Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi: Suku bunga acuan BI (BI 7 Day Reverse Repo Rate).: Investor Daily

Foto ilustrasi: Suku bunga acuan BI (BI 7 Day Reverse Repo Rate).: Investor Daily

Dilema Suku Bunga

Kamis, 26 Mei 2022 | 09:00 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR), di level 3,5% yang merupakan level terendah sepanjang sejarah. Dengan demikian, sudah 16 bulan berturut-turut BI mematok BI7DRR di posisi tersebut. Selain mempertahankan BI7DRR, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (24/5), memutuskan untuk menahan suku bunga Deposit Facility dan suku bunga Lending Facility masing-masing di level 2,75% dan 4,25%.

Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan diapresiasi pasar. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin menguat 73,36 poin (1,07%) ke level 6.914,14. Penguatan IHSG terjadi saat pasar saham Asia berguguran akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi, laju inflasi yang tinggi, dan penaikan suku bunga. Di pasar saham Asia, hanya bursa saham Indonesia dan Singapura yang menguat.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga menguat. Di pasar spot antarbank Jakarta, mata uang Garuda terapresiasi 11 poin ke posisi Rp 14.661. Sedangkan berdasarkan kurs Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah menguat dari Rp 14.665 menjadi Rp14.653 per dolar AS. Penguatan rupiah memang terjadi saat dolar AS tertekan, terutama setelah European Central Bank (ECB) mengumumkan rencananya menaikkan suku bunga deposit pada akhir September 2022 dari posisi negatif 0,5% saat ini. Namun, penguatan mata uang NKRI kemarin tetap mengindikasikan respons positif pelaku pasar.

Secara matematis, BI sejatinya punya alasan untuk menaikkan BI7DRR, terutama jika mengacu pada laju inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, dan aliran keluar modal asing (capital outflow). Sejak awal tahun hingga pertengahan Mei, kepemilikan investor asing di Surat Berharga Negara (SBN) tergerus Rp 80,39 triliun. Di pasar saham, asing juga mulai menarik dananya. Sempat mencapai Rp 72 triliun, pembelian bersih (net buy) saham oleh investor asing selama tahun berjalan (year to date/ytd) kini susut menjadi Rp 63,01 triliun.

Inflasi pun terus merangkak naik. April lalu, inflasi tahunan (year on year/yoy) sudah mencapai 3,47%. Bahkan, inflasi inti tembus 2,60% (yoy), rekor tertinggi sejak Mei 2020. BI menargetkan inflasi 2022 mencapai 3% plus-minus 1%. Berkaca pada inflasi April, besar kemungkinan inflasi pada pengujung tahun meleset dari target. Terlebih dunia sedang dihantui inflasi. Perang Rusia dan Ukraina, terputusnya rantai pasok global akibat pandemi Covid-19, serta mulai pulihnya perekonomian negara-negara maju telah mendorong lonjakan harga pangan dan energi di seantero dunia.

Bagaimana dengan nilai tukar rupiah? Rupiah, kendati kemarin menguat, sesungguhnya dalam tren melemah. Perkasa pada awal tahun di level Rp 14.270, kini rupiah bertengger di posisi Rp 14.653 per dolar AS. BI sejak bulan lalu gencar melakukan intervensi di pasar demi menyelamatkan rupiah. Itu sebabnya, cadangan devisa terpangkas dari US$ 139,12 miliar pada akhir Maret, menjadi US$ 135,65 miliar pada akhir April.

Syukurlah BI tidak terburu-buru menaikkan suku bunga acuan kendati bank sentral berbagai negara, terutama Bank Sentral AS, The Fed, sudah secara agresif menaikkan suku bunga. The Fed tahun ini sudah dua kali menaikkan Fed funds rate (FFR) menjadi 0,75-1%. BI memperkirakan The Fed bakal menaikkan suku bunga ke level 2,75% pada akhir 2022 guna meredam inflasi yang menjulang tinggi. Pada Maret dan April lalu, inflasi di negeri Paman Sam masing-masing mencapai 8,5% dan 8,3% (yoy), level tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Alih-alih menaikkan suku bunga acuan, BI memilih bauran kebijakan demi menyetabilkan ekonomi. Sejumlah langkah disiapkan Bank Sentral untuk menjaga rupiah dan mengendalikan inflasi, salah satunya kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM). Kewajiban minimum GWM rupiah untuk bank umum konvensional akan dinaikkan dari 5% menjadi 6% mulai 1 Juni 2022, selanjutnya naik kembali menjadi 7,5% mulai 1 Juli 2022 dan 9% sejak 1 September 2022.

Kebijakan serupa ditempuh BI untuk bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS). Kewajiban minimum GWM rupiah untuk BUS dan UUS yang saat ini 4% bakal dinaikkan menjadi 4,5% sejak 1 Juni 2022, kemudian dinaikkan lagi menjadi 6% mulai 1 Juli 2022 dan 7,5% mulai 1 September 2022. Dalam kalkulasi BI, tambahan kewajiban minimum GWM akan mengurangi likuiditas di perbankan sekitar Rp 110 triliun.

Meski berkurang, likuiditas perbankan akan tetap dijaga di level yang aman. BI bakal mengawal rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) di kisaran 28% pada akhir tahun ini, jauh di atas rasio sebelum Covid sekitar 21%. Dengan kata lain, penaikan GWM tidak akan memengaruhi kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit kepada dunia usaha dan membeli SBN untuk pembiayaan APBN.

Langkah yang ditempuh BI bukan tanpa risiko. Jika capital outflow semakin deras, kemudian inflasi dan rupiah jebol, Bank Sentral mau tidak mau harus mengerek tinggi-tinggi BI7DRR. Saat negara-negara lain, terutama negara maju --khususnya AS-- menaikkan suku bunga, BI harus cermat-cermat berhitung jika terus mempertahankan BI7DRR. Salah satu implikasi kebijakan itu adalah terus keluarnya dana asing, yang diikuti pelemahan rupiah. Biaya SBN menjadi mahal karena imbal hasil (yield) naik. Beban APBN semakin berat.

Depresiasi rupiah bisa menjadi efek domino. Inflasi akan melaju kian kencang karena terdorong inflasi barang impor (imported inflation). Daya saing produk di dalam negeri yang mengandalkan bahan baku impor dan penjualan ke pasar domestik bakal menurun. Daya beli masyarakat melemah. Pertumbuhan ekonomi melambat. Angka kemiskinan membengkak. Pemulihan ekonomi yang sedang diupayakan dengan susah payah, bisa berantakan.

Namun, kita percaya, BI telah memperhitungkan setiap detail risiko mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Walau bagaimana pun, mempertahankan atau menaikkan suku bunga sama-sama dilematis. Menaikkan suku bunga, tatkala ekonomi sedang tertatih tatih bangkit, tak kalah berbahaya. Dalam kondisi daya beli masyarakat yang masih terpuruk dan dunia usaha yang masih labil, penaikan suku bunga dapat membenamkan kembali perekonomian. Target pertumbuhan ekonomi 2022 sebesar 5,2% bisa ambyar.

Kita sepakat bahwa kunci semua persoalan ini adalah pemulihan ekonomi. Jika sasarannya adalah mendorong pengucuran kredit, keran kredit akan tetap mampat bila ekonomi tak juga pulih, bahkan dengan suku bunga lebih rendah sekalipun. Jika tujuannya adalah menjaga daya beli masyarakat, daya beli bakal tetap terpuruk bila masyarakat tak punya uang dan penghasilan. Jika tujuannya adalah memutar roda dunia usaha, apa yang mau diputar bila  permintaan  tetap lesu?

Karena itu, BI bersama pemerintah harus mengakselerasi pemulihan ekonomi, di antaranya dengan menggenjot penyerapan anggaran program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN). Hingga 13 Mei lalu, realisasi anggaran PC-PEN baru sekitar Rp 80,79 triliun atau cuma 17,73% dari pagu Rp 455,62 triliun.

Program PC-PEN adalah bumper yang kokoh untuk melindungi perekonomian nasional dari krisis akibat pandemi Covid-19.  Indonesia harus berpacu dengan waktu. Agar pemulihan ekonomi berlangsung akseleratif dan berkelanjutan, program PC-PEN harus dikombinasikan dengan pelonggaran mobilitas. Mustahil ekonomi pulih bila mobilitas masyarakat  dibatasi.

Kita yakin  jika perekonomian nasional cepat pulih, guncangan eksternal, terutama yang berasal dari inflasi dan kenaikan suku bunga global, tak akan membuat ekonomi Indonesia goyah, limbung, apalagi sampai terjengkang.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN