Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tiga perusahaan big tech  (decacorn dan unicorn) yang berencana IPO tahun ini nilai asetnya mencapai US$ 21,5 miliar atau Rp 311,7 triliun.

Tiga perusahaan big tech (decacorn dan unicorn) yang berencana IPO tahun ini nilai asetnya mencapai US$ 21,5 miliar atau Rp 311,7 triliun.

Demam Saham Big Tech

Jumat, 16 Juli 2021 | 09:29 WIB
Investor Daily

Animo investor, baik investor institusi maupun ritel, sangat tinggi untuk memiliki saham perusahaan rintisan berbasis teknologi digital dengan kapitalisasi besar atau big tech.

Sebagian dari investor tersebut adalah kaum milenial. Mereka sudah akrab dengan teknologi digital dan ingin menjadi bagian dari sejarah pertama kali perusahaan big tech masuk Bursa Efek Indonesia (BEI).

Big tech pertama yang akan masuk bursa efek adalah Bukalapak.com, melalui penawaran umum perdana atau initial public of fering (IPO) saham. Perusahaan rintisan teknologi berjuluk unicorn ini akan melantai di bursa pada 6 Agustus mendatang, setelah menyelesaikan masa penawaran awal (bookbuilding) dan roadshow pada 9-19 Juli 2021, pernyataan efektif dari OJK pada 26 Juli 2021, dan masa penawaran umum pada 28-30 Juli 2021.

Seperti disebutkan dalam prospektusnya, Bukalapak menawarkan maksimum 25.765.504.851 unit saham biasa atas nama yang seluruhnya adalah saham baru dan dikeluarkan dari portepel perseroan, dengan nilai nominal Rp 50 setiap saham. Saham baru tersebut mewakili sebanyak-banyaknya sebesar 25% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah IPO.

Sedangkan harga saham Bukalapak yang ditawarkan kepada publik di ki saran Rp 750-850 per unit yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS).

Dengan demikian, emi ten yang berusia 10 tahun dan berkode saham BUKA ini akan meraup total dana IPO maksimal Rp 21,9 triliun.

Dengan nilai IPO sebesar itu, Bu ka lapak akan menjadi emiten big tech di BEI dan sekaligus yang terbesar sepanjang sejarah. Rekor tertinggi sebelumnya dipegang PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang meraih dana IPO senilai Rp 12,25 triliun pada 2008.

Selain nilainya terbesar, juga menjadi yang pertama dari kalangan unicorn --perusahaan rintisan dengan valuasi di atas US$ 1 miliar—lokal yang listing di BEI.

Gelombang pertama IPO saham perusahaan big tech ini akan menjadi tonggak sejarah atau milestone bagi perkembangan pasar modal Indonesia. Pendanaan dan investasi perusahaan big tech lokal tak lagi hanya bersumber dari para perusahaan investasi besar. Tapi kini bisa dari partisipasi masyarakat luas melalui pasar modal. IPO emiten big tech juga penting bagi masyarakat Indonesia karena akan memberi kesempatan untuk berinvestasi dan menikmati value creation di sektor informasi, komunikasi, dan teknologi (ICT).

Revisi sejumlah aturan oleh otoritas untuk memberi kemudahan bagi big tech menggalang dana di pasar modal akan menjadi daya tarik bagi big tech lainnya. Kemudahan akses pendanaan kepada dari pasar modal melalui IPO diharapkan akan mendorong munculnya pengusaha startup generasi baru. Kesuksesan IPO perusahaan big tech akan meningkatkan daya tarik di mata investor asing untuk masuk pasar modal Indonesia.

Di sisi lain, tingginya minat masyarakat terhadap saham big tech akan menjadi daya tarik bagi big tech lainnya untuk mencari pendanaan di pasar modal. Indonesia menjadi negara terbaik bagi investor yang mengincar saham big tech. Sebab, Indonesia menyumbang sekitar 38% perusahaan unicorn di kawasan Asean.

Ada beberapa faktor yang mendorong masyarakat, khususnya kaum milenial, ingin memiliki saham perusahaan rintisan berbasis teknologi digital. Per tama, perusahaan-perusahaan rintisan semakin menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik yang bergerak di bisnis e-commerce, pendidikan maupun kesehatan.

Pemicunya adalah kondisi pandemi Covid-19 yang membuat masyarakat tidak leluasa bergerak sehingga memilih menggunakan jasa perusahaan berbasis teknologi digital untuk memenuhi kebutuhannya.

Kedua, kepemilikan telepon pintar atau smar tphone yang terus meningkat serta percepatan adopsi pro duk digital secara nasional akibat Covid-19, membuat jasa yang ditawarkan perusahaan rintisan teknologi semakin mudah diterima masyarakat.

Ketiga, peningkatan pengguna digital dan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta menjadi pasar yang potensial bagi perusahaan-perusahaan rintisan untuk membesarkan bisnis mereka.

Di samping itu, Indonesia memiliki potensi pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan pertumbuhannya cepat. Di tengah pandemi, investasi digital di Indonesia pun meningkat lebih dari dua kali lipat.

Pada 2020 nilai rata-rata per investasi mencapai US$ 58,3 juta, atau melonjak tajam dari tahun 2019 yang hanya US$ 18 juta. Tak heran bila dikatakan bahwa Indonesia adalah pasar ekonomi digital paling menarik di Asia, bahkan skala dunia. Ekonomi digital di Indonesia diprediksi tumbuh 3-5 kali lipat dalam lima tahun ke depan. Hal ini membawa keuntungan yang luar biasa dalam penciptaan valuasi perusahaan teknologi digital.

Kehadiran big tech di pasar modal domestik diharapkan terus bertambah. Dengan semakin banyaknya big tech di pasar modal maka akan meningkatkan likuiditas bagi ekonomi Indonesia.

Masuknya big tech ke pasar modal akan mendorong investor asing yang selama ini berinvestasi di banyak perusahaan teknologi Asia Tenggara akan mengalihkannya ke Indonesia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN