Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lanskap startup Asean

Lanskap startup Asean

Demam IPO Big-tech

Senin, 19 Juli 2021 | 13:17 WIB
Investor Daily

Pandemi Cavid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir meski terjadi sedikit penurunan dalam tiga hari terakhir. Ekonomi kembali slow down setelah sempat menggeliat pada semester pertama 2021. Tapi, di pasar modal, tetap ada kegairahan. Para investor milenial dilanda demam initial public offering (IPO) atau penawaran umum saham big-tech. IPO saham PT Bukalapak Tbk sedang berjalan.

Perusahaan Go-To yang lebih berencana masuk pasar modal sepertinya disalip oleh Bukalapak yang akan menawarkan 25,7 miliar lembar sahamnya di harga Rp 750- 850 pada 28-30 Juli 2021.

Kendati demikian, Go-To, perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia tetap melakukan penawaran umum tahun ini. Selain Bukalapak, ada tiga big-tech lain yang siap masuk bursa tahun ini, yakni Go-To, Traveloka, dan J&T Express. Yang disebut big-tech adalah perusahaan besar yang bergerak di bidang informations and communication technology (ICT) atau teknologi informasi dan komunikasi.

Perusahaan dengan basis ICT ini tidak saja bergerak di bidang e-commerce, tapi juga di bidang aplikasi transportasi, pemesanan berbagai jenis tiket, financial technology, peer to peer lending, payment system, dan pelayanan kesehatan. Bukalapak adalah salah satu e-commerce dengan market place terbesar di Indonesia. Go-To adalah kombinasi perusahaan yang bergerak di bidang aplikasi transportasi (Gojek) dan e-commerce (Tokopedia). Sedang perusahaan big-tech yang bergerak di sistem pembayaran di antaranya OVO.

Berawal dari startup, perusahaan rintisan ini kemudian menjadi big-tech, perusahaan besar yang tergolong unicorn dan decacorn. Unicorn dimaknai sebagai perusahaan teknologi dengan valuasi di atas US$ 1 miliar atau Rp 14,5 triliun pada kurs Rp 14.500 per dolar AS.

Di antara sejumlah unicorn itu, ada yang sudah menjadi decacorn, yakni perusahaan teknologi dengan valuasi di atas US$ 10 miliar atau Rp 143 triliun. Valuasi Gojek dan Tokopedia, ma singmasing, diperkirakan sudah di atas US$ 15 miliar.

Kini, setelah merger, valuasi de cacorn ini menembus US$ 40 miliar atau Rp 580 triliun. Kita belum tahu, berapa nilai market cap atau kapitalisasi pasar saham-saham big-tech kelak. Yang saat ini terlihat adalah nilai IPO Bukalapak yang ditergetkan mencapai Rp 21,9 triliun.

Saat listing di Bur sa Efek Indonesia (BEI), semua saham ikut dicatatkan, sehingga ada kemung kinan market cap meningkat. Apalagi harga saham terangkat. Namun, bisa juga market cap menurun seiring dengan penurunan harga saham.

Rencana IPO big-tech telah memicu harapan baru di pasar modal. Pertama, selama ini, dana asing masuk ke Indonesia langsung ke perusahaan rintisan. Dana disuntikkan ke startup oleh perusahaan asing hingga perusahaan rintisan itu menjadi big-tech, unicorn dan decacorn. Para investor pasar modal mengharapkan agar asing yang menyuntikkan dana ke startup itu kini beralih ke pasar modal dengan ikut membeli saham-saham big-tech, baik pada saat IPO maupun di pasar sekunder.

Kedua, dana asing yang mencari lahan investasi di dunia sangat banyak. Paling tidak, ada US$ 40 miliar dana asing yang siap masuk ke pasar modal Indonesia. Jika dana ini bisa masuk ke pasar modal Indonesia, market cap di BEI yang baru sekitar Rp 7.000 triliun lebih akan menggelembung menembus Rp 8.000 triliun hingga akhir tahun. Agar dana asing ini masuk ke pasar modal Indonesia, big-tech Indonesia tidak boleh hanya listing di bursa di luar negeri, di AS atau Singapura. Kalau pun listing di luar energi, kita mengharapkan dual listing.

Ketiga, IPO tiga big-tech tahun ini dan bakal puluhan hingga ratusan pada tahuntahun akan datang meningkatkan daya tarik pasar saham Indonesia, baik daya tarik bagi pemodal asing maupun para investor lokal, khususnya para milenial. Jumlah investor di BEI per Juni 2021 sudah mencapai 5,6 juta, naik 56,5% dari 2,5 juta akhir Desember 2019.

Sekitar 99% adalah investor ritel dan dari jumlah itu mayoritas adalah milenial, mereka yang berusia 24-36 tahun. Keempat, masuknya big-tech akan menambah alternatif investasi di BEI. Para investor kini bisa melihat peluang untuk meraih capital gain dari perusahaan teknologi.

Selama ini, meski bukan big-tech, sudah ada perusahaan teknologi yang listing di BEI. Manajemen BEI pun sudah melakukan klasifikasi khusus buat perusahaan teknologi.

Ada IDX Technology, yakni klasifikasi khusus dari IDX Industrial Classification (IDX-IC). Pada semester pertama 2021, IDX Technology menguat 860,9%. Listing tiga big-tech tahun ini, di luar Bukalapak, diperkirakan bakal menaikkan market cap hingga di atas Rp 300 triliun.

Kelima, dengan masuknya big-tech di BEI, komposisi top ten berdasarkan market cap kemungkinan besar akan berubah. Hingga 16 Juli 2021, Bank Central Asia (BBCA) memimpin market cap di BEI dengan nilai Rp 745,7 triliun, disusul Bank BRI (BBRI) di urutan kedua sebesar Rp 468,9 triliun, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) Rop 314 triliun, Bank Mandiri (BMRI) Rp 271,4 triliun, Bank Jago (ARTO) Rp 218,1 triliun, Astra International (ASII) Rp 197,6 triliun, Unilever (UNVR) Rp 196,5 triliun, Chandra Asri (TPIA) Rp 170,8 triliun, Elang Mahkota (EMTK) Rp 153,6 triliun, dan DCI Indonesia (DCII) sebesar Rp 140,6 triliun.

Peringkat top ten emiten di BEI berdasarkan market cap bakal berubah, terutama posisi sepuluh hingga kedua. Bisa saja big-tech akan segera merangsek masuk ke peringkat ke-9 hingga peringkat kedua dalam waktu dekat. Komposisi top ten di BEI akan seperti di New York Stock Exchange (NYSE) di mana peringkat satu hingga kesembilan adalah big-tech.

Hanya satu perusahaan investasi, yakni Berkshire Hathaway, yang berada di peringkat kesepuluh. Apa pun kehebatan suatu emiten, pemodal perlu mengetahui model bisnis dari perusahaan tersebut. Investor tidak boleh membeli saham karena euforia semata-mata. Pertanyaan penting terhadap Bukalapak dan bigtech lainnya adalah bagaimana pendapatan dan kapan meraih laba. Bagaimana melakukan valuasi, sehingga ada harga perdana yang cukup mahal.

Selain prospek dan risiko bisnis, pada perusahaan konvensional, yang dilihat adalah kemampuan membukukan pendapatan dan laba bersih. Dari angka finansial ini muncul price earning ratio (PER), yakni harga saham terhadap laba bersih per saham atau earning per share (EPS). Jika EPS Rp 100 dan harga saham Rp 1.000, itu berarti PER 10 kali atau harga 10 kali EPS. Tapi, ba gaimana dengan big-tech yang belum meraih laba?

Pada big-tech, yang dilihat adalah prospek usaha, jumlah nasabah, dan dominasi atau market share perusahaan big-tech itu. Jika jumlah nasabah besar dan dominan, perusahaan big-tech itu punya prospek. Perusahaan big-tech umumnya akrab dengan para milenial. Mereka umumnya adalah nasabah big-tech yang fanatik. Kaum milenial diperkirakan akan fanatik pula dalam memiliki saham-saham big-tech.

Dengan demikian, laba tinggal menunggu waktu. Kondisi ini sudah dialami big-tech di AS dan negara-negara lain. Membeli saham adalah membeli prospek.

Apa pun penjelasan yang muluk-muluk tentang big-tech, sejumlah hal yang pasti adalah transparansi, kejujuran, akuntabili tas, dan tanggung jawab. Perusahaan big-tech harus transparan dan jujur menjelaskan tentang prospek, jumlah nasabah, dan market share. Semua peraturan harus dipatuhi. Pemegang saham pendiri dan manajemen harus bekerja dengan penuh tanggung jawab.

Jika Bukalapak dan sejumlah big-tech yang go public tahun ini tidak menunjukkan tata kelola yang baik dan kemudian harga sahamnya tergerus, masa depan perusahaan teknologi untuk IPO akan suram dan bursa saham akan dijauhi oleh para pemodal milenial.Meski dilanda demam saham big-tech, pemodal milenial diingatkan untuk tidak kehilangan daya kritis.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN