesia Power juga merupakan wujud dukungan pasar modal terhadap pembangunan infrastruktur di Indonesia yang membutuhkan biaya sangat besar.

 

Lebih dari itu, KIK-EBA juga dapat menjaring investor asing masuk ke pasar modal. Kita berharap banyak BUMN lain yang mengikuti jejak kedua BUMN tersebut untuk melakukan sekuritisasi aset. Bahkan, peluang ini juga terbuka lebar untuk perusahaan swasta.

 

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa pasar modal menjadi sarana mobilisasi dana murah yang menarik, baik lewat IPO, emisi obligasi, sekuritisasi aset, dan bentuk instrumen keuangan lainnya. Akan lebih bagus lagi jika otoritas pasar modal dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong penerbitan instrumen baru sehingga pendalaman pasar keuangan (financial deepening) yang dicita-citakan dapat terwujud.

 

Apalagi saat ini suasana sangat kondusif bagi pasar modal. Hal itu terkait dengan penurunan suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate ke level 4,25% pekan lalu. Penurunan suku bunga lazimnya selalu diikuti dengan kenaikan harga saham. Rendahnya suku bunga juga mendorong penurunan imbal hasil SBN.

 

Selain itu, pemangkasan suku bunga acuan akan mendorong pemangkasan suku bunga kredit sehingga memicu ekspansi kredit dan dunia usaha. Itulah sebabnya, kita tidak perlu risau dengan aksi jual asing di pasar saham. Asing hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke bursa. Mereka kini sedang mendiversifikasi investasi ke produk portofolio yang lebih menjanjikan.

 

Dalam konteks itu, diversifikasi produk atau instrumen pasar modal perlu semakin didorong untuk menarik investor, baik domestik maupun asing. Bagi korporasi, pasar modal terbukti menjadi tempat yang menarik untuk menjaring dana murah bagi keperluan ekspansi usaha.

 

Kita berharap pasar modal mampu menjaring dana sedikitnya Rp 170 triliun tahun ini, atau 24% dari total pembiayaan sektor keuangan yang diprediksi mencapai Rp 717 triliun. (*)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN