Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek pertambangan Adaro. Foto: DEFRIZAL

Salah satu proyek pertambangan Adaro. Foto: DEFRIZAL

ESG Percepat Pemulihan

Rabu, 18 November 2020 | 07:00 WIB
Investor Daily

investor.id


 

Meledaknya pandemi baru Covid-19 merupakan peringatan alam bahwa manusia tidak bisa hanya memikirkan kepentingan sendiri. Penerapan standar Environment, Social and Governance (ESG) pun menjadi keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar dalam operasi perusahaan.

Selain meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan planet rumah kita bersama agar pandemi segera diatasi dan tak terulang, ESG mempromosikan kewajiban menjaga hubungan sosial. Semua aktivitas korporasi harus mempunyai dampak positif kepada masyarakat.

ESG juga mendorong dilaksanakannya kegiatan perusahaan dengan betul-betul mengimplementasikan governance atau tata kelola yang baik. Konsep good corporate governance ini terdiri atas lima prinsip, yakni transparency, accountability, responsibility, independency and fairness.

Prinsip akuntabilitas mencakup kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban perusahaan yang efektif. Prinsip akuntabilitas ini memberi kejelasan hak dan kewajiban antara pemegang saham, dewan direksi, dan dewan komisaris. Dalam hal ini, suatu kinerja harus dapat dikelola dengan tepat dan terukur untuk melihat kesinambungan antara proses perencanaan, organisasi, pelaksanaan, serta evaluasi sesuai tujuan perusahaan.

Sedangkan prinsip tanggung jawab mencakup pengelolaan perusahaan yang sesuai peraturan dan prinsip korporasi yang sehat. Ketaatan tidak terbatas terhadap aturan perundang-undangan atau hukum, namun juga sesuai prosedur operasi standar (standard operating procedure/SOP) yang sudah dibuat sendiri. Ini untuk memastikan mulai dari terjaminnya keselamatan pekerja, kesehatan pekerja, hingga pembayaran pajak kepada negara.

Kembali ke ESG, Indonesia ternyata masih memprihatinkan, baru peringkat ke-36 di dunia. Kita masih berada jauh di bawah negara-negara tetangga Asean, seperti Filipina di posisi ke-30, Malaysia ke-22, dan bahkan Thailand sudah di peringkat ke-9. Artinya, masih banyak yang harus dilakukan untuk memperbaikinya, lewat berbagai kebijakan terobosan.

Apalagi, kita sudah delapan bulan sama-sama menderita terpukul munculnya pandemi Covid-19 yang merebak pertama kali di Wuhan, RRT, yang tak lepas dari akibat dosa eksploitasi alam yang berlebihan, imbalance. Bumi menjadi terkilir, dan kita yang semua hidup di dalamnya menjadi sengsara, baik yang kaya maupun yang miskin, baik UMKM maupun korporasi raksasa. Meledaknya pandemi ini harus menyadarkan adanya urgensi untuk ke depan menjaga lingkungan, menjaga kebersihan, tidak sembarangan membuang sampah, ataupun land clearing murah dengan membakar lahan.

Oleh karena itu, setidaknya BUMN maupun perusahaan swasta besar seperti para emiten di Bursa Efek Indonesia harus didorong untuk melaksanakan ESG. Mereka sebagai pemimpin bisnis di berbagai sektor ini harus menjadi motor peningkatan ESG di Tanah Air.

Oleh karena itu, pemerintah maupun pihak terkait seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) harus mendorong emiten melaksanakan ESG dengan baik. Ini misalnya dengan memberikan insentif menarik untuk mendorong emiten menyampaikan laporan terkait pelaksanaan tanggung jawab environment, social and governance.

Saat ini, beberapa emiten besar seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memang sudah menginisiasi penyampaian laporan ESG. Namun, masih sangat banyak yang belum men-disclose pelaporan ESG-nya karena berbagai kendala.

Oleh karena itu, insentif yang menarik perlu diberikan agar mereka tidak lagi menunda-nunda hal yang semestinya sudah menjadi kewajiban tersebut. Ini misalnya dengan memberikan tambahan kredit modal kerja tanpa bunga di tengah pandemi, yang dimasukkan dalam anggaran Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN) yang hingga kini penyerapannya masih lambat dan terlambat, dari total dana stimulus yang sebenarnya juga masih sangat kecil dibanding negara lain. Dana yang dialokasikan total cuma Rp 695,2 triliun tahun ini, tak sampai 10% produk domestik bruto (PDB) kita.

Padahal, selain bisa ikut mendorong pemulihan ekonomi, ESG yang dilaksanakan dengan baik juga berarti menjaga keberlangsungan perusahaan, serta mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang telah menyebabkan jutaan orang menjadi pengangguran dan menambah kemiskinan. Di sisi lain, para pelaku usaha yang memiliki manajemen resources yang memperhatikan lingkungan hingga tanggung jawab sosial yang baik, dipastikan tak hanya menjamin kecukupan bahan baku dan rantai pasoknya.

Lebih dari itu, mereka bisa membuka pasar yang lebih luas, termasuk penetrasi ekspor di negara-negara maju yang masyarakatnya sangat peduli lingkungan. Para buyer di negara-negara kaya itu menginginkan barang-barang diproduksi dengan memenuhi prinsip ESG.

Artinya, langkah itu juga merupakan strategi tepat dan efektif untuk menjamin sustainability pertumbuhan dan profit perusahaan. Hal ini juga akan meningkatkan daya tarik, memikat investor menanamkan modal guna memperkuat ekspansi perusahaan.

 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN