Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonomi Indonesia merosot akibat pandemi Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Ekonomi Indonesia merosot akibat pandemi Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Ekonomi Kita Masih Kokoh

Sabtu, 8 Agustus 2020 | 23:50 WIB
Investor Daily

Pandemi Covid-19 telah menimbulkan kerusakan yang dahsyat di bidang ekonomi. Ribuan perusahaan tutup atau mengurangi jam kerja sejak corona merebak padaMaret silam. Sekitar 3 juta orang telah di-PHK atau dirumahkan dan jutaan lainnya kehilangan penghasilan.

Gara-gara Covid, jumlah penganggur pada akhir tahun ini diprediksi membengkak menjadi 10-11 juta orang dibanding 6,88 juta orang padaFebruari lalu. Jumlah penduduk miskin diperkirakan menggelembungmenjadi 29-31 juta orang dibanding 26,42 juta orang pada Maret lalu. Kerusakan akibat corona juga tercermin pada pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Pada kuartal II-2020, perekonomian nasional secara tahunan (year on year/yoy) dan kuartalan (quarter to quarter/q to q) masing-masing terkontraksi 5,32% dan 4,19%.

Seluruh PDB pengeluaran tumbuh negatif. Konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 58%, mengalamikontraksi 5,51%. Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor yang berkontribusi 31% dan 16%, juga minus 8,61% danminus 11,66%. Begitu pula impor, konsumsi pemerintah, dan konsumsi lembaga nonprofit rumahtangga (LPNRT), masing-masing minus 16,96%, minus 6,90%, dan minus 7,76%.

Cadangan devisa Januari 2019-Juli 2020
Cadangan devisa Januari 2019-Juli 2020

Kinerja PDB kuartal II-2020 merupakan yang terburuk sejak kuartal I-1999. Itu sebabnya, banyak kalangan merasa khawatir ekonomi Indonesia pada kuartal III tahun ini kembaliterpuruk. Bila itu terjadi, berarti perekonomian nasional bakal terjerumus ke dalam jurang resesi.

Namun, kekhawatiran itu sepertinya tidak akan terbukti jika merujuk fundamental ekonomi yang masih lumayan kokoh. Kendati investor asing selama tahun berjalan (year to date/ytd) membukukan jual bersih (net sell) Rp 143,72 triliun di pasar finansial domestik –Rp 22,79 triliun di antaranya di pasar saham--nilai tukar rupiah tetap terjaga di level Rp 14.500-14.600 per dolar AS, jauh lebih kuat dibanding Rp 16.741 saat pasar finansial bergejolak pada 2 April lalu.

Risiko di pasar finansial dalam negeri juga terus berkurang. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun kini turun ke level 6,76%. Begitu pula premi Credit Default Swaps (CDS) Indonesia berjangka waktu lima tahun, turun ke level 106,81 bps per 6 Agustus 2020 dari 113,65 bps pada 31 Juli silam.

Indikator lain yang cukup melegakan adalah laju inflasi. Berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), inflasi bulanan (month to month/mtm) padaAgustus ini diperkirakan mencapai 0,01%. Kondisi itu menyiratkan harapan bahwa daya beli masyarakat mulai naik setelah pada Juli terjadi deflasi 0,10% yang mengindikasikan anjloknya daya beli.

Net buy (Net sell) asing
Net buy (Net sell) asing

Tak kalah melegakan, posisi ca dangan devisa pada akhir Juli 2020 meningkat dibanding bulan sebelumnya dari US$ 131,7 miliar menjadi US$ 135,1 miliar. Meski lebih banyak dipengaruhi penerbitan global bond dan penarikan pinjaman peme rintah, meningkatnya cadangan devisa tetap menggembirakan, terutama bila dikaitkan dengan stabilitas nilai tukar.

Fundamental ekonomi nasional yang masih kokoh tak hanyamemadamkan kekhawatiran kita terhadap kemungkinan resesi. Indikator- indikator positif itu juga mengobarkan optimisme kita bahwa perekonomian negeri ini segera menggeliat, bangkit, dan berlari, sehingga Indonesia lolos dari belenggu Covid-19, yang hingga Jumat (7/8) pukul 12.00 WIB telah merenggutnyawa 5.593 orang.

Optimisme bahwa Indonesia segera ‘merdeka’ dari pandemi didukung komitmen kuat pemerintah. Agar Indonesia tidak mengalami gelombang kedua (second wave) pandemi seperti negara-negara lain, pemerintah akan menjalankan pemulihan ekonomi nasional secara simultan dengan penanganan Covid-19. Artinya, relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan tetap diikuti protokol kesehatan yang ketat.

Keputusan pemerintah mengintegrasikan penanganan ekonomi dengan penanganan   Covid sudah tepat. Gelombang kedua pandemic Covid-19 tengah menghantui banyak negara bersamaan dengan dibukanya pembatasan wilayah (lockdown) untuk mendorong perekonomian. Indonesia harus belajar dari pengalaman buruk Negara-negara lain yang tidak hati-hati membuka kembali ekonominya.

Pemerintah juga berjanji akan all out merealisasikan belanja APBN senilai Rp 1.475,7 triliun pada kuartal III dan IV demi menghindarkan perekonomian nasional dari ju rang resesi.

Selain itu, pemerintah menyiapkan berbagai bantuan sosial (bansos) tambahan, termasuk bansos bagi 13,8 juta pekerja berpendapatan di bawah Rp 5 juta per bulan, dengan anggaran sekitar Rp 33 triliun. Belanja pemerintah (APBN), di satu sisi, dan tambahan bansos, di sisi lain, adalah duet yang sangat ideal sebagai stimulan. Keduanya diharapkan ampuh menggerakkan roda ekonomi yang kini macet akibat tersandera pandemi.

Kita makin optimistis karena Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bertekad akan terus menyeleraskan kebijakan-kebijakan fiscal pemerintah dengan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sektor keuangan yang dijalankan BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Tentu saja kita meminta agar komitmen, tekad, dan janji-janji itu secepatnya direalisasikan. Bangsa ini sedang berlomba dengan angka kematian, pengangguran, dan kemiskinan.

Sekokoh apa pun fundametal ekonomi, jika para pengambil kebijakan terlambat melangkah, akibatnya bisa fatal. Memang benar, pada akhirnya, nasib bangsa ini ditentukan oleh aksi, bukan janji.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN