Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi asuransi. Sumber: bumn.go.id

Ilustrasi asuransi. Sumber: bumn.go.id

Empati di Hari Asuransi

Senin, 19 Oktober 2020 | 21:11 WIB
Investor Daily

Hari Asuransi, 18 Oktober 2020, dirayakan pada saat pandemi Covid-19 sedang meningkat dan megaskandal Asuransi Jiwasraya membetot perhatian publik. Lima terdakwa divonis penjara seumur hidup. Sebuah hukuman berat yang tak pernah di alami para pengelola asuransi nasional sebelumnya.

Peringatan Hari Asuransi membuka kembali ingatan dan kesadaran kita tentang eksistensi asuransi, persepsi publik terhadap asuransi, dan respons perusahaan asuransi terhadap nasabahnya.

Kasus Jiwasraya dan sejumlah kasus asuransi yang kini sedang terjadi perlu menjadi perhatian semua pelaku bisnis asuransi dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Penanganan yang baik terhadap kasus asuransi akan meningkatkan minat masyarakat terhadap asuransi. Penetrasi dan densitas asuransi jiwa di Indonesia masih sangat rendah.

Penetrasi adalah perbandingan polis asuransi terhadap produk domestik bruto (PDB). Sedang densitas adalah pengeluaran per penduduk selama setahun untuk asuransi. Penetrasi asuransi jiwa di Indonesia per Juli 2020, demikian data OJK, baru 1,1%.

Sedang densitas baru sebesar Rp 554.970. Kita boleh berbangga sebagai anggota G-20, Negara dengan PDB terbesar. Tapi, densitas Indonesia di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand yang tidak masuk G-20.

Jumlah penduduk Indonesia yang memiliki polis asuransi jiwa baru 17,4 juta orang atau 16 orang per satu polis. Jika ditambah asuransi kumpulan, jumlah pemegang polis 30,2 juta atau sembilan orang satu polis.

Dengan jumlah pemegang polis, penetrasi, dan densitas asuransi yang masih minim, apa yang salah dengan masyarakat Indonesia? Apakah benar, umumnya masyarakat Indonesia tidak memahami dan menyadari pentingnya asuransi? Apakah mereka cuek terhadap masa depan mereka?

Tingkat literasi keuangan di Indonesia masih rendah seperti ditunjukkan hasil Survei Nasional Literasi Keuangan yang dilakukan OJK tahun 2019. Indeks Literasi Asuransi 19,4%, lebih rendah dari Indeks Literasi Perbankan yang mencapai 36,12%. Lebih dari 80% penduduk Indonesia belum memahami pentingnya asuransi bagi kehidupan mereka.

Di Hari Asuransi ini, kesalahan tidak cukup hanya ditimpakan kepada masyarakat. Perusahaan asuransi, para agen asuransi, manajer investasi, dan regulator perlu mengintrospeksi diri. Sejumlah kasus hukum yang terjadi di perusahaan asuransi sangat memukul nasabah dan itu sudah cukup menggerus kepercayaan masyarakat.

Nasib tiga juta nasabah AJ Bumiputra belum jelas hingga kini. Klaim yang sudah jatuh tempo beberapa tahun terakhir belum dibayar. Tunggakan klaim asuransi berbentuk mutual ini mencapai Rp 5,3 triliun dan jumlahnya bakal membengkak hingga Rp 9,6 triliun hingga akhir 2020.

Setahun sebelum pandemi Covid-19, Indonesia digemparkan oleh megaskandal Asu ransi Jiwasraya. Akibat korupsi dan salah kelola selama tahun 2008-2018, satu-satunya asuransi BUMN ini didera kerugian hingga Rp 16,8 triliun seperti diungkapkan dalam hasil audit BPK.

Menjadi pertanyaan, apakah asset recovery bisa mencapai 100% atau minimal 80%? Dalam audit, aset Jiwasraya pada akhir 2019 sebesar Rp 18,4 triliun. Aset itu kini dalam sitaan Kejaksaan Agung. Sebagian besar aset asuransi berupa saham dan reksa dana yang saat ini harganya sedang anjlok. Jika dipaksa jual, kerugian akibat investasi di saham bisa mencapai Rp 4,65 triliun dan kerugian akibat investasi di reksa dana mencapai Rp 12,16 triliun.

Pengelolaan aset finansial ini sangat penting dan menentukan tingkat pengembalian mengingat kewajiban Jiwasraya mencapai Rp 37 triliun. Untuk menangani premi nasabah Jiwasraya, pemerintah membentuk asuransi jiwa baru bernama Indonesia Finansial Group (IFG) Life.

Dengan suntikan dana segar Rp 22 triliun, IFG Life akan menjadi perusahaan asuransi jiwa milik negara yang akan mengambil alih semua portofolio Jiwasraya. Portofolio yang dialihkan ke IFG Life adalah portofolio bersih, portofolio yang sudah direstrukturisasi.

Selain Bumiputra dan Jiwasraya kini ada kasus Asuransi Jiwa Wanaartha. Umumnya, asuransi ini bermasalah karena salah kelola, tidak mengindahkan regulasi di bidang asuransi dan pasar modal, serta abai dalam menerapkan governance atau tata kelola. Masalah asuransi jiwa kian meningkat saat perusahaan asuransi dibolehkan menjual unit link, yakni produk asuransi yang memberikan proteksi sekaligus menawarkan kenaikan nilai investasi. Produk unit link cukup merebut hati nasabah dan mendongkrak nilai premi.

Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukkan, kontribusi unit link mencapai Rp 27,2 triliun atau 61,2% terhadap total premi asuransi jiwa pada semester pertama 2020. Produk tradisional --yang hanya mengandalkan penyimpanan dana premi di deposito-- kian menurun.

Setelah unit link gencar dipasarkan awal tahun 2000-an, pada awal dekade terakhir, lahir produk baru yang disebut saving plan. Asuransi Jiwasraya pada 8 Desember 2012 mendapatkan izin untuk memasarkan JS Protection Plan.

Banyak perusahaan asuransi jiwa yang kini menjual produk saving plan. Produk saving plan menyedot minat nasabah kakap. Tidak sedikit nasabah bank, deposan besar yang mengalihkan dananya dari bank ke saving plan. Karena saving plan memberikan janji return di atas bunga deposito, bahkan tingkat return itu pun dijanjikan fixed.

Ketika harga saham dan obligasi turun, nilaisaving plan pun ikut turun. Jika sampai di sini saja, tak ada regulasi yang dilarang. Yang men jadi masalah adalah rekayasa pembentukan harga saham. Inilah yang terbukti dilakukan manajer investasi Jiwasraya.

Dalam kasus Jiwasraya, lima orang yan g ter libat sudah divonis penjara seumur hidup. Mereka adalah mantan Dirut Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan, Komut PT Trade Alam Minera Tbk Heru Hidayat, dan Dirut PT Hanson International Tbk Benny Tjokro.

Kita mengapresiasi langkah pemerintah menyelamatkan dana nasabah Jiwasraya sekaligus mengharapkan kepada Kejaksaan untuk proses hukum. Diharapkan, kasus Ji wasraya memberikan efek jera kepada para pengelola asuransi jiwa dan manajer investasi. Masyarakat pun perlu diberikan pemahaman bahwa kasus asuransi jiwa hanya terjadi di sejumlah perusahaan asuransi. Umumnya, perusahaan asuransi dalam kondisi bagus dan memiliki tata kelola yang baik.

Jangan sampai nila setitik menghancurkan susu sebelanga. Pandemi Covid-19 perlu dijadikan momentum oleh perusahaan asuransi untuk melakukan sosialisasi dan edukasi. Semua janji perlu direalisasikan. Tidak boleh ada kesan asuransi hanya memberikan harapan semu. Lebih dari itu, saat masyarakat kehilangan pekerjaan, pendapatan dan daya beli menurun, perusahaan asuransi perlu menunjukkan empati.

Ketika pemegang polis positif Covid mem butuhkan perawatan dan pengobatan, perusahaan asuransi perlu memberikan bantuan. Bantuan yang diberikan perusahaan asuransi jiwa tidak terbatas pada perjanjian dalam polis.

Di saat virus mematikan itu menular dengan cepat, perusahaan asuransi perlu ikut memberikan solusi bagi pemegang polis. Ada bantuan perawatan dan pengobatan yang diberikan. Empati seperti ini merupakan bantuk promosi terbaik yang bisa merebut simpati publik. Bukan hanya pemegang polis, masyarakat pun akan menyadari pentingnya asuransi bagi masa depan mereka. Selamat Hari Asuransi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN